pendaki pertama indonesia taklukkan gerbang kematian kisah heroik menaklukkan gunung eiger - News | Good News From Indonesia 2026

Pendaki Pertama Indonesia Taklukkan Gerbang Kematian! Kisah Heroik Menaklukkan Gunung Eiger

Pendaki Pertama Indonesia Taklukkan Gerbang Kematian! Kisah Heroik Menaklukkan Gunung Eiger
images info

Gunung Eiger/Wikipedia


Gunung Eiger di Swiss bukan sekadar gunung setinggi 3.967 meter. Bagi para pendaki dunia, Eiger merupakan simbol keberanian sekaligus mimpi buruk. Dinding utaranya, Nordwand, dijuluki “Murder Wall” atau Dinding Kematian karena telah merenggut puluhan nyawa sejak era 1930-an.

Medannya terkenal sangat ekstrem. Tebing batu kapur tua yang rapuh, hujan batu tanpa peringatan, lapisan es tipis yang licin, hingga cuaca yang dapat berubah dalam hitungan menit menjadikan Eiger sebagai salah satu gunung paling berbahaya di Eropa. Bahkan, banyak korban meninggal dunia yang sulit dievakuasi karena medan yang sangat berisiko.

Di balik reputasi mengerikan tersebut, terdapat kisah membanggakan dari Indonesia. Pada 9 Agustus 1986, Harry Suliztiarto bersama Mamay Salim dan tim berhasil mencapai puncak Eiger. Keberhasilan itu membuat mereka tercatat sebagai rombongan pendaki Indonesia pertama yang berhasil menaklukkan Gunung Eiger.

Harry mengatakan perjalanan menuju puncak tidak berjalan mulus. Ekspedisi pertama yang dilakukan pada 1985 justru berakhir gagal karena tim salah memperkirakan musim pendakian.

“Kita pikir Juni, Juli, Agustus itu sudah oke. Ternyata kita masuk Juli akhir ke sana masih winter. Tapi kita naik juga, tapi ada orang sana menyatakan jangan ambil daerah sini, ini daerah longsor,” ujar Harry.

Peringatan tersebut terbukti benar. Longsoran salju menghantam rombongan hingga ekspedisi terpaksa dibatalkan.

“Eh benar, saya mengambil Mamay masih hidup di longsoran. Jadi Mamay hilang. Tinggal saya sama Heri,” kenangnya.

Latihan Minus 30 Derajat hingga Tidur Bergantung di Tebing

Kegagalan pada 1985 tidak membuat tim menyerah. Sebelum kembali ke Swiss setahun kemudian, seluruh anggota menjalani persiapan yang jauh lebih matang. Mereka mengikuti tes psikologi, meningkatkan latihan fisik, hingga beradaptasi dengan suhu ekstrem menggunakan cold storagebersuhu minus 30 derajat Celsius.

“Kita masuk ke cold storage di Jakarta. Selama 24 jam kita didinginkan minus 30 derajat Celsius. Kita keluar ke Jakarta kulit kita pecah semua,” ungkap Harry.

Tak hanya itu, seluruh logistik juga dipersiapkan sendiri. Makanan dibuat dalam bentuk bubuk agar lebih ringan dibawa, kemudian ditimbang sesuai kebutuhan masing-masing dan dikemas menggunakan mesin pres. Persediaan tersebut disiapkan untuk memenuhi kebutuhan selama hampir tiga pekan.

Saat pendakian dimulai, tim menerapkan metode Alpine Style, yaitu membawa seluruh perlengkapan sejak awal tanpa kembali ke base camp. Strategi ini membuat beban menjadi lebih berat, tetapi perjalanan lebih efisien.

Selama sekitar 13 hari, mereka hidup di dinding Eiger. Tidur dilakukan dengan tempat tidur gantung yang dipasang di tebing, sedangkan air diperoleh dari lelehan es yang dimasak terlebih dahulu.

“Kita naik Eiger selama 13 hari, kita tidurnya gantung. Minumnya dari es yang meleleh, warnanya juga nggak cerah airnya tapi kita sikat aja,” kata Harry.

‘Batu Cari Nama’ dan Semangat Demi Merah Putih

Selain salju dan es, ancaman terbesar di Eiger adalah hujan batu yang terus menghantam jalur pendakian. Di kalangan pemanjat, kondisi tersebut dikenal dengan istilah “batu cari nama”.

“Ada istilah di sana, ada batu cari nama. Itu setiap jam ada batu jatuh dari atas. Begitu dia lewat kita nggak kena, wah bukan cari nama kita,” tutur Harry.

Menurut Harry, medan miring di Eiger justru lebih berbahaya dibanding dinding yang tegak lurus. Pendaki berada tepat di jalur jatuhnya batu sehingga risiko tertimpa jauh lebih besar.

Belum lagi bentuk Eiger yang melengkung membuat angin dingin membentuk lapisan es tipis di permukaan batu. Lapisan inilah yang sering menjadi penyebab kecelakaan. Tak heran jika gunung tersebut dijuluki Murder Wall.

“Eiger itu disebut Murder Wall, dinding kematian. Orang mereka yang menyebut, bukan kita. Semua kecelakaan terbesar ada di Eiger,” ujar Harry.

Meski mempertaruhkan nyawa, semangat membawa nama Indonesia membuat mereka terus melangkah hingga puncak. Mamay Salim mengatakan kekompakan tim dan rasa cinta kepada Tanah Air menjadi motivasi terbesar selama ekspedisi.

“Ada semangat satu kebersamaan di antara anggota tim, semangat demi negeri tercinta, demi Merah Putih, itulah yang memicu kita. Ya sudah, kita jalanin saja,” ujar Mamay.

Keberhasilan pada 9 Agustus 1986 menjadi tonggak penting dalam sejarah pendakian Indonesia. Hingga kini, Harry Suliztiarto dan tim masih dikenang sebagai pendaki Indonesia pertama yang berhasil menaklukkan Gunung Eiger, gunung yang dijuluki Gerbang Kematian.

Kisah mereka membuktikan bahwa keberhasilan di medan paling berbahaya sekalipun lahir dari persiapan matang, disiplin, kerja sama, dan keberanian membawa nama Merah Putih di panggung dunia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Rizky Kusumo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Rizky Kusumo.

RK
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.