Kuliner Indonesia rasanya tak ada habisnya mengguncang dunia. Kali ini, sate kambing berhasil menembus jajaran teratas street food versi TasteAtlas.
Sajian olahan daging kambing yang dibakar di atas bara arang ini meraih peringkat ketiga secara global sebagai makanan jalanan terbaik di dunia.
Daftar TasteAtlas ini disusun berdasarkan puluhan ribu ulasan pengguna terverifikasi dari berbagai belahan dunia. Menariknya, selain sate kambing, ada beragam kuliner hidangan khas Indonesia lainnya yang turut tercatat.
Makanan apa saja yang masuk dalam daftar itu?
10 Street Food Terbaik di Dunia Versi TasteAtlas
Disadur dari situs resmi TasteAtlas, di bawah ini adalah 10 street food terbaik di dunia:
- Karantika (Aljazair) โ Skor: 4,6
- Kontosouvli (Yunani) โ Skor: 4,6
- Sate Kambing (Indonesia) โ Skor: 4,5
- Quesabirria (Meksiko) โ Skor: 4,5
- Guotie (Tiongkok) โ Skor: 4,5
- Taameya (Mesir) โ Skor: 4,5
- Bรกnh Mรฌ Heo Quay (Vietnam) โ Skor: 4,5
- Anticuchos de Corazon (Peru) โ Skor: 4,5
- Siu Mei (Tiongkok) โ Skor: 4,4
- Amritsari Kulcha (India) โ Skor: 4,4
Kawan GNFI, selain sate kambing di posisi tiga besar, kuliner khas Indonesia lainnya juga masuk ke dalam deretan street food terbaik di dunia.
Di peringkat ke-19 secara global, ada batagor asal Bandung yang mengumpulkan skor 4,4. Olahan tahu dan adonan ikan goreng bersiram saus kacang ini terus menjadi favorit jajanan jalanan. Ini bukan kali pertama batagor masuk dalam daftar jajanan terenak di dunia.
Kemudian, posisi ke-20, Sate Padang dari Sumatra Barat mendapatkan skor 4,4. Selanjutnya ada siomay di peringkat ke-22 dengan skor 4,4.
Rendang, bubur ayam, sate Madura, dan pempek masing-masing menempati peringkat ke-50, 53, 61, dan 65 dengan skor 4,3. Selanjutnya, ada sate babi, nasi uduk, gorengan, sate, dan sate lilit di peringkat ke-74, 77, 78, 80, dan 98. Kelimanya mendapatkan skor 4,2.
Sejarah dan Asal-usul Sate
Sate sudah menjadi makanan yang sangat lumrah dijumpai di berbagai wilayah. Namun, sebetulnya dari mana asal usul makanan lezat ini?
Tulisan Wiwik Nirmala Sari, dkk., dalam jurnal Media Bina Ilmiah mencatat bahwa hidangan sate telah ada di Nusantara setidaknya sejak tahun 1843. Soal asal-usulnya, ada beberapa teori menarik tentang awal mula kehadiran sate.
Ada yang menyebut bahwa istilah sate berasal dari bahasa Tamil, yaitu sathai, yang bermakna potongan daging diasinkan dan dipanggang dengan tusuk kayu.
Teori lain menjelaskan sate terinspirasi dari pedagang Muslim Tamil dan Gujarat yang memperkenalkan olahan daging bakar ala kebab. Sebelum interaksi ini, masyarakat Nusantara umumnya mengolah hidangan daging dengan cara direbus.
Ada pula sumber yang menelusuri istilah sate dari dialek Minnan asal Tiongkok, sa tae bak, yang berarti tiga potong daging. Meski menyerap pengaruh asing, sate tetap menjadi sajian asli Indonesia karena dikembangkan oleh masyarakat lokal.
Teori lokal meyakini sate diciptakan pertama kali oleh murid Sunan Gresik bernama Satah pada awal abad ke-15. Daging kambing yang dipotong kecil, ditusuk bambu, dan dibakar oleh Satah tersebut sangat digemari warga hingga dikenal sebagai daging satah atau sate.
Saat ini, Indonesia memiliki berbagai jenis sate dari berbagai daerah dengan ciri khas yang berbeda-beda. Ada yang menggunakan daging ayam, kambing, sapi, lidah, jeroan, babi, domba, sampai bahan lain seperti tahu.
Kawan GNFI lebih suka sate apa?


