Kesultanan Ternate dikenal sebagai salah satu kerajaan Islam terpenting di kawasan timur Nusantara. Sejak akhir abad ke-15, Islam telah menjadi identitas politik, sosial, dan budaya yang kuat di wilayah tersebut.
Namun, dalam perjalanan sejarahnya terdapat satu sosok yang menempati posisi unik sekaligus kontroversial, yakni Sultan Tabariji.
Ia dikenang sebagai satu-satunya Sultan Ternate yang berpindah agama dan menjadi pemeluk Katolik di tengah kuatnya pengaruh Islam dalam kehidupan masyarakat Ternate.
Latar Belakang Islam di Kesultanan Ternate
Jauh sebelum kedatangan bangsa Eropa, Ternate telah menjalin hubungan dengan para pedagang Muslim dari berbagai wilayah, termasuk Arab dan Asia Selatan. Pengaruh Islam semakin menguat ketika Zainal Abidin menjadi penguasa Ternate pada akhir abad ke-15.
Pada masa pemerintahannya, gelar kolano diganti menjadi sultan dan sistem pemerintahan mulai menyesuaikan dengan prinsip-prinsip Islam.
Sejak saat itu, Ternate berkembang menjadi pusat penyebaran Islam di Kepulauan Maluku. Pengaruhnya bahkan menjangkau wilayah-wilayah lain di Indonesia bagian timur hingga Filipina selatan. Karena itulah, identitas Islam menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari legitimasi kekuasaan para sultan Ternate.
Naiknya Tabariji ke Takhta
Sultan Tabariji naik takhta pada tahun 1533, ketika usianya baru 15 tahun, dan mewarisi situasi politik yang rumit. Pengangkatannya tidak lepas dari campur tangan Portugis yang saat itu berusaha memperkuat pengaruh mereka di Maluku.
Sebelum Tabariji berkuasa, Sultan Abu Hayat II yang memimpin Ternate mengalami konflik berkepanjangan dengan Portugis hingga akhirnya ditangkap dan diasingkan.
Melalui tekanan politik terhadap para bangsawan Ternate, Portugis berhasil mendorong pengangkatan Tabariji sebagai sultan baru. Mereka berharap penguasa muda tersebut akan lebih mudah diajak bekerja sama dan mendukung kepentingan Portugis di kawasan penghasil rempah-rempah itu.
Akan tetapi, harapan tersebut tidak berlangsung lama. Setelah memegang kekuasaan, Tabariji mulai menunjukkan sikap yang tidak sepenuhnya sejalan dengan keinginan Portugis.
Ia bahkan memperlihatkan penentangan terhadap dominasi mereka. Sikap inilah yang kemudian memicu ketegangan baru antara Sultan Ternate dan pihak Portugis.
Pengasingan ke India
Ketika hubungan dengan Portugis memburuk, Tabariji menghadapi tuduhan terlibat dalam persekongkolan yang dianggap mengancam kepentingan Portugis. Tuduhan tersebut kemudian dijadikan alasan untuk menyingkirkannya dari kekuasaan.
Tabariji dibawa ke Goa, India, yang saat itu menjadi pusat kekuasaan Portugis di Asia. Di sana ia harus menjalani proses pengadilan atas tuduhan yang diyakini banyak pihak sebagai rekayasa politik.
Pengasingan ini menjadi titik balik penting dalam kehidupan Sultan Tabariji karena dari sinilah muncul peristiwa yang membuat namanya dikenang dalam sejarah.
Kontroversi Perpindahan Agama
Selama berada di Goa, Tabariji akhirnya berpindah agama dari Islam menjadi Katolik. Namun, alasan di balik perpindahan agama tersebut masih menjadi perdebatan di kalangan sejarawan.
Sebagian sumber menyebut bahwa Portugis memberikan syarat kepada Tabariji untuk memeluk agama Katolik apabila ingin memperoleh kembali dukungan politik dan kesempatan memerintah Ternate. Selain itu, ia juga diminta menerima berbagai tuntutan politik yang menguntungkan Portugis.
Di sisi lain, terdapat sumber yang menyatakan bahwa perpindahan agama itu dilakukan tanpa paksaan langsung dari Portugis
Dalam versi ini, disebutkan bahwa seorang bangsawan Portugis bernama Jordao de Freytas menyarankan Tabariji memeluk Katolik sebagai cara untuk menunjukkan bahwa dirinya tidak bersalah atas tuduhan yang dialamatkan kepadanya.
Setelah dibaptis, Tabariji menggunakan nama Dom Manuel, sementara ibunya menerima nama baptis Isabella.
Terlepas dari perbedaan versi tersebut, fakta bahwa Tabariji menjadi pemeluk Katolik menjadikannya satu-satunya Sultan Ternate yang diketahui pernah meninggalkan Islam.
Akhir Hayat dan Warisan Sejarah
Perpindahan agama Tabariji menimbulkan reaksi keras di Ternate. Banyak kalangan menolak kemungkinan dirinya kembali memerintah karena masyarakat saat itu menganggap seorang sultan harus tetap berpegang pada agama Islam yang telah menjadi dasar legitimasi kekuasaan kerajaan.
Meski sempat mendapat kesempatan untuk kembali ke Ternate, Tabariji tidak pernah mencapai tanah kelahirannya. Dalam perjalanan pulang melalui Malaka pada tahun 1534, ia meninggal dunia sebelum tiba di Ternate. Dengan demikian, ia tidak pernah kembali menduduki takhta yang pernah dimilikinya.
Kisah Sultan Tabariji memperlihatkan bagaimana agama, kekuasaan, dan kolonialisme saling bertaut dalam sejarah Nusantara. Perjalanannya menjadi contoh bahwa pergulatan politik pada masa kolonial sering kali memengaruhi identitas dan keyakinan seseorang.
Hingga kini, Tabariji tetap menjadi tokoh yang menarik untuk dikaji karena kisahnya mencerminkan kompleksitas hubungan antara Kesultanan Ternate dan Portugis pada abad ke-16.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


