Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya merusak lingkungan, tetapi juga berdampak pada kesehatan masyarakat akibat asap yang menyebar ke permukiman.
Paparan asap kebakaran hutan dapat memicu batuk, iritasi saluran pernapasan, hingga sesak napas. Untuk membantu warga yang terdampak, Pemerintah Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mengerahkan bus oksigen sebagai layanan bantuan pernapasan secara langsung.
Bus Oksigen Bantu Warga Terdampak Kebakaran Hutan
Pemerintah Kota Palangka Raya menghadirkan bus oksigen untuk mempermudah masyarakat mendapatkan bantuan pernapasan selama kebakaran hutan dan lahan berlangsung. Kepala Dinas Kesehatan Kota Palangka Raya, Riduan, menjelaskan bahwa layanan ini merupakan pengembangan dari program Rumah Oksigen yang sebelumnya telah dijalankan selama karhutla.
Melalui bus oksigen, pemerintah berupaya mendekatkan layanan kesehatan kepada masyarakat yang membutuhkan. Layanan ini menggunakan sistem jemput bola sehingga bantuan dapat menjangkau lokasi yang terdampak asap tebal.
Awalnya, pemerintah menyiapkan dua bus oksigen. Namun, tingginya antusiasme masyarakat dalam dua hari pertama membuat jumlah armada ditambah menjadi empat bus. Selama enam hari operasional, keempat bus tersebut telah melayani 289 warga.
Setiap bus oksigen dilengkapi enam tabung oksigen dan didukung tenaga kesehatan. Layanan ini beroperasi setiap Senin hingga Jumat, pukul 08.00โ16.00 WIB, dengan rute yang telah ditentukan. Meski demikian, petugas dapat mengubah jalur perjalanan sesuai kondisi lapangan, terutama ketika menemukan wilayah dengan kepungan asap yang lebih tebal.
Masyarakat juga dapat meminta bantuan secara langsung. Seluruh layanan oksigen diberikan secara gratis. Pemerintah turut menyediakan obat-obatan bagi warga yang mengalami keluhan seperti batuk dan pilek.
Rumah Oksigen Jadi Upaya Penanganan Dampak Karhutla

Penanganan di dalam bus oksigen | Foto: (brt_palangkaraya_dishub | Instagram)
Sebelum mengerahkan bus oksigen, Pemerintah Kota Palangka Raya telah menyediakan Rumah Oksigen untuk membantu masyarakat yang mengalami gangguan pernapasan akibat kebakaran hutan dan lahan.
Kehadiran Rumah Oksigen menjadi salah satu upaya pemerintah dalam memberikan bantuan kepada warga di tengah pencemaran udara. Program tersebut kemudian dikembangkan melalui bus oksigen agar layanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih dekat.
Kedua layanan ini berfokus pada kebutuhan warga yang mengalami keluhan kesehatan akibat asap karhutla. Dengan adanya bus oksigen, masyarakat tidak hanya bergantung pada layanan yang berada di satu lokasi karena petugas dapat mendatangi wilayah yang membutuhkan bantuan.
Upaya Pemerintah Menangani Kebakaran Hutan dan Asap
Selain menyediakan bantuan pernapasan, pemerintah juga melakukan berbagai upaya untuk menangani kebakaran hutan dan lahan di sejumlah wilayah Indonesia.
Berdasarkan data Badan Komunikasi Pemerintah Republik Indonesia per Rabu (21/10), sebanyak 67.933 personel gabungan dikerahkan. Personel tersebut terdiri atas unsur TNI, Polri, BPBD, pemadam kebakaran, Basarnas, Manggala Agni, relawan, dan berbagai kelompok terkait lainnya.
Pemerintah juga melakukan operasi modifikasi cuaca di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Dalam operasi udara, upaya pemadaman dilakukan melalui patroli serta penggunaan helikopter untuk water bombing atau penyiraman air dari udara.
Penegakan hukum terhadap pembakaran hutan dan lahan turut dilakukan. Masyarakat yang menemukan titik api, asap mencurigakan, atau tindakan pembakaran lahan dapat melaporkannya melalui Posko Karhutla di nomor 021-5704618 atau +628-131-00-35000.
Cara Menjaga Kesehatan di Tengah Asap Kebakaran Hutan
Masyarakat perlu melindungi diri dari paparan asap kebakaran hutan karena asap mengandung gas dan partikel halus, termasuk PM2.5, yang dapat masuk jauh ke saluran pernapasan. Paparan tersebut berisiko menyebabkan iritasi mata, batuk, serta memperburuk kondisi penderita penyakit paru-paru dan jantung.
Salah satu langkah yang dapat dilakukan adalah memantau Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) melalui informasi resmi pemerintah. Ketika kualitas udara berada dalam kategori tidak sehat atau lebih buruk, masyarakat sebaiknya membatasi aktivitas di luar ruangan, terutama olahraga dan kegiatan fisik berat.
Jika harus beraktivitas di luar, gunakan respirator partikulat seperti N95, KN95, atau KF94 dengan ukuran yang sesuai agar menempel rapat pada wajah. Masker ini membantu menyaring partikel halus, tetapi tidak melindungi sepenuhnya dari seluruh gas berbahaya dalam asap.
Di rumah, tutup pintu dan jendela ketika polusi udara meningkat. Jika tersedia, gunakan alat pembersih udara dengan filter HEPA yang sesuai dengan luas ruangan. Hindari pula merokok dan membakar sampah agar tidak menambah pencemaran udara di dalam rumah.
Anak-anak, lansia, ibu hamil, serta penderita asma dan penyakit jantung atau paru-paru perlu mendapat perhatian lebih. Apabila mengalami sesak napas berat, nyeri dada, atau gejala yang semakin parah, segera cari pertolongan medis.


