Di tengah nilai tukar rupiah yang kembali tertekan hingga menyentuh kisaran Rp17.650 per dolar AS pada perdagangan 20 Mei 2026, publik mulai menoleh ke masa lalu. Ada satu nama yang kembali sering disebut ketika membicarakan stabilitas ekonomi Indonesia: Johannes Baptista Sumarlin atau J.B. Sumarlin.
Bagi generasi muda, nama ini mungkin terdengar asing. Namun bagi pelaku ekonomi dan birokrat era 1980-an hingga awal 1990-an, Sumarlin adalah simbol ketegasan ekonomi Indonesia. Sosok teknokrat lulusan Amerika Serikat itu pernah menjadi “panglima” keuangan negara saat Indonesia menghadapi tekanan global, anjloknya harga minyak dunia, hingga ancaman spekulasi valuta asing.
Menariknya, di tengah segala keterbatasan era tersebut, rupiah justru mampu dijaga tetap stabil dan dipercaya pasar internasional.
“Gebrakan Sumarlin” yang Membuat Spekulan Mundur
J.B. Sumarlin menjabat Menteri Keuangan Indonesia pada 1988–1993. Namun jauh sebelum itu, pengaruhnya sudah terasa kuat dalam kebijakan ekonomi nasional. Salah satu langkah paling fenomenal adalah kebijakan yang dikenal sebagai “Gebrakan Sumarlin”.
Pada 1987, Indonesia menghadapi tekanan besar akibat aksi spekulasi valuta asing. Cadangan devisa terancam terkuras dan rupiah mulai goyah. Dalam situasi itu, Sumarlin mengambil langkah yang saat itu dianggap sangat berani: menarik likuiditas besar-besaran dari pasar.
Ia memerintahkan dana milik 12 BUMN yang tersimpan di bank-bank komersial dikonversi menjadi Sertifikat Bank Indonesia (SBI). Langkah ini membuat ruang gerak spekulan menyempit karena uang beredar mendadak berkurang drastis.
Hasilnya tidak main-main. Pemerintah berhasil menarik kembali devisa hingga sekitar 1 miliar dolar AS dalam waktu singkat. Rupiah pun kembali stabil.
Ketegasan itulah yang membuat Sumarlin dikenang sebagai sosok teknokrat yang tidak ragu mengambil keputusan sulit demi menjaga kepercayaan terhadap rupiah.
Kebijakan serupa kembali dilakukan pada 1991 saat dunia diguncang Perang Irak-Kuwait. Kala itu, Indonesia khawatir lonjakan inflasi dan tekanan global bisa mengguncang stabilitas ekonomi nasional. Lagi-lagi, pendekatan disiplin fiskal dan moneter menjadi andalan Sumarlin.
Saat Rupiah Dijaga dengan Disiplin dan Reformasi
Stabilitas rupiah pada era tersebut bukan berarti Indonesia tidak pernah mengalami tekanan. Faktanya, Indonesia sempat dua kali melakukan devaluasi besar pada 1983 dan 1986 akibat jatuhnya harga minyak dunia.
Namun yang membedakan era itu adalah cara pemerintah mengelola krisis.
Sumarlin memahami bahwa kekuatan rupiah tidak bisa hanya bergantung pada intervensi Bank Indonesia. Karena itu, ia mendorong reformasi besar di sektor perbankan, investasi, dan ekspor nasional.
Melalui berbagai paket deregulasi seperti Pakto 88, pemerintah membuka akses investasi dan memperluas sektor keuangan nasional. Kebijakan ini membuat ekonomi Indonesia perlahan tidak lagi bergantung sepenuhnya pada minyak bumi.
Ekspor nonmigas mulai tumbuh pesat, terutama manufaktur dan komoditas perkebunan. Pasokan devisa menjadi lebih sehat dan beragam. Dampaknya terasa langsung terhadap stabilitas ekonomi nasional. Pada periode 1989–1996, ekonomi Indonesia bahkan mampu tumbuh rata-rata lebih dari 7 persen per tahun.
Di mata investor internasional, Indonesia kala itu dipandang sebagai negara berkembang dengan pengelolaan ekonomi yang disiplin.
Ketika Integritas Menjadi Fondasi Stabilitas Ekonomi
Salah satu hal yang membuat J.B. Sumarlin berbeda bukan hanya soal kecerdasan ekonomi, tetapi juga integritasnya.
Ia dikenal sebagai pejabat yang sangat keras terhadap praktik pungutan liar dan penyimpangan birokrasi. Salah satu kisah yang paling terkenal adalah ketika Sumarlin menyamar untuk memergoki praktik pungli di kantor kas negara.
Di era sekarang, langkah seperti itu mungkin terdengar sederhana. Namun pada masa itu, tindakan tersebut memberi pesan kuat bahwa pengelolaan keuangan negara harus bersih dan disiplin.
Kepercayaan publik dan pasar lahir bukan hanya dari angka-angka ekonomi, tetapi juga dari kredibilitas pemerintahnya.
Kini, ketika rupiah kembali menghadapi tekanan global, sosok Sumarlin menjadi pengingat bahwa stabilitas mata uang tidak pernah hadir secara kebetulan. Ia lahir dari keberanian mengambil keputusan, reformasi yang konsisten, serta integritas dalam mengelola negara.
Dan mungkin, itulah warisan terbesar J.B. Sumarlin bagi Indonesia: keyakinan bahwa rupiah bisa kuat ketika kebijakan dijalankan dengan disiplin dan keberanian.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


