alasan novel salah asuhan masih relate untuk gen z - News | Good News From Indonesia 2026

Mengapa Novel "Salah Asuhan" Masih Relate dengan Kehidupan Generasi Sekarang?

Mengapa Novel "Salah Asuhan" Masih Relate dengan Kehidupan Generasi Sekarang?
images info

Novel Salah Asuhan, Gambar: Dokumen pribadi


Sastra klasik sering kali dicap kuno, membosankan, dan menggunakan bahasa yang sulit dipahami. Sudut pandang skeptis ini membuat banyak anak muda enggan menyentuh buku-buku terbitan lama karena dianggap tidak lagi sejalan dengan dinamika kehidupan modern. Namun, anggapan itu akan runtuh saat Anda membaca Salah Asuhan karya Abdoel Moeis (1928).

Di balik usianya yang hampir seabad, novel ini ternyata menyimpan konflik psikologis yang sangat kekinian. Abdoel Moeis dengan sangat visioner berhasil memotret gejolak batin manusia yang menembus sekat waktu dan generasi.

Kisah tragis antara Hanafi dan Corrie du Busse bukan sekadar romansa klise berlatar era kolonial. Novel ini adalah refleksi tajam mengenai krisis identitas, gegar budaya (culture shock), hingga dinamika hubungan yang tidak sehat (toxic relationship) yang jamak dijumpai pada kehidupan anak muda zaman sekarang.

baca juga

Kita akan melihat bagaimana isu-isu sosiologis masa lalu ternyata masih menjadi hantu yang sama dalam kehidupan sehari-hari kita hari ini.

Ada tiga alasan utama mengapa mahakarya sastra ini masih sangat relevan bagi Gen Z:

Krisis Identitas Akibat 'FOMO' Tren Global

Hanafi digambarkan sebagai pemuda pribumi yang mendapat pendidikan Barat. Kagum pada gaya hidup Eropa membuatnya berbalik merendahkan budayanya sendiri. Ironisnya, ia terjebak di tengah-tengah: dianggap terlalu "kebarat-baratan" oleh kaumnya, tapi tetap ditolak oleh lingkungan Eropa yang diidamkannya. Keberadaannya luntang-lantung di antara dua dunia tanpa pernah benar-benar diterima secara utuh oleh salah satunya.

Sifat Hanafi ini sangat mirip dengan fenomena anak muda di era media sosial. Banyak yang terjebak FOMO (Fear of Missing Out), berlomba-lomba meniru estetika dan gaya hidup luar negeri demi mendapatkan pengakuan (validation).

Di dunia digital, kita sering melihat standardisasi gaya hidup global yang membuat seseorang merasa "kurang keren" jika tetap memegang nilai lokal. Novel ini menjadi peringatan keras: mengadopsi hal baru itu boleh, tetapi kehilangan jati diri demi gengsi hanya akan berujung pada kekosongan jiwa. Hanafi adalah visualisasi nyata dari dampak buruk hilangnya orisinalitas diri demi sebuah pengakuan semu.

Gambaran Nyata Toxic Relationship

Aspek menarik lainnya muncul saat Hanafi berhasil menikahi Corrie, perempuan berdarah campuran. Bukannya berakhir bahagia, pernikahan mereka justru berubah menjadi neraka akibat ego, rasa cemas berlebih (insecurity), dan rasa curiga. Hanafi menuntut Corrie menjadi sosok yang sempurna sesuai ekspektasinya, sementara Corrie merasa ruang geraknya terpenjara oleh kecemburuan dan kontrol yang berlebihan.

Hubungan mereka adalah contoh konkret dari hubungan beracun (toxic relationship). Apa yang dialami Hanafi dan Corrie adalah cerminan dari banyak kisah asmara anak muda masa kini yang terjebak dalam lingkaran manipulasi emosional.

Lewat kisah ini, kita diajarkan bahwa perasaan cinta saja tidak akan cukup tanpa dibersamai oleh kematangan emosional, komunikasi yang terbuka, serta kesiapan menghargai perbedaan pasangan. Abdoel Moeis mengingatkan bahwa pernikahan atau ikatan cinta yang dipaksakan atas dasar obsesi semata hanya akan melahirkan penderitaan bagi kedua belah pihak.

baca juga

Benturan Ekspetasi Orang Tua dan Ambisi Pribadi

Latar belakang kehancuran hidup Hanafi juga dipicu oleh tekanan sang ibu yang menjodohkannya dengan Rapiah, gadis yang memegang teguh adat. Hanafi berada di persimpangan jalan antara tuntutan keluarga dan hasratnya untuk bebas menentukan jalan hidup sendiri. Konflik internal ini diperparah oleh ketidakmampuannya menjembatani jurang pemisah antara nilai tradisional ibunya dan nilai modern yang ia pelajari.
Dilema ini tentu sangat akrab di telinga mahasiswa atau remaja masa kini. Banyak anak muda yang mengalami tekanan mental akibat terjebak di antara ekspektasi orang tua entah itu soal jurusan kuliah, karier, atau pasangan hidup dengan impian pribadi mereka. Fenomena sandwich generation atau tuntutan berbakti yang berbenturan dengan aktualisasi diri bukanlah hal baru. Sayangnya, Hanafi memilih merespons tekanan ini dengan kemarahan destruktif, bukan dengan komunikasi yang sehat, yang akhirnya justru merugikan Rapiah dan dirinya sendiri.

Menghidupkan Nilai 'Salah Asuhan' di Era modern

Judul "Salah Asuhan" sebenarnya adalah kritik Abdoel Moeis terhadap cara seseorang menyerap modernitas. Tulisan ini menyentil mereka yang hanya meniru kulit luar budaya asing tanpa memahami esensinya, sembari membuang akar budaya sendiri. Modernisasi sering kali disalahartikan sebagai westernisasi total, padahal kemajuan berpikir tidak harus dibayar dengan harga kehilangan moralitas dan asal-usul.

Bagi mahasiswa maupun masyarakat luas yang sedang berjuang menemukan jati diri di tengah derasnya arus digital, novel ini bertindak sebagai pengingat. Di era algoritma internet yang terus mendikte apa yang harus kita sukai dan bagaimana kita harus bersikap, esensi dari "Salah Asuhan" menjadi semakin krusial. Menjadi manusia yang berpikiran global dan modern tentu sangat bagus, namun memiliki prinsip hidup dan memahami asal-usul diri adalah jangkar utama agar kita tidak mudah terombang-ambing di tengah badai perubahan zaman.

Jadi, sastra klasik tidak selamanya kaku. Kisah Hanafi membuktikan bahwa Abdoel Moeis sudah mampu membaca dengan jitu gejolak psikologis manusia modern sejak satu abad yang lalu. Buku ini bukanlah pajangan museum yang usang, melainkan sebuah peta navigasi sosial yang masih sangat valid untuk memandu kita menjalani kompleksitas hidup di "zaman now".

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

EM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.