Raden Mas Slamet Danusudirjo lahir di Banjarnegara, Jawa Tengah, pada 4 April 1925. Gelar Raden Mas yang tersemat di namanya berasal dari ibunya yang masih memiliki garis keturunan dari Keraton Yogyakarta. Sementara itu, ayahnya, Dasir Dipoyudo, merupakan orang asli Banyumas dan pernah menjabat sebagai Wedana di Tanjung, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah.
Slamet Danusudirjo merupakan salah satu dari sedikit prajurit yang menulis karya fiksi. Ia mengakhiri karier militernya dengan pangkat mayor jenderal dan pernah bergerilya di wilayah Pati dan Semarang. Slamet menulis novel dengan menggunakan nama pena Pandir Kelana. Slamet telah memikirkan nama pena tersebut sejak tahun 1975, jauh sebelum ia mulai menulis novel. Dalam koran Jawa Pos edisi 22 Juli 1992, ia mengungkapkan bahwa ia mulai menulis novel pada 1 Maret 1978, saat berusia 55 tahun. Ia juga menambahkan bahwa ide ceritanya sudah lama muncul sebelum akhirnya dituangkan dalam tulisan.
Dalam koran Media Indonesia edisi 31 September 1922, ia mengungkapkan bahwa nama samaran tersebut dipilih sebagai bentuk introspeksi diri. Kata Pandir diambil dari cerita rakyat Kalimantan Selatan tentang seorang tokoh idiot bernama Pandir. Menurutnya, Pandir adalah pengingat bahwa banyak orang menganggap dirinya pintar, padahal sebenarnya tidak. Sementara itu, Kelana dipilih karena ia merasa dirinya adalah seorang pengembara. Ia juga berpendapat bahwa setiap manusia, dalam kehidupan nyata, terus berkelana mencari sesuatu yang sebenarnya tidak mereka ketahui.
Dengan pengalaman sebagai tentara, tidak mengherankan jika novel-novelnya banyak mengangkat tema revolusi kemerdekaan Indonesia. Beberapa karyanya antara lain Bara Bola Api, Huru-Hara di Kaki Gunung Slamet, Kereta Api Terakhir, Rintihan Burung Kedasih, dan lain sebagainya. Menariknya, tokoh-tokoh dalam novel-novelnya saling terhubung satu sama lain, menjadikannya sebagai ciri khas khas dari Pandir Kelana.
Novel Pandir Kelana yang telah diadaptasi ke layar lebar berjudul Kereta Api Terakhir, dan film tersebut dirilis dengan judul yang sama pada tahun 1981. Nah, adegan dalam film, baik alur maupun dialog tidak jauh berbeda dengan yang digambarkan dalam novel. Tokoh utama dalam novel Kereta Api Terakhir bernama Herman, seorang letnan satu, perwira intelijen Markas Besar (Mabes) TNI di Yogyakarta.
Adapun latar yang diambil dalam novel ini mengambil tahun 1947, tepatnya pasca dibatalkannya Perjanjian Linggarjati oleh Belanda. Di mana pada tanggal 20 Juli 1947, Wakil Gubernur Jenderal Hindia Belanda H.J. Van Mook menyatakan tidak terikat lagi dengan perjanjian tersebut. Sehingga pada tanggal 21 Juli Belanda melakukan serangan umum di Jawa dan Sumatera yang lebih dikenal dengan Agresi Militer Belanda I.
“Dari pangkalan-pangkalannya di Jakarta, Bogor, dan Bandung pasukan-pasukan Belanda bergerak ke seluruh wilayah Jawa Barat yang masih dikuasai oleh Republik. Tugas ini diberikan kepada Divisi C yang lebih dikenal dengan nama Divisi 7 Desember. Divisi B bergerak dari Bandung ke Cirebon dengan sasaran lanjutannya Tegal, Purwokerto, dan Cilacap. Dari Semarang bergerak satuan-satuan dari Divisi B menuju Tegal, Magelang, dan Demak,” hal 8.
Atas dasar pergerakan pasukan Belanda itulah Markas Besar Tentara dan Jawatan Kereta Api melakukan penarikan mundur semua peralatan kereta api ke Purwokerto. Letnan Satu Herman bersama dengan Letnan Dua Sudadi seorang perwira perbekalan ditugaskan oleh Wakil Kepala Staf Umum Markas Besar Tentara Kolonel Cokro untuk mengawasi pemindahan-pemindahan gandengan kereta api dari Purwokerto ke Yogyakarta dan Solo Balapan. Mereka berdua didampingi oleh Sersan Tobing.
Setibanya di Stasiun Purwokerto, mereka disambut oleh Kandar, kepala stasiun yang ternyata merupakan sahabat lama Herman. Tak lama kemudian, Gombloh, tukang pijat Kolonel Gatot Soebroto, membawa mereka bertiga untuk bertemu dengan Panglima Divisi II. Dalam pertemuan itu, Kolonel Gatot Soebroto memberikan arahan kepada Letnan Satu Herman dan Letnan Dua Sudadi untuk membahas rencana pemindahan kereta api bersama Kapten Pujo. Setelah pertemuan, Kapten Pujo mengundang mereka untuk beristirahat di rumahnya. Di sana, Herman bertemu dengan Retno, adik Kapten Pujo, dan seketika jatuh cinta pada pandangan pertama.
Disepakati bahwa Letnan Dua Sudadi akan berangkat mengawal gandengan pertama, turun di Kebumen, menunggu hingga gandengan kedua melintas, lalu naik ke gandengan ketiga untuk melanjutkan perjalanan ke Yogyakarta. Sementara itu, gandengan keempat tidak mendapat pengawalan, sedangkan gandengan terakhir dikawal oleh Letnan Satu Herman dan Sersan Tobing. Dalam perjalanan, gandengan keempat menghadapi kendala di tengah jalan akibat serangan udara, karena saat itu hari mulai beranjak siang.
Di tengah perjalanan, Firman bertemu dengan seseorang yang sangat mirip dengan Retno, Padahal Retno sudah berangkat lebih dulu dengan kereta api pertama. Namun, ada satu perbedaan mencolok, Retno yang ia temui di kereta ini memiliki tahi lalat di antara kedua alisnya. Ternyata memang namanya sama, Retno, tepatnya Retno Widuri.
Kisah romantis memang hadir dalam novel ini, tapi tidak menjadi fokus utama. Romansa diselipkan secara halus di antara ketegangan dan perjuangan para tokohnya, menambah kedalaman emosi tanpa mengalihkan perhatian dari inti cerita. Novel ini juga menyelipkan sekelumit cerita tokoh lain yang tidak ada pengaruhnya dalam jalannya cerita, misalnya Letnan Bong yang nama aslinya Letnan Mas Bintoro, perwira intelijen yang sedang menyamar di Stasiun Purwokerto. Bong sendiri merupakan nama julukan, berasal dari kata Kobong yang memiliki arti terbakar. Kulit wajahnya hancur akibat terbakar.
“Pada tahun 1945, semasa pertempuran Surabaya, ia sedang mengendarai truk berisi kaleng-kaleng bensin. Tiba-tiba muncul pesawat terbang Inggris, menembaknya dan kaleng-kaleng bensin meledak. Ia sempat meloncat tepat pada waktunya, tetapi badannya sudah terlanjur terjilat api,” hal 41.
Novel ini menggambarkan bagaimana masyarakat pada masa itu sangat mudah terpengaruh oleh desas-desus yang merupakan bagian dari perang urat syaraf. Dalam situasi yang penuh ketidakpastian, banyak orang merasa cemas dan khawatir akan keselamatan mereka, sehingga mereka berbondong-bondong mengungsi menuju Yogyakarta, mencari tempat yang dianggap lebih aman.
Fenomena ini menunjukkan betapa rapuhnya keadaan psikologis masyarakat yang terperangkap dalam ketakutan dan kecemasan, serta bagaimana desas-desus dapat mempengaruhi tindakan kolektif dalam menghadapi situasi yang penuh tekanan.
Selain itu, novel ini juga menyelipkan gambaran tentang karakteristik masyarakat Banyumas yang terkenal dengan humor dan optimisme mereka. Di sisi lain, novel ini juga menggambarkan bagaimana orang-orang dari luar Banyumas seringkali kesulitan memahami logat ngapak, yang menjadi ciri khas dalam percakapan sehari-hari. Hal yang memang masih terjadi hingga saat ini.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


