Tim Kuliah Kerja Nyata Tematik (KKNT) Inovasi IPB University resmi meluncurkan program Magotera (Maggot untuk Ekonomi Sirkular Desa Cirea). Ini merupakan sebuah inisiatif pengelolaan sampah organik rumah tangga berbasis budidaya maggot Black Soldier Fly (BSF) di Desa Cirea, Kecamatan Mandirancan, Kabupaten Kuningan.
Program ini lahir dari keresahan terhadap persoalan sampah organik yang selama ini kerap menjadi beban lingkungan, sekaligus dirancang untuk membuka peluang ekonomi baru bagi masyarakat setempat melalui pendekatan yang inovatif dan berkelanjutan.
Sampah organik rumah tangga merupakan salah satu kontributor terbesar timbulan sampah di tingkat desa. Namun, pengelolaannya sering kali belum optimal karena minimnya pengetahuan warga mengenai metode pengolahan yang efektif dan bernilai ekonomis.
Melalui program Magotera, tim KKNT berupaya menjawab persoalan tersebut dengan memperkenalkan teknologi biokonversi menggunakan larva BSF yang dikenal memiliki kemampuan mengurai bahan organik secara cepat sekaligus menghasilkan produk turunan bernilai jual, seperti maggot segar maupun tepung maggot untuk pakan ternak.
Melalui Magotera, warga diberikan edukasi mengenai cara memilah sampah organik rumah tangga, teknik budidaya maggot BSF, hingga pemanfaatan maggot sebagai bahan baku pakan alternatif ternak, khususnya untuk unggas dan ikan.
Program ini mengusung konsep ekonomi sirkular, di mana sampah organik yang semula dibuang sebagai limbah diolah kembali menjadi sumber daya bernilai ekonomi.
Selain menekan volume sampah yang berakhir di lingkungan, budidaya maggot juga berpotensi menekan biaya pakan yang selama ini menjadi komponen pengeluaran terbesar dalam usaha ternak warga.
Program ini merupakan sebuah insentif ekonomi langsung yang diharapkan mendorong partisipasi aktif masyarakat dalam keberlanjutan program.
Rangkaian program Magotera dibuka dengan kegiatan sosialisasi yang digelar di Balai Desa Cirea pada Kamis, 6 Agustus 2026 dan dihadiri sekitar 30 warga. Kegiatan diawali dengan pemaparan materi mengenai apa itu maggot BSF dan berbagai manfaatnya, baik sebagai solusi pengelolaan sampah organik maupun sebagai alternatif pakan ternak yang lebih ekonomis.
Dalam sesi ini, tim KKNT juga menjelaskan siklus hidup BSF serta karakteristik biologisnya yang menjadikan larva ini efektif sebagai agen pengurai sampah organik.
Setelah sesi pemaparan, aktivitas dilanjutkan dengan praktik langsung tata cara budidaya maggot, mulai dari persiapan media, proses pemilahan sampah organik, hingga tahapan pemeliharaan maggot agar dapat tumbuh optimal.
Warga tidak hanya menjadi peserta pasif, melainkan turut serta mempraktikkan langsung setiap tahapan, sehingga diharapkan dapat menerapkan teknik tersebut secara mandiri di rumah masing-masing.
Antusiasme warga terlihat tinggi sepanjang sesi praktik berlangsung, terlihat dari aktifnya partisipasi dan banyaknya pertanyaan yang diajukan terkait teknis budidaya.
Rangkaian sosialisasi kemudian ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif serta dokumentasi bersama seluruh peserta sebagai penanda dimulainya program ini di tengah masyarakat.
Tidak berhenti di balai desa, tim KKNT juga melakukan sosialisasi dan kunjungan lapangan ke lokasi pembuangan limbah dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Desa Cirea yang merupakan bagian dari penyelenggaraan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Di lokasi ini, tim berdiskusi langsung dengan pengelola limbah dapur MBG untuk saling berbagi pengetahuan mengenai teknik budidaya maggot BSF, sekaligus memahami karakteristik limbah dapur yang dihasilkan setiap harinya dari kegiatan operasional dapur SPPG.
Kunjungan tersebut menjadi peninjauan awal terhadap potensi lokasi sebagai titik budidaya maggot dalam skala yang lebih besar. Mengingat volume limbah dapur MBG yang dihasilkan secara rutin dan dalam jumlah signifikan, lokasi ini dinilai memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi unit budidaya maggot yang lebih terintegrasi dibandingkan skala rumah tangga.
Harapannya, limbah sisa dapur MBG yang selama ini terbuang dapat diolah secara berkelanjutan melalui budidaya maggot BSF, sehingga tercipta rantai ekonomi sirkular yang lebih luas di Desa Cirea. Maggot hasil budidaya nantinya diproyeksikan dapat dimanfaatkan sebagai pakan ayam dan lele yang turut dipelihara. Dengan begitu, manfaat program dapat dirasakan secara langsung oleh pengelola dapur MBG maupun masyarakat sekitar.
Model kolaborasi antara program pemerintah dan inisiatif berbasis masyarakat seperti Magotera ini juga membuka peluang replikasi di desa-desa lain yang memiliki fasilitas serupa.
Melalui Magotera, tim KKNT Inovasi berharap dapat mendorong terbentuknya kesadaran kolektif masyarakat Desa Cirea dalam mengelola sampah organik secara berkelanjutan, sekaligus membuka peluang ekonomi baru dari sesuatu yang sebelumnya dianggap tidak bernilai.
Sinergi antara edukasi warga di balai desa dan kolaborasi dengan pengelola dapur MBG diharapkan menjadi pondasi bagi keberlanjutan program ini.
Langkah selanjutnya, tim KKNT berencana melakukan pendampingan berkala guna memastikan warga dan pengelola SPPG dapat menjalankan budidaya maggot secara mandiri. Harapannya dapat berdampak dari segi ekonomi dan lingkungan.
Tim KKNT IPB University Desa Cirea, 2026.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


