Kawan GNFI, ada fakta yang sekaligus membanggakan dan mengusik pikiran dari sebuah kajian ilmiah yang diterbitkan di jurnal internasional Research Ideas and Outcomes. Indonesia dinobatkan memiliki Indeks Biodiversitas Nasional (National Biodiversity Index/NBI) tertinggi di antara seluruh negara anggota ASEAN, bahkan tertinggi dari 10 negara yang dibandingkan.
Namun, di balik status membanggakan itu, ternyata hampir 60 persen dari seluruh publikasi ilmiah tentang biodiversitas Indonesia justru ditulis tanpa melibatkan satu pun peneliti dari institusi Indonesia.
Rumah bagi Empat Titik Panas Biodiversitas Dunia
Kajian yang ditulis oleh tim peneliti dari Museum für Naturkunde Berlin bersama Museum Zoologicum Bogoriense, Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI), ini mengungkap betapa istimewanya posisi Indonesia dalam peta biodiversitas dunia.
Kepulauan Asia Tenggara mencakup empat dari 25 titik panas biodiversitas global, tiga dari 17 negara megadiverse dunia yaitu Indonesia, Malaysia, dan Filipina, serta terumbu karang paling beragam di seluruh dunia.
Yang membuat Indonesia begitu istimewa dibanding negara ASEAN lainnya adalah kombinasi dua titik panas biodiversitas sekaligus dalam satu negara, yakni kawasan yang memiliki tingkat endemisme spesies sangat tinggi, tetapi juga sangat terancam oleh kehilangan habitat.
Karakter kepulauan Indonesia beserta sejarah geologis yang sangat kompleks telah melahirkan evolusi fauna dan flora megadiverse dalam skala global.
Angka-angkanya sungguh mengagumkan: Indonesia memiliki jumlah tanaman obat asli terbanyak kedua di dunia setelah hutan hujan Amazon, 10 persen dari seluruh spesies tumbuhan berbunga dunia, sekitar 12 persen dari seluruh mamalia dunia, sekitar 16 persen dari seluruh reptil dunia, dan 17 persen dari total spesies burung di seluruh planet ini.
Kekayaan Budaya yang Sejalan dengan Kekayaan Hayati
Kawan, yang menarik dari kajian ini adalah temuan bahwa kekayaan biodiversitas Indonesia berjalan seiring dengan kekayaan budayanya. Indonesia tidak hanya megadiverse dari segi biodiversitas, tetapi juga dari segi keragaman budaya.
Negara ini memiliki sekitar 370 kelompok etnis, menjadikannya keragaman budaya tertinggi ketiga di dunia, yang berasosiasi dengan tradisi panjang sistem pengetahuan lokal tentang pemanfaatan biodiversitas secara berkelanjutan dan konservasi alam.
Para peneliti menggambarkan bagaimana pengetahuan tentang biodiversitas di Indonesia berkembang melalui tiga jalur: jalur tradisional yang mencakup pengetahuan lokal dan pengobatan tradisional seperti jamu, jalur transisi yang mencakup kebijakan nasional tentang konservasi, dan jalur modern yang mencakup penelitian, bioteknologi, farmasi, dan kebijakan lingkungan.
Yang menarik, jalur-jalur ini tidak bergerak satu arah, karena pengetahuan tradisional kerap kembali populer bahkan di tengah kehidupan modern.
Peringkat Tertinggi dalam Publikasi Ilmiah, tetapi Minim Peneliti Lokal
Di sinilah letak temuan yang perlu menjadi renungan bersama, Kawan. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa semakin tinggi Indeks Biodiversitas Nasional suatu negara, semakin tinggi pula jumlah publikasi riset internasional tentang biodiversitas negara tersebut.
Indonesia memiliki NBI tertinggi sekaligus jumlah publikasi ilmiah tertinggi, dengan Malaysia di posisi kedua dan Filipina di posisi ketiga.
Namun ketika dibandingkan berdasarkan persentase penulis lokal terhadap total publikasi, urutannya berubah drastis. Singapura menempati posisi tertinggi, diikuti Thailand dan Filipina, sementara Indonesia hanya berada di peringkat keenam.
Sebagai perbandingan yang mengejutkan, Jerman mencatat 933 publikasi tentang biodiversitas lokalnya dengan 85 persen melibatkan penulis Jerman, sementara Brasil yang juga megadiverse mencatat 3.372 publikasi dengan 84 persen melibatkan penulis lokal.
Hambatan Birokrasi yang Menghalangi Potensi Penuh
Kajian ini secara jujur mengidentifikasi akar masalah dari kesenjangan tersebut. Ada kekhawatiran yang meningkat di kalangan komunitas riset biodiversitas Indonesia terkait pemotongan anggaran pemerintah, serta proses aplikasi izin penelitian bagi peneliti asing di Indonesia yang rumit dan memakan waktu lama.
Teknik inventarisasi biodiversitas modern seperti DNA-sequencing dan DNA-barcoding juga jauh lebih mahal dilakukan di Indonesia dibandingkan di Eropa atau Singapura.
Hambatan lain bagi peneliti dan institusi lokal adalah akses terbatas terhadap literatur ilmiah internasional.
Para peneliti menyimpulkan bahwa untuk merealisasikan potensi risetnya secara penuh, Indonesia perlu meningkatkan manfaat dari kolaborasi internasional sekaligus memperkuat kelompok-kelompok kepentingan biodiversitas di tingkat nasional.
Salah satu caranya adalah dengan menghubungkan koleksi sejarah alam Indonesia secara regional, berkolaborasi dengan museum dan herbarium di negara-negara Barat untuk mendapatkan akses lebih baik terhadap koleksi historis melalui digitalisasi, serta memperkuat kapasitas dalam bidang taksonomi dan akses terhadap literatur ilmiah internasional.
Langkah Positif yang Sudah Dimulai
Kawan GNFI, di tengah tantangan tersebut, ada perkembangan positif yang patut diapresiasi. Pada 2015, Indonesia meluncurkan Strategi dan Rencana Aksi Biodiversitas Indonesia (IBSAP) 2015-2020 untuk melindungi dan memanfaatkan secara berkelanjutan sumber daya biodiversitasnya yang melimpah demi meningkatkan peluang ekonomi dan pembangunan.
Indonesia juga menjadi salah satu negara pertama di dunia yang menandatangani Protokol Nagoya ketika dibuka untuk penandatanganan pada Mei 2011, meratifikasinya pada September 2013, dan statusnya sebagai anggota resmi berlaku sejak Oktober 2014.
Protokol ini memberikan perlindungan hukum yang jelas atas sumber daya genetik dari biodiversitas nasional Indonesia, termasuk pengetahuan tradisional yang berkaitan dengannya.
Kerja sama internasional pun mulai terjalin secara produktif. Indonesia dan Jerman, misalnya, memiliki kerja sama jangka panjang di bidang bioteknologi, termasuk 8 proyek riset kolaboratif Jerman-Indonesia yang didanai Kementerian Federal Pendidikan dan Riset Jerman dalam kerangka program "Biodiversity & Health", disertai program beasiswa riset pendamping.
Potensi Besar yang Menunggu Digenggam Sepenuhnya
Kawan, kesimpulan dari kajian ini sangat jelas: Indonesia memiliki potensi biodiversitas tertinggi, bahkan mungkin yang tertinggi, di seluruh kawasan ASEAN. Namun negara ini belum sepenuhnya memanfaatkan potensi besar tersebut.
Diperlukan investasi yang terarah dan strategis dalam kapasitas ilmiah dan pendidikan nasional untuk memungkinkan nilai jangka panjang dari biodiversitasnya benar-benar dirasakan oleh Indonesia sendiri.
Sebagai negara megadiverse, Indonesia memiliki pengaruh terhadap iklim, sumber daya hayati, kesejahteraan manusia, dan kesehatan dalam skala yang lebih luas dari sekadar batas nasionalnya.
Inilah mengapa keseimbangan antara proteksi kedaulatan biodiversitas nasional dengan akses yang bijak bagi kolaborasi ilmiah internasional menjadi kunci penting untuk menjawab tantangan global di masa depan, mulai dari konservasi, isu kesehatan, ketahanan pangan, hingga perubahan iklim.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


