sebesar itu jasamu ternate - News | Good News From Indonesia 2026

"Sebesar Itu Jasamu, Ternate"

"Sebesar Itu Jasamu, Ternate"
images info

Ternate, seperti digambar penjajah yang belum berhasil menaklukkannya | François Valentijn, Oud en Nieuw Oost-Indien, Amsterdam, 1724


Sejak SD, nama Ternate selalu datang kepada saya dengan gambaran yang begitu imajinatif. Guru-guru sejarah mendeskripsikannya seperti lukisan indah: pulau kaya rempah, gunung menjulang di tengah laut biru, dikelilingi pulau-pulau kecil yang tersebar seperti butiran mutiara. Saya tidak tahu apakah itu akurat. Tapi gambaran itu berakar dalam di benak, saya selama bertahun-tahun.

Pada 2010, untuk pertama kalinya, saya berkesempatan datang ke Ternate.

Menjelang mendarat, pesawat mulai turun dan berbelok, dan tiba-tiba di bawah sana semuanya terbuka: Gamalama yang nyaris berbentuk kerucut sempurna, hijau gelap dari lereng hingga hampir ke puncak, muncul langsung dari laut. Gunung itu tidak berdiri di atas pulau. Gunung itu sendiri yang menjadi pulau. Di sekelilingnya, laut biru kehijauan berkilau di bawah matahari, dan pulau-pulau kecil, Tidore, Maitara, dan yang lain, tersebar tenang seperti butiran mutiara yang dijatuhkan di atas kain biru tua.

Danau Laguna Ternate
info gambar

Danau Laguna Ternate


Saya tidak berkata apa-apa. Hanya melihat ke bawah dan menyadari satu hal: guru-guru saya dulu menggambarkannya tanpa melebih-lebihkannya, meski saya tahu, tak satupun dari mereka yang pernah pergi ke pulau ini. 

Karena memang begitulah Ternate. Seluruh pulau ini, dari tepi laut hingga puncaknya yang setinggi 1.715 meter, adalah satu gunung api tunggal yang tumbuh dari dasar laut jutaan tahun lalu dan tidak pernah berhenti aktif hingga hari ini. Di kakinya yang sempit, sebuah kota tumbuh melingkar, terjepit antara lereng dan samudra. Dari hampir setiap sudut kota, dua hal selalu hadir sekaligus: Gamalama yang perkasa di belakang, dan laut biru berkilau di depan. Pemandangan itulah yang terpampang di uang pecahan seribu rupiah kita, Pulau Maitara dan Tidore dilihat dari Ternate, sebuah panorama yang sudah akrab di genggaman tangan jutaan orang Indonesia, tapi terasa berbeda sekali ketika Anda berdiri langsung di hadapannya.

Mungkin tidak banyak dari kita yang benar-benar mengenal Ternate dan sejarah besarnya. Bisa jadi kita lebih hafal dengan kisah perjuangan di Jawa, atau Sumatera, atau Bali. Padahal Kesultanan Ternate berdiri di garis paling depan perlawanan terhadap penjajah barat, bukan sebagai pemain pelengkap, melainkan sebagai protagonis yang paling awal dan paling menentukan.

Sejak Portugis membangun benteng di Ternate pada 1522, ketegangan dengan kesultanan tidak pernah benar-benar reda. Portugis datang bukan untuk berdagang secara setara. Mereka ingin menguasai cengkih, komoditas yang saat itu nilainya sebanding dengan emas di pasar Eropa, dan Ternate adalah penghasil utamanya di dunia. Sultan Khairun, yang memerintah Kesultanan Ternate sejak 1535, awalnya menghadapi tekanan itu dengan sabar, lalu dilanjutkan dengan perlawanan terbuka. Sepanjang dekade 1560-an, tentara-tentara Ternate mengguncang kedudukan Portugis di Ambon dan Halmahera. Portugis pun terdesak.

Karena tidak mampu mengalahkan Sultan Khairun di medan perang, Portugis memilih jalan lain. Jalan licik khas penjajah.

Pada 25 Februari 1570, Kapten Diogo Lopes de Mesquita mengundang Sultan Khairun ke Benteng São Paulo, dengan dalih merayakan perbaikan hubungan kedua pihak. Sang sultan datang tanpa pengawal. Di dalam benteng itu, ia dibunuh.

Portugis mengira bahwa dengan mematikan kepala, perlawanan akan padam.

Yang terjadi justru sebaliknya.

Putra Sultan Khairun, Baabullah, dinobatkan sebagai sultan tiga hari kemudian. Dalam upacara pelantikannya, ia bersumpah tidak akan menurunkan senjata sebelum tidak ada satu pun orang Portugis yang tersisa di Maluku. Ia lalu memulai apa yang dikenal sebagai Perang Soya-soya, perang pembebasan negeri, yang sistematis dan tanpa henti. Pos demi pos Portugis dihancurkan. Benteng demi benteng direbut. Hanya Benteng Gamlamo yang bertahan, dan Baabullah mengepungnya selama lima tahun penuh, memotong semua jalur pasokan hingga garnisun di dalamnya menyusut dari 900 menjadi kurang dari 400 orang. Pada 1575, Portugis menyerah dan meninggalkan Maluku.

Dan... di sinilah saya perlu berhenti sejenak.

Menurut saya, ini bukan hanya sekadar kemenangan perang, melainkan kemenangan anak bangsa pertama atas kekuatan kolonial Eropa di seluruh kepulauan Indonesia. Buya Hamka mencatat bahwa pengusiran Portugis dari Maluku menunda cengkeraman penjajahan barat atas Nusantara hampir satu abad penuh. Satu abad. Dari sebuah pulau yang lebarnya hanya 11 kilometer. Sebesar itu jasamu, Ternate.

Di bawah Sultan Baabullah, kesultanan kemudian mencapai puncak kejayaannya. Kekuasaannya meliputi sebagian besar Kepulauan Maluku, Sangihe (kini bagian dari Sulawesi Utara), bagian dari Sulawesi, hingga wilayah sejauh selatan Mindanao dan kepulauan di Papua. Ia dikenal sebagai penguasa 72 pulau berpenghuni, dan Ternate menjadi kesultanan Islam terbesar di Indonesia timur. Semuanya bermula dari satu pulau gunung api di tengah laut.

Setelah membaca sejarah itu, saya ke Ternate lagi, ke tempat di mana pusat perlawanan itu dikobarkan, yakni ke Istana Kesultanan Ternate. 

Saya mengunjungi istana itu pada sore hari, ketika cahaya mulai miring dan bayangan benteng-benteng tua memanjang di atas tanah. Percaya atau tidak, saya tidak menyangka akan merasa seberat itu menaiki tangga menuju balkon di lantai atas. Bukan karena tangganya curam. Tapi karena setiap langkah terasa seperti memasuki ruang yang tidak layak saya masuki.

Seorang teman harus menarik tangan saya untuk terus naik.

Di atas balkon itu, saya berhenti. Di depan saya terbentang kota Ternate, reruntuhan benteng, dan laut yang memisahkannya dari pulau Halmahera. Angin bertiup pelan. Langit mulai kemerahan. Saya tertunduk, dan kemudian berpikir...bahwa dari tempat saya berdiri itulah, para sultan Ternate pernah memandang cakrawala ketika kapal-kapal perang Portugis pertama kali tampak di kejauhan. Dari sini strategi disusun, keberanian dipertaruhkan, dan keputusan untuk tidak menyerah diambil berulang kali. Dari titik sekecil ini, sejarah Nusantara berbelok.

Saya tidak bisa berlama-lama di sana. Rasanya tidak pantas.

Saya turun dengan cepat, dan baru ketika kaki saya kembali menyentuh tanah, saya sadari pipi saya basah, sambil menggumam pelan, 

"Sebesar itu jasamu, Ternate" 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.