lima abad filosofi humanisme religius ini rahasia sma kolese loyola semarang jadi terbaik - News | Good News From Indonesia 2026

Lima Abad Filosofi Humanisme Religius, Ini Rahasia SMA Kolese Loyola Semarang Jadi Terbaik

Lima Abad Filosofi Humanisme Religius, Ini Rahasia SMA Kolese Loyola Semarang Jadi Terbaik
images info

SMA Kolese Loyola Semarang


Tahun 2022, nama SMA Kolese Loyola Semarang mencuat di jajaran 1000 sekolah terbaik nasional versi nilai UTBK. Sekolah swasta ini bertengger di peringkat 28 se-Indonesia dengan nilai total 611,291, sekaligus menjadi SMA terbaik di Kota Semarang.

SMA swasta nomor satu di kota itu, mengungguli SMA Negeri 03 Semarang di posisi 114 dan SMA Sedes Sapientiae Jambu di posisi 116, menurut data Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT) yang dirilis 26 Agustus 2022.

Prestasinya tak sampai di situ. Tahun ini, SMA Kolese Loyola Semarang mengirim salah satu siswanya berlaga di ajang olimpiade kecerdasan buatan tingkat dunia yang diselenggarakan Agustus mendatang.

“Proficiat kepada, Matthew Hutama Pramana (XII-H/27) yang berhasil lolos Pembinaan Tahap 2 dan menjadi delegasi Indonesia pada International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI) di Kazakhstan pada Agustus 2026,” sebagaimana dikutip dari laman resminya.

baca juga

Berawal dari Krisis Tenaga Pendidik di Eropa

Eksistensi dan panen prestasi di SMA Kolese Loyola Semarang sebenarnya buah dari komitmen dan konsistensi para pendiri. Sejarahnya bisa ditarik hingga ke Spanyol abad ke-16.

Kata "kolese" sendiri berasal dari bahasa Latin: cum (bersama) dan leggere (membaca atau belajar). Menurut sejarah resmi yang dipublikasikan sekolah, konsep ini lahir ketika Santo Ignatius Loyola dan rekan-rekannya di Serikat Yesus kesulitan mencari tenaga muda terdidik untuk menopang tugas mereka yang kian berat.

Kala itu, solusinya adalah mendirikan pusat pendidikan sendiri.

Pusat pendidikan itu ternyata sukses besar. Banyak orang tua Eropa menitipkan anak mereka ke sekolah-sekolah Yesuit ini karena kualitas pendidikannya.

Ciri khas dari pendidikan itu adalah humanisme religius. Paham ini mengakui potensi dan kebebasan manusia, tetapi tetap menempatkannya sebagai bagian dari martabat manusia sebagai ciptaan Tuhan. Ini berbeda dari humanisme sekuler yang berkembang saat itu dan cenderung menolak agama.

Sampai Ignatius wafat pada 1556, sudah ada 40 kolese berdiri dengan semboyan Educatio Puerorum Reformatio Mundi, mendidik kaum muda adalah mereformasi dunia, sebagaimana tercatat dalam sejarah resmi sekolah.

baca juga

Muntilan, Titik Awal di Tanah Jawa

Kolese pertama di Indonesia berdiri di Muntilan pada 1910. Saat itu bernama Kolese Xaverius yang didirikan Pater Frans van Lith, SJ, sosok yang oleh murid-muridnya digambarkan sebagai Belanda berhati Jawa.

Pendirian sekolah ini dilatarbelakangi oleh perasaaan gelisah melihat ketimpangan sosial di masa kolonial. Betapa mirisnya ketika orang Jawa menjadi budak di tanah leluhurnya sendiri sementara orang Belanda jadi tuan.

Lewat pendidikannya, van Lith ingin murid-murid pribumi bisa "duduk sama rendah berdiri sama tinggi" dengan orang Belanda. Maksudnya, masyarakat bisa menguasai bahasa dan budaya modern tanpa kehilangan jati diri.

Tujuan van Lith bisa dikatakan berhasil. Dari Kolese Xaverius, lahir sejumlah tokoh yang kelak jadi pahlawan nasional, di antaranya Mgr. Albertus Soegijapranata SJ (Uskup Agung pribumi pertama Indonesia), I.J. Kasimo (pendiri Partai Katolik Indonesia), dan Yos Sudarso, perwira TNI AL yang gugur dalam Pertempuran Laut Aru.

baca juga

Sekolah untuk Anak-Anak Gerilya

SMA Kolese Loyola sendiri baru lahir empat tahun setelah kemerdekaan, tepatnya Agustus 1949, didirikan Pater Jan van Waayenburg, SJ.

Pada masa itu, negara baru saja merdeka. Banyak tokoh birokrasi dan pendidikan Belanda pulang kampung akibat gejolak Perang Revolusi Kemerdekaan. Di sisi lain, banyak anak muda yang baru pulang dari medan gerilya 1945–1949 tak punya sekolah untuk melanjutkan hidup.

Dari keprihatinan itu, van Waayenburg mendirikan Canisius VHO, cikal bakal Kolese Loyola. Cita-citanya mulia. Sekolah ini diharapkan dapat membentuk pemimpin masa depan yang berani berkorban seperti kaum muda gerilyawan yang ia kagumi.

Sekolah ini mulanya menumpang di Bruderan Kalisari, satu kompleks dengan Gereja Katedral Randusari Semarang. Pada awal mula pendirian, siswa laki-laki dan perempuan masih digabung karena jumlahnya sedikit. Baru pada 1950 kelas putra pindah ke Jalan Karanganyar dan resmi menjelma Kolese Loyola.

Pada 1968, bagian putra dan putri berpisah resmi menjadi Loyola I dan Loyola II. Loyola II kemudian berganti nama jadi Sedes Sapientiae pada 1982, sementara cabang lain yang dikelola Suster Penyelenggaraan Ilahi berpisah pada 1973 dan menjadi SMA Kebon Dalem.

Kolese Loyola sendiri baru kembali menerima siswa putri secara resmi sejak 1968.

baca juga

Empat Nilai yang Bertahan Melintasi Zaman

Yang menarik, arah pendidikan Kolese Loyola terus disesuaikan dengan konteks zaman, tapi semangat dasarnya konsisten. Di era Orde Baru, sekolah ini diarahkan mencetak pejuang perintis yang peduli pada ketidakadilan pembangunan.

Memasuki milenium III, arah itu dirumuskan ulang jadi filosofi 4C: Competence (kompeten), Conscience (berhati nurani benar), Compassion (berkepedulian), dan Commitment (berkomitmen). Nilai keempat baru ditambahkan Serikat Yesus pada 2012.

Filosofi lama itu rupanya terus berbuah prestasi konkret. Selain menembus posisi 28 nasional pada pemeringkatan UTBK 2022. Posisi itu menjadikan SMA Kolese Loyola sebagai SMA terbaik ketiga se-Jawa Tengah setelah SMA Pradita Dirgantara dan MAN Insan Cendekia Pekalongan. Sekolah ini juga terus mencetak siswa berprestasi di bidang sains dan teknologi.

baca juga

Perlu dicatat, pemeringkatan UTBK 2022 itu dihitung dari kombinasi 60% nilai Tes Potensi Skolastik (TPS) dan 40% Tes Kemampuan Akademik (TKA), dengan syarat minimal 40 peserta UTBK lulusan tahun berjalan. Dari 23.657 sekolah dan 745.115 peserta UTBK 2022 se-Indonesia, hanya 3.381 sekolah yang masuk kriteria Top 1000.

Empat belas tahun setelah sistem 4C diterapkan, prestasi SMA Kolese Loyola makin lancar. Pada 2026, siswa kelas XII, Matthew Hutama Pramana, lolos ke Pembinaan Tahap 2 dan terpilih menjadi delegasi Indonesia di International Olympiad in Artificial Intelligence (IOAI) di Kazakhstan, Agustus 2026.

Sejumlah siswa lain juga menyabet juara di Lomba Peneliti Belia PUTech pada Mei 2026, di bidang lingkungan dan sosiologi.

Sekolah yang dulu didirikan untuk menampung anak-anak muda pulang perang kini menjadi rumah bagi calon peneliti dan kompetitor olimpiade internasional.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.