Di tengah masyarakat yang semakin terhubung melalui media sosial, menjadi diri sendiri terkadang justru menjadi tantangan yang tidak mudah. Banyak orang merasa harus menyesuaikan diri dengan standar yang ditetapkan lingkungan agar dapat diterima.
Mulai dari cara berpakaian, pilihan pendidikan, pekerjaan, hingga pandangan hidup, sering kali seseorang dihadapkan pada tuntutan untuk mengikuti apa yang dianggap umum oleh masyarakat. Hal ini membuat banyak individu merasa kehilangan ruang untuk mengekspresikan identitas dirinya secara bebas.
Persoalan tersebut tergambar dengan kuat dalam novel Maryam karya Okky Madasari. Novel ini mengisahkan perjalanan hidup Maryam, seorang perempuan yang harus menghadapi berbagai bentuk penolakan sosial karena identitas dan keyakinan yang dimilikinya. Melalui tokoh Maryam, pembaca diajak melihat bagaimana tekanan dari lingkungan dapat memengaruhi kehidupan seseorang, baik secara sosial maupun psikologis.
Sejak awal cerita, Maryam berada dalam posisi yang sulit. Ia terus dihadapkan pada pilihan-pilihan yang memaksanya mengorbankan sebagian dari dirinya demi mendapatkan penerimaan dari lingkungan. Namun, Maryam memilih untuk tetap mempertahankan prinsip yang diyakininya meskipun keputusan tersebut membuat hidupnya semakin berat. Keberanian itu tampak dalam salah satu kutipan berikut:
"Maryam punya dua pilihan: Menjadikan Alam seorang Ahmadi atau meninggalkan Alam selamanya. Maryam menolak keduanya. Ia memilih pergi." (hlm. 40)
Kutipan tersebut menunjukkan bahwa Maryam tidak ingin menyerahkan keyakinannya hanya demi memenuhi tuntutan orang lain. Di sisi lain, ia juga tidak ingin memaksa orang yang dicintainya untuk mengikuti keyakinannya. Pilihan untuk pergi menjadi bentuk keberanian dalam mempertahankan identitas diri, meskipun konsekuensinya tidak mudah.
Kisah Maryam masih sangat relevan dengan kehidupan saat ini. Kawan GNFI mungkin pernah melihat atau bahkan mengalami situasi ketika seseorang merasa harus menyembunyikan minat, pendapat, atau kepribadiannya karena takut dianggap berbeda.
Di era digital, tekanan sosial tidak hanya datang dari lingkungan sekitar, tetapi juga dari media sosial yang sering menampilkan standar kehidupan tertentu. Banyak orang merasa harus tampil sempurna, mengikuti tren, atau memenuhi ekspektasi yang dibangun oleh orang lain.
Dalam dunia pendidikan, misalnya, tidak sedikit mahasiswa yang menghadapi tekanan untuk mengikuti jurusan tertentu, memperoleh nilai tinggi, atau mencapai prestasi yang sesuai harapan keluarga dan lingkungan. Akibatnya, mereka lebih fokus memenuhi ekspektasi sosial daripada memahami kebutuhan dan potensi dirinya sendiri. Padahal, setiap individu memiliki minat, kemampuan, dan jalan hidup yang berbeda.
Melalui pengalaman Maryam, pembaca diajak memahami bahwa penerimaan dari orang lain tidak seharusnya diperoleh dengan mengorbankan identitas diri. Mempertahankan prinsip memang sering kali menghadirkan risiko, tetapi kehilangan jati diri juga dapat menimbulkan dampak yang tidak kalah besar. Oleh karena itu, keberanian untuk mengenali dan menerima diri sendiri menjadi hal yang penting dalam kehidupan sosial.
Dalam praktiknya, keberanian menjadi diri sendiri dapat diwujudkan melalui berbagai hal sederhana. Misalnya, berani menyampaikan pendapat dalam diskusi, memilih bidang yang sesuai dengan minat, mengekspresikan kreativitas tanpa takut dihakimi, atau mengambil keputusan hidup berdasarkan pertimbangan pribadi yang matang. Sikap tersebut bukan berarti menolak kritik atau saran dari orang lain, melainkan tetap memiliki kendali atas identitas diri sambil menghargai keberagaman pandangan yang ada.
Novel Maryam juga mengingatkan bahwa perbedaan bukanlah sesuatu yang harus ditakuti. Sebaliknya, keberagaman merupakan bagian dari kehidupan sosial yang perlu dihargai bersama. Ketika masyarakat mampu menerima perbedaan identitas, keyakinan, maupun pilihan hidup seseorang, maka ruang untuk tumbuh dan berkembang akan menjadi lebih terbuka bagi semua orang.
Pada akhirnya, Okky Madasari menyampaikan pesan bahwa menjadi diri sendiri bukanlah tindakan yang mudah, melainkan sebuah keberanian yang perlu diperjuangkan. Di tengah berbagai tekanan sosial yang terus hadir dalam kehidupan modern, setiap individu perlu belajar menerima dirinya sendiri sekaligus menghormati perbedaan yang dimiliki orang lain. Dengan demikian, kehidupan sosial yang lebih inklusif dan saling menghargai dapat terwujud tanpa harus mengorbankan identitas siapa pun.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


