Kebutuhan energi dunia yang terus melonjak serta ketidakpastian pasokan minyak fosil memaksa berbagai negara mempercepat alih teknologi menuju energi baru terbarukan.
Di tengah pergeseran peta energi tersebut, pengembangan bahan bakar nabati (biofuel) berbasis tanaman non-pangan muncul sebagai strategi. Hal ini bertujuan agar upaya penguatan ketahanan energi nasional tidak mengorbankan atau mengganggu pasokan bahan pangan masyarakat.
Pusat Riset Botani Terapan BRIN menyoroti potensi besar tanaman nyamplung (Calophyllum inophyllum) dalam Webinar Nasional Mahasiswa Pusat Kolaborasi Riset (PKR) Biofuel Nyamplung 2026. Pohon yang tumbuh subur di wilayah pesisir pada ketinggian 0–300 meter di atas permukaan laut ini memiliki keunggulan kompetitif yang sangat tinggi.
Pohon asli Indonesia ini sanggup bertahan hidup di lahan asin maupun tanah kritis, berbuah sepanjang tahun, serta mencatatkan angka panen mencapai 15 hingga 20 ton buah per hektare setiap tahunnya. Persentase ekstraksi atau rendemen minyak dari bijinya tercatat sangat pekat, yakni berkisar antara 40 hingga 85 persen.
"Karakteristik tersebut menjadikan nyamplung sebagai salah satu sumber bahan baku biodiesel dan bioavtur yang sangat menjanjikan," ujar Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Botani Terapan BRIN, Budi Leksono.
Olahan Nol Limbah dan Kualitas Berstandar SNI
Pemanfaatan komoditas ini tidak hanya terhenti pada pengambilan minyak di dalam bijinya. Seluruh sisa produksi dari pemrosesan minyak nyamplung dapat diolah kembali menjadi aneka produk turunan bernilai ekonomi tinggi. Potongan ampas dan tempurungnya bisa dikonversi menjadi briket arang, pelet biomassa, kompos, pakan ternak, racikan sabun, produk kosmetik, obat herbal, hingga cairan asap cair.
Pola pengelolaan terintegrasi ini menerapkan konsep ekonomi sirkular dengan prinsip zero waste atau bebas limbah buangan. Dari sisi teknis kelayakan, bahan bakar biodiesel dari formulasi minyak nyamplung ini terbukti sukses memenuhi parameter fisikokimia SNI Biodiesel.
Di tingkat riset tingkat tinggi, ekstrak minyak nyamplung juga menunjukkan kinerja memuaskan saat diuji sebagai bahan baku Sustainable Aviation Fuel (SAF) atau bioavtur untuk bahan bakar pesawat terbang dalam skala laboratorium.
"Nyamplung bukan hanya menghasilkan bahan bakar nabati, tetapi juga memberikan manfaat ekologis melalui rehabilitasi lahan dan peningkatan cadangan karbon," kata Budi Leksono.
Peta Jalan Riset Hulu-Hilir dan Sinergi Industri
Keunggulan ekologis pohon nyamplung terletak pada kapasitas perakarannya yang kuat dalam mengikat tanah terdegradasi serta menyerap emisi karbon di udara secara aktif. Langkah penanaman pohon ini otomatis menjalankan fungsi ganda, yaitu memulihkan kondisi lahan kritis sekaligus membantu pencapaian target Net Zero Emission nasional.
Guna membawa hasil laboratorium ini ke panggung komersial, BRIN telah menggelar serangkaian riset berkesinambungan dari sektor hulu ke hilir. Tim peneliti melacak keanekaragaman genetik flora nyamplung di berbagai pulau di Indonesia untuk menyeleksi varietas benih unggul yang menghasilkan buah paling banyak serta kadar minyak paling pekat.
Tinggi permintaan pasar internasional terhadap komoditas biofuel ramah lingkungan membuka peluang emas bagi industri domestik. Namun, komersialisasi skala besar membutuhkan keterlibatan aktif dan sinergi dari pihak swasta, pemerintah, serta investor agar rantai pasok industri nyamplung dari kebun hingga pabrik pengolahan dapat segera terwujud.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


