di balik label minoritas menemukan kemanusiaan dalam maryam - News | Good News From Indonesia 2026

Di Balik Label Minoritas: Menemukan Kemanusiaan dalam Maryam

Di Balik Label Minoritas: Menemukan Kemanusiaan dalam Maryam
images info

Gramedia Digital


Pernahkah Kawan GNFI merenungkan esensi dari sebuah rumah? Bagi kebanyakan dari kita, rumah adalah ruang paling aman, titik singgah di mana kita bisa menaruh segala lelah, memejamkan mata dengan tenang, dan menjadi diri sendiri tanpa perlu meminta izin kepada siapa pun. Kita bangun pagi, menata diri untuk hari baru, dan menjalani keseharian dengan keyakinan bahwa dunia di luar sana adalah tempat yang ramah.

Kawan GNFI tidak perlu sibuk menjustifikasi cara berdoa, cara mencintai, atau cara menata hidup, karena bagi mayoritas, posisi kita dianggap sebagai sesuatu yang normal. Itu adalah sebuah kemewahan besar, sebuah hak istimewa yang sering kali tidak kita sadari sampai tiba-tiba kenyamanan itu ditarik paksa dari bawah kaki kita.

Inilah sebenarnya inti dari gejolak batin yang ditawarkan oleh Okky Madasari dalam novelnya yang berjudul Maryam.

Ketika kita membuka lembar demi lembar buku ini, Jangan bayangkan kita sedang membaca bacaan berat yang kaku dan justru bikin mengantuk. Tidak sama sekali. Buku ini justru mengajak kita berkenalan secara personal dengan sosok bernama Maryam.

Dia bukan pahlawan yang angkat senjata atau seorang aktivis yang sibuk berteriak lantang di depan kamera. Maryam adalah kita. Dia hanyalah seorang perempuan yang memiliki keinginan sangat sederhana: ingin tidur nyenyak tanpa rasa cemas, ingin membangun keluarga yang utuh, dan ingin diterima baik oleh tetangga di kampung halamannya.

baca juga

Okky Madasari menuliskan kisah Maryam dengan sangat jujur. Penulis tidak menutupi sisi lemah, keraguan, rasa takut, bahkan rasa malu yang dialami Maryam. Bagaimana rasanya ketika nama yang Kawan sandang tiba-tiba menjadi buah bibir, atau bahkan menjadi label yang membuat orang lain menjaga jarak? Semua itu diceritakan dengan sangat manusiawi.

Membaca Maryam bukan semata soal membahas isu minoritas secara teknis, melainkan tentang merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang perempuan yang perlahan kehilangan pijakan hidupnya sendiri di tanah kelahirannya.

Perjalanan Maryam dari Lombok sampai ke pengungsian adalah gambaran betapa "rumah" bisa berubah arti. Awalnya mungkin rumah hanyalah soal dinding dan atap. Namun, bagi Maryam, rumah perlahan berubah menjadi konsep yang sangat abstrak. Rumah berubah menjadi sebuah ruang di mana ia tidak perlu lagi menjelaskan siapa dirinya dan mengapa ia percaya pada apa yang ia yakini.

Setelah kita mengenal lebih dekat dengan Maryam, barulah kita bisa melihat gambaran yang lebih besar dari novel ini. Hidup Maryam hancur bukan karena hal yang sepele, melainkan karena ada gesekan sosial yang sangat tajam.

Jika kita bicara soal mayoritas dan minoritas di sini, jangan cuma membayangkan angka-angka di statistik. Ini adalah persoalan yang jauh lebih personal mengenai ego dan siapa yang merasa memiliki kuasa untuk menentukan siapa yang berhak tinggal.

Masalah muncul ketika kelompok yang merasa sebagai mayoritas atau pemilik sah sebuah wilayah, tiba-tiba merasa terganggu dengan kehadiran orang yang dianggap berbeda.

Di sinilah letak ironi yang menyakitkan. Rumah yang seharusnya menjadi tempat bernaung, justru berubah menjadi benteng pertahanan. Ada banyak cara seseorang menunjukkan kuasanya, dan sering kali bukan melalui kekerasan fisik yang meledak-ledak.

Mayoritas punya cara halus untuk menunjukkan bahwa mereka merasa paling berhak. Cukup dengan memalingkan wajah, tidak mau mendengar, atau pura-pura tidak melihat saat orang lain kesulitan, itu sudah menjadi pesan kuat bahwa mereka tidak diterima di sana.

Sementara itu, Maryam dan kelompoknya harus berjuang setiap detik hanya untuk membuktikan bahwa mereka adalah warga negara yang baik, tetangga yang sopan, dan manusia yang beradab. Bayangkan betapa lelahnya itu.

baca juga

Okky Madasari sangat cerdas menggambarkan bahwa tragedi sering kali bukan lahir dari kebencian yang meledak-ledak, melainkan dari sikap diam orang-orang yang memilih untuk tidak peduli. Sikap diam itulah yang menjadi bentuk persetujuan.

Gaya bahasa yang dipakai Okky sangat lugas dan tidak menggunakan kiasan yang terlalu puitis, yang justru membuat ceritanya terasa lebih nyata dan menampar kesadaran kita. Tidak ada ruang bagi pembaca untuk lari dari kenyataan pahit yang dihadapi Maryam.

Setiap kalimatnya terasa seperti peringatan bahwa intoleransi adalah luka nyata yang harus kita obati bersama-sama. Membaca Maryam adalah seperti melakukan latihan empati yang sangat mendalam. Di zaman di mana semua orang sibuk berdebat dan terkotak-kotak, buku ini mengingatkan kita bahwa di balik label "berbeda" itu, ada orang-orang yang memiliki harapan dan mimpi yang sama persis seperti kita.

Kita harus berani bertanya kepada diri sendiri, apakah kita sudah benar-benar menjadi manusia jika kita hanya mau menghargai mereka yang serupa dengan kita?

Jika Kawan GNFI sedang mencari bacaan yang mampu mengasah kepekaan, sekaligus mengajak kita merenungkan kembali seperti apa "rumah" yang sedang kita bangun bersama di negeri ini, maka novel ini sangat layak untuk Kawan baca.

Mari kita mulai membaca, belajar untuk lebih peduli, dan bersama-sama merawat Indonesia agar tetap menjadi tempat yang hangat dan ramah bagi siapa saja, tanpa terkecuali.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

RA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.