dari warung desa ke layar digital langkah umkm desa sindangsari bersama kknt ipb university - News | Good News From Indonesia 2026

Dari Warung Desa ke Layar Digital: Langkah UMKM Desa Sindangsari bersama KKNT IPB University

Dari Warung Desa ke Layar Digital: Langkah UMKM Desa Sindangsari bersama KKNT IPB University
images info

Pendampingan Pembuatan QRIS kepada Pelaku UMKM Desa Sindangsari oleh KKNT IPB University SUBANGKAB14 (Foto: Muhammad Agung R)


Perubahan besar sering kali berawal dari langkah kecil. Hal itu kini terlihat di Desa Sindangsari, Kecamatan Kasomalang, Kabupaten Subang, Jawa Barat, ketika pelaku UMKM mulai beradaptasi dengan dunia digital.

Selama ini, sebagian besar pelaku UMKM di Desa Sindangsari masih mengandalkan pemasaran dari mulut ke mulut serta penjualan langsung di lingkungan sekitar. Namun, seiring berkembangnya teknologi, peluang untuk menjangkau pasar yang lebih luas semakin terbuka.

Kawan GNFI, menjawab tantangan tersebut, mahasiswa KKNT Inovasi IPB University SUBANGKAB14 menghadirkan program digitalisasi UMKM yang dilaksanakan pada 20 hingga 31 Juli 2026.

Program ini menjadi langkah awal bagi pelaku usaha desa untuk memasuki ekosistem digital secara bertahap dan berkelanjutan.

baca juga

Dari Cara Konvensional Menuju Digital

Pendampingan Pembuatan QRIS oleh Tim KKNT IPB University kepada Pelaku UMKM Desa Sindangsari (Foto: Muhammad Agung R)

Peralihan dari metode pemasaran tradisional menuju digital tentu bukan hal yang mudah. Banyak pelaku UMKM yang masih belum terbiasa menggunakan teknologi, baik untuk promosi maupun transaksi.

Melalui pendekatan yang sederhana dan aplikatif, tim KKNT IPB University SUBANGKAB14 membantu pelaku usaha memahami dasar-dasar digitalisasi. Salah satu langkah yang dilakukan adalah pembuatan QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) sebagai metode pembayaran non-tunai.

Kehadiran QRIS tidak hanya memudahkan transaksi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan konsumen terhadap usaha yang dijalankan. Bagi sebagian pelaku UMKM, ini menjadi pengalaman pertama mereka mengenal sistem pembayaran digital.

Selain itu, KKNT IPB University SUBANGKAB14 juga membantu mendaftarkan lokasi usaha ke dalam platform Google Maps. Dengan adanya titik lokasi digital, usaha yang sebelumnya sulit ditemukan kini dapat diakses dengan lebih mudah oleh konsumen, termasuk dari luar daerah.

Langkah ini menunjukkan bahwa transformasi digital tidak selalu harus dimulai dari hal besar, melainkan dari solusi sederhana yang langsung dirasakan manfaatnya.

baca juga

Menguatkan Daya Tarik lewat Konten Visual

Tidak hanya berfokus pada transaksi dan lokasi, program ini juga menyasar aspek promosi. Produk-produk UMKM yang sebelumnya hanya dipasarkan secara langsung kini mulai dikemas dalam bentuk video promosi.

Video tersebut dibuat dengan pendekatan visual yang menarik dan komunikatif, kemudian dipublikasikan melalui media sosial. Upaya tersebut menjadi pintu masuk bagi pelaku UMKM untuk membangun identitas digital sekaligus memperluas jangkauan pasar.

Kawan, di era saat ini, konten visual memiliki peran penting dalam menarik perhatian konsumen. Melalui video promosi, produk lokal dapat tampil lebih profesional dan kompetitif di tengah persaingan pasar digital.

Langkah Kecil, Dampak Nyata

Pendaftaran Titik Lokasi UMKM Desa Sindangsari di Google Maps (Foto: Muhammad Agung R)

Selama pelaksanaan program, KKNT IPB University SUBANGKAB14 mencatat sejumlah capaian yang menunjukkan progres positif. Sebanyak 3 pelaku UMKM telah memiliki QRIS sebagai metode pembayaran digital.

Selain itu, terdapat 12 titik lokasi usaha yang berhasil didaftarkan di Google Maps, serta 5 video promosi yang telah diproduksi dan dipublikasikan.

Meski jumlah tersebut masih terbatas, capaian ini menjadi bukti bahwa digitalisasi dapat dimulai dari langkah kecil yang nyata. Dengan pendampingan yang tepat, pelaku UMKM mampu beradaptasi dengan perubahan secara bertahap.

baca juga

Harapan untuk UMKM yang Lebih Berdaya

Salah satu perwakilan tim KKNT IPB University SUBANGKAB14, Yessi Agustina Sri Rezeki, menyampaikan harapannya agar program ini dapat memberikan dampak jangka panjang.

“Melalui program ini, kami berharap UMKM Desa Sindangsari dapat semakin dikenal dan mampu memanfaatkan teknologi digital sebagai sarana pengembangan usaha,” ujar Yessi.

Kawan GNFI, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah capaian, tetapi juga dari perubahan pola pikir pelaku UMKM dalam memandang teknologi sebagai peluang.

Ke depan, tantangan seperti keterbatasan literasi digital, akses internet, serta kekhawatiran terhadap keamanan transaksi masih perlu dihadapi. Namun, dengan pendampingan yang berkelanjutan, tantangan tersebut dapat diatasi secara perlahan.

Kolaborasi Mahasiswa dan Masyarakat

Program digitalisasi UMKM ini juga menjadi wujud nyata kontribusi mahasiswa dalam pemberdayaan masyarakat. Kehadiran mahasiswa tidak hanya membawa pengetahuan, tetapi juga menjadi jembatan antara teknologi dan kebutuhan masyarakat desa.

Melalui pendekatan yang kolaboratif, pelaku UMKM diajak untuk belajar sekaligus mencoba secara langsung penggunaan teknologi dalam usaha mereka.

Transformasi digital di Desa Sindangsari mungkin masih berada pada tahap awal. Namun, langkah ini menjadi fondasi penting dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang lebih inklusif dan berdaya saing.

Dari warung sederhana di sudut desa hingga tampil di layar digital, perjalanan UMKM Sindangsari menjadi cerita tentang keberanian untuk berubah dan beradaptasi dengan zaman.

Dan seperti yang kita lihat bersama, Kawan, setiap perubahan besar selalu dimulai dari satu langkah kecil yang berani.

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

YA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.