Sejak masuk kuliah di Jatinangor, Ellita Sevilla tidak serta merta meninggalkan dapur kecilnya di Tanjung Balai Karimun, Kepulauan Riau. Jarak ratusan kilometer itu tidak membuatnya berhenti mengurus bisnis kue yang ia rintis bersama sang kakak sejak masa SMA. Apalagi, kue-kuenya sudah melekat di lidah para pembeli.
"Ellpastries berawal dari hobi saya membuat pastry, terutama saat pandemi Covid-19. Awalnya hanya membuat untuk keluarga, tetapi karena responsnya sangat positif maka saya dan kakak mencoba menjualnya sebagai usaha kecil," kata Ellita, dikutip dari laman resmi Unpad.
Bisnis yang lahir dari kebosanan di rumah saat pandemi itu ternyata masih bertahan sampai sekarang. Usaha itu dikendalikan dari jarak jauh sembari Ellita menjalani kuliah di Program Sarjana Teknologi Pangan Universitas Padjadjaran (Unpad).
Dan kuliahnya sendiri tidak main-main. Ellita berhasil menuntaskan studi dalam 7 semester dengan yudisium "Pujian". Ia pun dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik pada Wisuda Unpad Gelombang IV Tahun Akademik 2025/2026 yang digelar di Graha Sanusi Hardjadinata, Bandung, Selasa (4/8), lengkap dengan ucapan selamat langsung dari Rektor Unpad.
Ilmu Kuliah yang Kepakai Langsung di Dapur Sendiri
Ambil Program Sarjana Teknologi Pangan, Ellita bisa langsung terapkan ilmunya. Apa yang telah ia pelajari, langsung dipakai untuk bisnis keluarganya sendiri.
Ia menyebut, ilmu tersebut membantunya dalam pengembangan resep, menjaga mutu dan keamanan produk, hingga menentukan umur simpan kue agar kualitasnya tetap konsisten dari waktu ke waktu.
Ellpastries, nama bisnis kue itu, dikelola bersama kakaknya. Meski Ellita tidak lagi berada satu kota dengan dapur usahanya sejak kuliah di Jatinangor, bisnis tersebut tetap berjalan.
Sibuk Organisasi Sejak Semester Awal, tapi Nilai Tetap Terjaga
Selain berbisnis, Ellita juga tercatat aktif di berbagai kepanitiaan dan organisasi kemahasiswaan sepanjang semester 1 hingga 4. Ia pernah menjabat sebagai Staf Departemen Kewirausahaan HIMATIPAN, Staf Divisi Pengembangan Proyek Kautamaan Srikandi, Staf Departemen Kreatif Acara FOODERATION, dan Staf Departemen Acara SPEKTALYMPIC. Ia juga sempat menjadi asisten praktikum mata kuliah Penanganan Pascapanen.
Menurutnya, keterlibatan di organisasi sejak semester awal membantunya beradaptasi dengan lingkungan kampus yang baru.
"Bagi saya, keterlibatan dalam organisasi pada semester awal bisa membantu dalam beradaptasi dengan lingkungan baru kampus, memperoleh berbagai informasi dari kakak tingkat yang bisa membuat kita merenungkan apa yang ingin dicapaikan pada semester ke belakang, dan yang paling penting adalah mengembangkan keterampilan diri saya di luar akademik, seperti kepemimpinan, komunikasi, kerja sama tim, dan manajemen proyek," ujarnya.
Ia mengaku memegang prinsip bahwa tanggung jawab akademik tetap menjadi prioritas utama, sehingga kesibukan organisasi tidak sampai mengganggu prestasi kuliahnya.
"Tetapi sejak awal saya memiliki prinsip bahwa tanggung jawab akademik tetap menjadi prioritas utama. Jadi agar aktivitas organisasi tidak mengganggu prestasi akademik, saya membiasakan diri untuk mengatur waktu dengan baik, seperti selalu menyusun jadwal yang berisi deadline tugas dan jadwal organisasi," katanya.
Skripsi soal Selai Cokelat Berbahan Minyak Sawit Merah
Di sisi akademik, Ellita menghasilkan karya ilmiah berjudul "Application of Red Palm Oil Oleogel Structured With Beeswax, Carnauba Wax, and Whey Protein Isolate in Chocolate Spread", hasil kolaborasi dengan dosen pembimbingnya, Edy Subroto, S.TP., M.P.
Penelitian ini membahas pengembangan chocolate spread atau selai cokelat yang lebih sehat dengan memanfaatkan oleogel berbasis minyak sawit merah. Secara sederhana, oleogel adalah teknik mengubah minyak cair menjadi bentuk semi-padat dengan bantuan bahan seperti lilin lebah (beeswax), lilin carnauba, dan whey protein isolate, tanpa melalui proses hidrogenasi penuh yang selama ini kerap menghasilkan lemak trans pada produk olahan pangan.
Pendekatan ini relevan dengan tren industri pangan yang terus mencari cara mengurangi kandungan lemak jenuh, sementara minyak sawit merah sendiri dikenal kaya akan beta-karoten.
"Saat ini, naskah sedang dalam proses revisi dan ditargetkan untuk dipublikasikan di jurnal Food Research International," ujar Ellita.
Limbah Kulit Udang dan Jengkol Jadi Ide Business Plan
Ellita bersama dua rekannya juga pernah meraih Juara 3 dalam kompetisi Business Plan "Biztalk" yang diselenggarakan BEM Fakultas Teknologi Industri Pertanian (FTIP) Unpad. Tema yang mereka angkat adalah pemanfaatan limbah kulit udang dan buah jengkol menjadi penyedap rasa alami bernilai tambah.
Melalui kompetisi tersebut, Ellita mengaku belajar mengembangkan ide bisnis yang tidak hanya bernilai ekonomi, tetapi juga berkontribusi mengurangi limbah pangan.
Nyambi Jadi Penerjemah Drama Mandarin
Di luar dunia pangan, Ellita ternyata juga memiliki kemampuan berbahasa Mandarin yang membuka peluang lain. Ia pernah menjadi freelance subtitle translator yang menerjemahkan drama pendek berbahasa Mandarin ke Bahasa Indonesia, sekaligus membuka kursus bahasa Mandarin online bernama "Haola Mandarin".
Ke depan, Ellita berencana mengembangkan dua bidang yang telah ia tekuni sejak masa kuliah tersebut secara beriringan.
"Setelah lulus dari Teknologi Pangan Unpad, saya berencana untuk terus mengembangkan kelas Bahasa Mandarin yang saya kelola, yaitu @haolamandarin. Di sisi lain, saya juga ingin mengembangkan Ellpastries dengan menerapkan ilmu yang saya pelajari di Teknologi Pangan, seperti pengembangan produk, peningkatan mutu dan keamanan pangan, serta memperluas skala usaha. Harapannya, kedua bidang yang saya tekuni dapat terus berkembang dan memberikan manfaat yang lebih luas," tutup Ellita.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


