mahasiswa yaman taklukkan s2 dan s3 di unpad cuma dalam 3 5 tahun kini jadi wisudawan terbaik program doktor - News | Good News From Indonesia 2026

Mahasiswa Yaman Taklukkan S2 dan S3 di Unpad Cuma dalam 3,5 Tahun, Kini Jadi Wisudawan Terbaik Program Doktor

Mahasiswa Yaman Taklukkan S2 dan S3 di Unpad Cuma dalam 3,5 Tahun, Kini Jadi Wisudawan Terbaik Program Doktor
images info

Mohammed Adel Mohammed Al-faqeeh (kiri), mahasiswa asal Yaman yang jadi mahasiswa terbaik Program Doktor Unpad


Tiga setengah tahun. Itu waktu yang dibutuhkan Mohammed Adel Mohammed Al-faqeeh untuk merampungkan dua gelar sekaligus, Magister dan Doktor. Ia menaklukkan jenjang pascasarjana di kampus asing, dengan bahasa yang bahkan belum ia kuasai saat pertama datang.

Al-faqeeh juga raih IPK nyaris sempurna. Ia mengantongi nilai 4,00 untuk Magister dan 3,89 untuk Doktor. Padahal, sebelum menginjakkan kaki di Bandung, ia bahkan belum pernah sekalipun menerbitkan karya di jurnal ilmiah.

Kini, mahasiswa asal Yaman itu resmi dinobatkan sebagai Wisudawan Terbaik Program Doktor pada Wisuda Unpad Gelombang IV Tahun Akademik 2025/2026, Rabu (5/8), di Graha Sanusi Hardjadinata, Bandung. Bagaimana ceritanya?

baca juga

Modal Nekat dan Beasiswa di Tengah Pandemi

Al-faqeeh berangkat ke Indonesia pada 2022, membawa ijazah sarjana Farmasi dari Sana'a University, Yaman. Ia lolos beasiswa Kemitraan Negara Berkembang (KNB), program bantuan pendidikan pemerintah Indonesia untuk mahasiswa dari negara berkembang.

Dari sekian kampus yang membuka Farmasi Klinik, ia menjatuhkan pilihan pada Unpad.

"Pilihan utamanya Universitas Padjadjaran karena dari informasi yang saya baca, kuliahnya lebih banyak praktik," ujarnya, dikutip dari Kanal Media Unpad.

Sebagaimana yang Kawan tahu, situasi di Yaman sendiri jauh dari kata mudah. Negeri itu sudah bertahun-tahun dilanda konflik berkepanjangan yang menekan sektor pendidikan dan ekonomi. Untuk itu, beasiswa ke luar negeri adalah salah satu jalan keluar.

Belajar di negara yang asing, Al-faqeeh jelas ada kesulitan di bidang bahasa. Untuk itu, dirinya sempat mengikuti kursus Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) secara daring, sebelum di Bandung.

baca juga

Belajar Bahasa Bukan di Kelas, tapi di Bangsal Rumah Sakit

Kerap berinteraksi dengan pasien membuat Al-faqeeh makin lancar bahasa Indonesia. Sebab, Program Farmasi Klinik mewajibkan mahasiswanya praktik langsung di fasilitas kesehatan, dan Al-faqeeh kebagian RS Hasan Sadikin.

"Farmasi Klinik itu kan harus kuliah di Rumah Sakit. Nah selama itu saya praktik di RS Hasan Sadikin setiap hari dari pagi sampai sore harus berinteraksi dengan pasien, dokter, dan semua yang ada di RS," katanya.

Ia bahkan sedikit-sedikit memahami bahasa Sunda, bahasa yang jamak dipakai di lingkungan rumah sakit tersebut.

"Akhirnya, karena sering berinteraksi dengan native speaker, saya jadi bisa lebih lancar menggunakan Bahasa Indonesia, dan juga sedikit Bahasa Sunda," ujar anak sulung dari enam bersaudara ini.

Magister pun tuntas dalam tiga semester saja.

baca juga

Belasan Jurnal Internasional dari Mahasiswa yang Dulu Nol Publikasi

Selepas S2, Al-faqeeh mendaftar Beasiswa Program Doktor Padjadjaran (BPDP), beasiswa internal Unpad untuk lulusan terbaiknya yang ingin lanjut S3. Ia lolos, lalu menyelesaikan program doktor dalam waktu yang oleh dirinya sendiri disebut nyaris seperti jalur cepat.

"Saya tidak ikut program fast track, tapi timeline yang ditempuh seperti fast track," katanya.

Selama masa studi itu, belasan artikel ilmiahnya sukses menembus jurnal bereputasi Scopus Q1 dan Q2. Q1 dan Q2 adalah kategori tertinggi dalam sistem pemeringkatan jurnal internasional yang mencerminkan kualitas dan dampak sebuah publikasi ilmiah.

Padahal sebelum kuliah di Unpad, ia mengaku belum pernah sekali pun menerbitkan karya di jurnal ilmiah.

baca juga

Lingkungannya Sudah Seperti Keluarga Sendiri

Al-faqeeh menyebut suasana Fakultas Farmasi Unpad sebagai kunci lompatan produktivitas ilmiahnya.

"Unpad itu more than what I expected. Jadi, terima kasih Unpad. Fakultas Farmasi apalagi, lingkungannya sudah seperti keluarga sendiri. Jika ada masalah, semuanya bisa dibantu," ucapnya.

Ia membandingkannya dengan pengalaman rekan-rekannya sesama mahasiswa Yaman di kampus lain, yang menurutnya kerap terkendala biaya saat hendak mempublikasikan karya ilmiah.

Sejumlah karyanya sendiri lahir dari kolaborasi, bukan selalu sebagai penulis utama, hasil bimbingan intensif dari para dosennya.

Ia pun membagikan resep sederhana bagi mahasiswa lain yang ingin menembus jurnal internasional.

"Saat buat karya ilmiah sebaiknya fokus dulu pada metodologi. Buat outline terkait metodologi, kalau sudah fix maka yang lain sudah tidak terlalu susah," ujarnya.

Soal kendala menulis dalam Bahasa Inggris, ia tak menampik pentingnya teknologi AI sebagai alat bantu, dengan catatan.

"Sekarang kan sudah ada teknologi AI yang bisa membantu bagaimana meningkatkan kualitas penulisan. Tapi jangan asal copy-paste. Lalu, harus membaca karena kalau otaknya kosong ya tidak bisa," katanya.

Kini Al-faqeeh bersiap kembali ke Yaman, tempat istrinya, seorang apoteker, dan anaknya yang berusia 5 tahun menanti.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.