Kawan GNFI, coba bayangkan angka ini sejenak: 135 tahun. Itulah proyeksi waktu yang dibutuhkan dunia untuk benar-benar menutup kesenjangan ekonomi antara laki-laki dan perempuan, jika laju kemajuan saat ini terus berjalan apa adanya.
Artinya, anak-anak yang lahir hari ini mungkin tidak akan pernah melihat kesetaraan ekonomi gender sepenuhnya terwujud, bahkan hingga generasi cicit mereka kelak.
Angka mengejutkan ini bukan asumsi sembarangan, melainkan temuan dari Global Gender Gap Report 2025, laporan tahunan ke-19 yang diterbitkan World Economic Forum (WEF) sejak 2006, dan menjadi indeks gender gap dengan rekam jejak terpanjang di dunia.
Empat Dimensi, Satu Potret Besar Ketimpangan
Laporan ini mengukur kesenjangan gender berdasarkan empat dimensi utama: apartisipasi dan kesempatan ekonomi, capaian pendidikan, kesehatan dan kelangsungan hidup, serta pemberdayaan politik.
Edisi 2025 mencakup 148 negara, mewakili sekitar dua pertiga populasi dunia atau sekitar 75 persen perekonomian global.
Secara keseluruhan, dunia telah menutup 68,8 persen kesenjangan gender global, naik 0,3 poin persentase dari tahun sebelumnya.
Kemajuan ini didorong terutama oleh perbaikan pada pemberdayaan politik, yang meningkat 0,7 poin persentase, dan partisipasi serta kesempatan ekonomi yang naik 0,4 poin persentase.
Namun, di balik tren positif yang terlihat tipis ini, kenyataannya masih sangat jauh dari kata setara. Kesenjangan pada bidang kesehatan dan kelangsungan hidup sudah tertutup 96,2 persen, dan capaian pendidikan tertutup 95,1 persen.
Akan tetapi, dua dimensi lainnya jauh tertinggal: partisipasi dan kesempatan ekonomi baru tertutup 61,0 persen, sementara pemberdayaan politik bahkan baru tertutup 22,9 persen.
Mengapa Dimensi Ekonomi Butuh Waktu Sangat Lama?
Inilah inti persoalan yang membuat angka 135 tahun itu muncul. Sejak indeks ini pertama kali dirilis pada 2006, kesenjangan partisipasi dan kesempatan ekonomi baru menyempit 5,6 poin persentase, dari 55,1 persen menjadi 60,7 persen pada 2025.
Dengan laju setipis itu, proyeksi WEF menyebutkan diperlukan 135 tahun lagi untuk benar-benar menutup kesenjangan ini sepenuhnya jika tren saat ini bertahan.
Sebagai perbandingan, kesenjangan pemberdayaan politik justru menunjukkan perbaikan paling signifikan sejak 2006, menyempit 9,0 poin persentase. Namun, karena titik awalnya yang sangat rendah, kesenjangan ini pun diperkirakan baru tertutup dalam 162 tahun.
Ketimpangan paling ekstrem dalam dimensi ekonomi terlihat pada dua indikator: estimasi pendapatan yang diterima dan proporsi perempuan dalam posisi legislator, pejabat senior, dan manajer, dengan selisih antara negara tertinggi dan terendah melebihi 90 poin persentase. Sementara kesenjangan upah untuk pekerjaan setara justru menjadi disparitas terkecil, dengan selisih 47 poin persentase.
Fenomena yang Sangat Ironis: Pendidikan Tinggi, tetapi Posisi Rendah
Salah satu temuan paling menarik dari laporan ini adalah adanya ketimpangan antara investasi pendidikan dan hasil nyata di dunia kerja. Perempuan kini semakin unggul dalam capaian pendidikan tinggi dibanding laki-laki di banyak negara.
Namun, mereka tetap kurang terwakili di dunia kerja maupun posisi kepemimpinan, dengan hanya 29,5% persen manajer senior berpendidikan tinggi yang merupakan perempuan.
Ketimpangan ini menggambarkan inefisiensi sistemik dalam menerjemahkan kesiapan keterampilan menjadi keterlibatan ekonomi dan kepemimpinan yang nyata.
Dengan kata lain, perempuan sudah "membayar lunas" investasi pendidikan mereka, tetapi hasil ekonominya belum sepadan.
Wilayah Mana yang Paling Cepat Mengejar Ketertinggalan?
Kawan GNFI, laporan ini juga memetakan performa berdasarkan kawasan. Amerika Utara memimpin peringkat kesenjangan gender regional 2025 dengan 75,8 persen kesenjangan tertutup, sementara Eropa berada di posisi kedua dengan 75,1 persen.
Yang menarik, Amerika Latin dan Karibia mencatat laju kemajuan tercepat, telah maju 8,6 poin persentase sejak 2006, dan menjadi satu-satunya kawasan yang diproyeksikan mencapai kesetaraan penuh dalam waktu yang jauh lebih singkat, yakni 57 tahun, jauh lebih cepat dibanding rata-rata global.
Secara keseluruhan, hanya ada tiga kawasan di dunia yang diposisikan mampu menutup kesenjangan gendernya dalam waktu kurang dari satu abad ke depan.
Mengapa Ketidaksetaraan Ini Berbahaya bagi Ekonomi Dunia
Laporan ini menegaskan bahwa kelambanan dan keraguan dalam mengatasi kesenjangan ini bukan sekadar isu keadilan sosial, melainkan ancaman nyata bagi ketahanan ekonomi global, melalui talenta yang kurang dimanfaatkan, produktivitas yang hilang, inovasi yang melambat, dan kohesi sosial yang terkikis.
Survei yang dilakukan WEF pada Mei 2025 bahkan menemukan 82 persen kepala ekonom global menilai ketidakpastian ekonomi dunia saat ini sangat tinggi.
Dalam kondisi seperti ini, mempercepat kesetaraan gender justru bisa menjadi kekuatan penstabil yang signifikan bagi perekonomian dunia.
Bukan Sekadar Angka Statistik
Kawan, angka 123 tahun untuk kesenjangan gender keseluruhan, atau 135 tahun khusus untuk dimensi ekonomi, mungkin terasa begitu jauh dan abstrak. Namun, di baliknya tersimpan kisah nyata jutaan perempuan di seluruh dunia, termasuk Indonesia, yang setiap hari bekerja keras, tetapi masih menghadapi tembok struktural yang lebih tinggi dibanding rekan laki-laki mereka.
Yang menarik, laporan WEF juga menemukan bahwa negara berpenghasilan rendah pun bisa mencapai tingkat kesetaraan yang tinggi, bahkan mengungguli lebih dari separuh negara berpenghasilan tinggi. Artinya, kesetaraan gender bukan semata soal seberapa kaya suatu negara, melainkan seberapa serius komitmen kebijakan yang dijalankan.
Pertanyaannya kini kembali pada kita semua: akankah kita membiarkan proyeksi 135 tahun ini menjadi kenyataan, atau justru menjadi pemicu untuk mempercepat langkah menuju kesetaraan yang lebih nyata?
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


