nona honk - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Klakson Angkot hingga “Om Telolet Om”, No Na Membawa Bunyi Indonesia ke Honk!

Dari Klakson Angkot hingga “Om Telolet Om”, No Na Membawa Bunyi Indonesia ke Honk!
images info

Dari Klakson Angkot hingga “Om Telolet Om”, No Na Membawa Bunyi Indonesia ke Honk! | Instagram @nonawav


Suara bising di jalanan mulai dari deru mesin angkot hingga klakson nyaring "om telolet om", mungkin sudah menjadi santapan harian kita, tetapi suara riuh ini justru bisa melebur dengan estetik dalam musik terbaru Nona "Honk!".

Melalui single terbarunya yang bertajuk "Honk!", grup No Na berhasil merajut bahasa jalanan dan pemandangan sehari-hari dari warung hingga angkot menjadi sebuah karya video dan musik yang memanjakan indera.

Yuk, selami lebih jauh bagaimana fenomena jalanan dan keseharian warga Indonesia ini bisa berubah wujud. Kita akan melihat hubungan antara karya seni No Na dengan fenomena angkot dan teriakan ikonik "om telolet om" yang sempat menghebohkan.

baca juga

Ketika Klakson Angkot Tak Lagi Sekadar Bunyi di Jalan

Angkot bukan sekadar moda transportasi, melainkan juga bagian dari lanskap sosial di area perkotaan Indonesia. Karakter angkot selalu lekat dengan pengalaman komunal masyarakat, mulai dari deru mesin yang khas, suara kenek yang berdiri di dekat pintu, hingga adegan saling sapa ritmis antara pengemudi dan pengendara lain lewat klakson pendek.

Bunyi klakson ini pada dasarnya telah bertransformasi menjadi sebuah bahasa jalanan yang dipahami secara insting oleh masyarakat tanpa perlu repot diterjemahkan.

Fenomena keseharian inilah yang kemudian diserap dan dihidupkan kembali dalam lagu "Honk!" milik No Na. Menyadarkan kita bahwa sesuatu yang sangat lumrah dalam rutinitas harian ternyata bisa beralih rupa menjadi elemen estetis yang segar ketika ditempatkan di dalam bingkai karya seni budaya populer.

Dari Angkot, Kita Pernah Berteriak “Om Telolet Om”

Beranjak dari dinamika angkot, jalanan kita juga pernah diwarnai oleh fenomena "om telolet om" yang sangat menghibur. Konteks awalnya bermula dari kebiasaan sederhana anak-anak di pinggir jalan yang meminta sopir bus antarkota membunyikan klakson dengan pola nada tertentu.

Banyak bus biasanya memodifikasi bunyi klakson mereka, menjadikannya unik dan berbeda satu sama lain. Untuk fenomena telolet sendiri, BBC News mengungkapkan bahwa otobus Efisiensi menjadi perusahaan pertama yang mempopulerkannya. Meski begitu, penggunaannya tidak langsung diterima dengan baik karena dinilai bising. Baru pada akhir tahun 2016, klakson "om telolet om" menjadi populer.

Pola bunyi yang ritmis dan ceria ini mudah sekali dikenali, sehingga dengan cepat meluas dan dibagikan ke berbagai penjuru media sosial. Masyarakat membuktikan bahwa mereka merupakan audiens aktif yang dapat memberi makna baru yang menyenangkan terhadap sebuah bunyi yang awalnya hanya berfungsi sebagai peringatan keselamatan lalu lintas, lalu menjelma menjadi budaya populer.

Menariknya, dua fenomena jalanan ini saling bertautan dan disinggung secara cerdik dalam lagu No Na "Honk!".

Billboard Philippines melalui Instagram resminya turut menyoroti bagaimana No Na memasukkan unsur bunyi-bunyian kendaraan lokal "om telolet om" yang sempat viral ini lewat single terbaru mereka.

Rich Brian, rapper kenamaan Indonesia, juga berbagi melalui Instagram Story miliknya, menunjukkan bagaimana ia berpartisipasi dalam menyanyikan bagian "om telolet om" di musik terbaru No Na. Barangkali Kawan belum menyadarinya karena suaranya tersembunyi di balik efek suara.

"Om telolet om" dan dinamika angkot memang dua hal yang berbeda, tetapi keduanya sukses dibaca sebagai contoh konkret bagaimana interaksi jalanan yang "bising" mampu melebur menjadi budaya pop yang membanggakan.

“Honk!” dan Cara No Na Mendengarkan Indonesia

Nona
Nona "Honk!", Cara Mereka Mendengarkan Keseharian Kita | Instagram: @tatlerindonesia dan @nonawav

Melalui "Honk!", No Na sejatinya ingin mendokumentasikan serpihan pengalaman lokal yang sangat dekat dengan kehidupan kita. Pendekatan ini menjadi sangat menarik karena mereka tidak sekadar menempelkan bunyi, melainkan secara cerdas menerjemahkan pengalaman bising jalanan menjadi sebuah karya pop yang dinamis, terstruktur, bahkan mengundang timbulnya earworm.

Seperti yang ditekankan Esther dalam wawancara Nona dalam festival Head In The Clouds (HITC) Los Angeles 2026 belum lama ini, memasukkan (budaya dan karakter khas) Indonesia dalam tren mainstream memang sudah menjadi tujuan sejak awal No Na dibentuk.

Ia juga menyinggung bagaimana orang-orang masih kurang familiar dengan Indonesia dan banyak orang yang belum mengetahui kekayaan Nusantara mulai dari makanan, budaya, bahasa, hingga musik yang tersimpan di hamparan luas lebih dari 17.000 pulau dan lebih dari 30 provinsi.

Dari wawancara itu pun tampak bahwa No Na sadar sepenuhnya bahwa ada banyak sekali hal yang bisa ditawarkan oleh Nusantara kepada dunia dan grup tersebut hadir untuk mengenalkannya dengan cara yang menyenangkan.

Hal ini pun bisa Kawan lihat melalui "Honk!" yang hadir bukan dengan klaim berlebihan untuk mewakili seluruh wajah Indonesia yang begitu kompleks, melainkan menangkap satu fragmen kecil dari denyut nadi kehidupan komuter kita.

Sebelumnya, Nona juga konsisten mempromosikan Indonesia. Misalnya melalui penggunaan alat musik Ceng-Ceng khas Bali dalam music video dan irama lagu Work.

Perlahan tapi pasti, No Na menyingkap sudut-sudut budaya melalui setiap karya yang diluncurkan dan memperkenalkannya pada dunia. Pada titik ini, musik berfungsi sebagai arsip kebudayaan brilian yang mencatat pengalaman sehari-hari.

baca juga

Barangkali, Indonesia Memang Punya Banyak Hal Kecil yang Layak Didengar Dunia

Pendekatan eksploratif No Na ini membuka sebuah ruang refleksi yang menyegarkan bagi para pegiat industri kreatif. Barangkali, Indonesia memang memiliki banyak hal kecil dalam keseharian yang unik dan layak untuk dibawa ke panggung pameran internasional.

Kita memiliki suara denting mangkuk tukang bakso yang khas, suara kerincing dari pedagang sate, hingga irama kentongan di pos ronda saat malam hari yang penuh ritme dan membawa pesan makna tersendiri.

Membawa identitas lokal ke kancah global tidak melulu berarti kita harus mengubahnya agar sesuai dengan standar estetika asing yang kaku. Justru, daya tarik yang sesungguhnya memancar ketika karakter asli nan otentik tersebut tetap dipertahankan dengan penuh percaya diri.

Ini bukanlah sebuah glorifikasi budaya, melainkan kesadaran murni bahwa "Honk!" adalah contoh konkret bagaimana hal biasa bisa memicu percikan ide kreatif yang fenomenal.

Dari Bunyi yang Kita Anggap Biasa, Ada Cerita tentang Indonesia

Karya musik pada akhirnya mampu membuat kita mendengar kembali hal-hal yang selama ini terlalu akrab sehingga kerap luput dari observasi. Suasana jalanan dan bunyi klakson yang mengawali kisah ini kini tidak lagi sekadar menjadi angin lalu di telinga, tetapi melebur menjadi karya populer.

Kekuatan utama dari "Honk!" bukanlah semata-mata pada inovasi dentuman nadanya, melainkan pada kemampuannya menyadarkan kita bahwa sesuatu yang biasa sungguh layak untuk diapresiasi secara mendalam.

Barangkali, selama ini Indonesia memang tidak pernah kekurangan cerita artistik untuk dibagikan ke seluruh dunia, kita hanya perlu meluangkan waktu sejenak, diam sembari mengamati sekitar, dan mulai lebih sering mendengarkan bagaimana bunyi peradaban yang berdenyut di sekitar kita.

baca juga

Yuk, terus lanjutkan eksplorasi Kawan GNFI mengenai musik, literasi, budaya populer, dan berbagai fenomena keseharian Indonesia yang inspiratif melalui artikel-artikel menarik lainnya di Good News From Indonesia.

Musik dan karya seni selalu bisa menjadi kacamata alternatif yang menyegarkan untuk melihat kembali Indonesia dari sudut pandang berbeda, terutama melalui hal-hal kecil yang kerap kita abaikan di jalanan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.