Tren corat coret saat perayaan kelulusan tingkat SMA tampak tidak lagi diminatimalah terlihat norak. Kini euforia kelulusan dirayakan dengan cara yang lebih sehat dan berdampak positif. SMA Kolese De Britto Yogyakarta misalnya, mereka memilih long march sambil membagikan sembako kepada warga.
Sabtu pagi, 9 Mei 2026, halaman SMA Kolese De Britto sudah dipenuhi ratusan siswa kelas XII yang baru saja mengikuti prosesi pengukuhan dan pelepasan resmi. Setelah sekolah secara simbolis mengembalikan mereka kepada orang tua, kegiatan penyisiran jalanan Yogyakarta itu dilakukan.
Sebanyak 288 siswa yang dinyatakan lulus 100% berjalan kaki menuju Tugu Pal Putih Yogyakarta dengan jarak tempuh sekitar 3,7 kilometer. Mereka melintasi Jalan Laksda Adisucipto, Simpang Empat Gejayan, Simpang Empat Gramedia, hingga Jalan Jenderal Sudirman sebelum tiba di kawasan Tugu.
Tak hanya penuh kegembiraan, perjalanan itu juga diliputi rasa haru. Sejumlah siswa membawa foto mendiang guru seni rupa mereka, David Muhejatun, serta dua rekan seangkatan, Andrew dan Deka, yang meninggal dunia saat masih duduk di kelas X.
Tradisi Bertahun-tahun sebagai Ucapan Terima Kasih Pernah Diterima di Yogyakarta
Rupanya, perayaan semacam ini bukan pertama kali dilakukan. Bagi siswa De Britto, long march menuju Tugu Jogja punya sejarah panjang di belakangnya.
Wakil Kepala Urusan Humas SMA Kolese De Britto Yogyakarta, Christophorus Danang Wahyu Prasetio, mengatakan kegiatan tersebut mulai muncul sekitar akhir 1990-an hingga awal 2000-an.
Awalnya, sekolah mencari cara lain untuk merespons budaya kelulusan yang identik dengan konvoi dan aksi corat-coret yang sering meresahkan masyarakat.
“Waktu itu banyak sekolah-sekolah yang ketika kelulusan, mereka corat-coret, terus konvoi, dan sebagainya. Hal itu kan mengganggu masyarakat umum dan tidak baik. Maka untuk meredam situasi itu, De Britto mencoba cara lain,” ujar Danang, dikutip dari Kompas.com.
Pilihan berjalan menuju Tugu Jogja juga punya makna simbolik yang kuat. Menurut Danang, siswa De Britto berasal dari berbagai daerah di Indonesia. Karena keberagamannya itu, sekolah kerap dijuluki Indonesia Mini.
Perjalanan menuju Tugu menjadi simbol rasa syukur para siswa karena pernah diterima, hidup, dan berkembang di Yogyakarta selama masa sekolah mereka.
“Ketika mereka berada di Jogja, ketika mereka lulus, jalan ke Tugu itu sebagai ungkapan syukur bahwa, ‘Aku sudah berada di Jogja, aku diterima di Jogja, aku berkembang di Jogja,’” kata Danang.
Ia juga menyebut long march tersebut menjadi bentuk nazar atau janji syukur para siswa setelah berhasil menyelesaikan pendidikan SMA.
Mabur Dhuwur Tumindak Ing Luhur
Tahun ini, kegiatan long march mengusung tema “Mabur Dhuwur Tumindak Ing Luhur”. Frasa bahasa Jawa itu dapat dimaknai sebagai ajakan untuk “terbang tinggi dengan perilaku yang luhur”.
Selain long march, para siswa membagikan sekitar 200 paket sembako berisi beras, minyak goreng, gula, telur, dan kecap kepada warga sekitar sekolah serta pekerja jalanan yang mereka temui.
Guru BK SMA Kolese De Britto sekaligus penanggung jawab kegiatan, Arintoko, mengatakan aksi sosial itu menjadi bagian dari pendidikan karakter yang ingin ditanamkan sekolah.
“Kegiatan ini merupakan implementasi dari nilai-nilai sekolah untuk senantiasa peduli pada sesama. Dengan membagikan paket sembako di sepanjang jalan, para siswa belajar bahwa kesuksesan akademik harus dibarengi dengan tindakan luhur di tengah masyarakat,” ujar Arintoko.
Long march yang melibatkan ratusan siswa itu juga mendapat pengawalan ketat dari kepolisian dan Dinas Perhubungan. Kapolsek Jetis, Kompol Sumalugi, memimpin langsung pengamanan di sejumlah titik jalan protokol untuk memastikan lalu lintas tetap berjalan lancar.
“Kami memberikan pengawalan dari titik keberangkatan hingga tujuan akhir di Tugu Jogja. Kami sangat menghargai kegiatan kelulusan yang diisi dengan hal positif seperti bakti sosial ini,” kata Sumalugi.
Setibanya di Tugu Pal Putih, para siswa tidak menggelar pesta besar. Mereka hanya melakukan dokumentasi angkatan dan menyanyikan Mars Kolese De Britto bersama-sama sebelum kembali ke sekolah dengan tertib.
Pada momen itu pula, para lulusan resmi bergabung dalam Ikatan Alumni Kolese De Britto melalui penyematan pin alumni oleh presiden alumni. Penyematan tersebut menjadi simbol bahwa relasi mereka dengan almamater tidak berhenti setelah kelulusan.
Sekolah berharap para lulusan De Britto mampu menjadi pribadi yang mandiri, reflektif, tangguh, dan memberi kontribusi nyata bagi masyarakat sesuai semangat “Ad Maiorem Dei Gloriam” atau demi kemuliaan Tuhan yang lebih besar.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


