Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Dalam rapat terbatas di Istana Merdeka pada Senin (12/10/2026), Kepala BNPB menyampaikan bahwa masih terdapat 639 hektare kawasan yang terbakar. Wilayah yang terdampak paling parah berada di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan.
Salah satu tantangan dalam pemadaman karhutla adalah kebakaran yang terjadi di lahan gambut. Tanah ini dapat terbakar hingga ke lapisan bawah permukaan sehingga api sulit ditemukan dan dipadamkan, terutama saat musim kemarau.
Padahal, gambut dikenal mampu menyimpan banyak air ketika kondisinya tetap basah. Namun, saat mengering, bahan organik di dalamnya menjadi mudah terbakar. Lantas, bagaimana gambut bisa terbakar?
Mengenal Tanah Gambut
Tanah gambut (organosol) adalah jenis tanah yang terbentuk dari tumpukan sisa-sisa tumbuhan, seperti akar, daun kering, dan ranting yang membusuk secara tidak sempurna selama ribuan tahun.
Tanah ini umumnya ditemukan di kawasan rawa yang tergenang air dan memiliki kadar oksigen rendah. Kondisi tersebut memperlambat proses pembusukan bahan organik hingga membentuk lapisan gambut yang kaya akan karbon.
Di Indonesia, tanah gambut tersebar di sejumlah wilayah, seperti Sumatra Selatan, Riau, Jambi, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Papua bagian selatan.
Mengapa Api Bisa Menyala di Bawah Tanah Gambut?
Tanah gambut mengandung banyak bahan organik yang dapat menjadi sumber bahan bakar ketika kondisinya mengering. Saat musim kemarau berlangsung cukup lama, kadar air dalam gambut menurun sehingga lapisannya menjadi lebih mudah terbakar.
Kondisi tersebut dapat diperparah oleh aktivitas manusia, seperti pembuatan saluran drainase yang mengalirkan air keluar dari lahan. Akibatnya, permukaan air tanah menurun dan lapisan gambut kehilangan kelembapannya. Gambut yang semula basah pun menjadi lebih rentan terbakar.
Ketika api muncul akibat sumber penyulutan tertentu, pembakaran tidak hanya terjadi pada vegetasi di permukaan. Api juga dapat merambat ke lapisan gambut yang kering melalui proses pembakaran membara (smoldering). Proses ini berlangsung perlahan dan menghasilkan panas serta asap tanpa selalu disertai nyala api yang terlihat.
Risiko kebakaran semakin besar ketika terdapat rumput, semak, ranting, dan sisa tumbuhan kering di sekitar lokasi. Material tersebut dapat membantu api menyebar di permukaan sebelum menjalar ke lapisan gambut di bawah tanah.
Mengapa Kebakaran Gambut Sulit Dipadamkan?
Salah satu kendala utama pemadaman kebakaran gambut adalah keberadaan bara yang tersembunyi di bawah permukaan. Petugas tidak selalu dapat menemukan titik api hanya dengan mengamati kondisi lahan dari atas. Akibatnya, bara yang masih menyala bisa luput dari pengamatan dan terus membakar lapisan gambut di sekitarnya.
Selain itu, gambut yang sangat kering dapat bersifat hidrofobik atau menolak air. Kondisi ini membuat air yang disiramkan dari permukaan sulit meresap ke bagian tertentu dari lapisan gambut yang terbakar. Karena itu, membasahi permukaan saja belum tentu cukup untuk memadamkan api di bawah tanah.
Ketebalan lapisan gambut juga menjadi tantangan tersendiri. Di sejumlah wilayah, lapisannya dapat mencapai beberapa meter sehingga pemadaman perlu menjangkau bagian yang terbakar, bukan hanya permukaannya. Hal ini membutuhkan air dalam jumlah memadai dan metode penanganan yang sesuai dengan kondisi lahan.
Bara api juga dapat bertahan meskipun permukaan tanah terlihat sudah padam. Selama masih terdapat bahan bakar dan kondisi yang mendukung pembakaran, bara berpotensi menyala kembali. Oleh karena itu, pemeriksaan lanjutan diperlukan untuk memastikan tidak ada titik panas yang tersisa.

Buah Sawit | Foto: (Jirolupat Malioboro | Pexels)
Tanaman yang Cocok Ditanam di Tanah Gambut
Tanah gambut umumnya memiliki tingkat keasaman yang tinggi sehingga tidak semua tanaman dapat tumbuh dengan baik di lahan ini. Meski begitu, beberapa jenis tanaman tetap bisa dibudidayakan dengan pengelolaan lahan yang sesuai. Berikut beberapa contohnya:
- Kelapa sawit
- Karet
- Tanaman palawija tertentu
- Tanaman buah tropis, seperti rambutan, pisang, dan durian
Pentingnya Menjaga Kelembapan Lahan Gambut
Kebakaran gambut dapat terjadi ketika lapisannya mengering dan bahan organik di dalamnya terbakar. Api yang merambat ke bawah permukaan membuat titik kebakaran sulit dideteksi dan proses pemadaman menjadi lebih rumit.
Untuk mengurangi risiko kebakaran, kelembapan lahan gambut perlu dijaga, terutama saat musim kemarau.
Pemerintah juga perlu memperkuat upaya pencegahan, pemantauan, dan penanganan kebakaran, termasuk pengelolaan tata air di kawasan gambut.


