Kawan GNFI, ada capaian kesehatan bangsa yang layak kita ketahui bersama, sekaligus tantangan yang masih perlu terus diperjuangkan. Jurnal kedokteran paling bergengsi di dunia, The Lancet, pernah menerbitkan kajian komprehensif tentang perjalanan panjang sistem kesehatan Indonesia menuju Universal Health Coverage atau layanan kesehatan semesta.
Kajian yang ditulis langsung oleh Indonesian Health Systems Group ini memotret dengan jujur, baik kemajuan luar biasa yang sudah dicapai maupun pekerjaan rumah yang masih harus diselesaikan.
Untuk memahami bagaimana tantangan membangun sistem kesehatan di Indonesia, kita perlu memahami dulu skala negara ini. Indonesia adalah negara berpendapatan menengah yang tumbuh pesat dengan 262 juta penduduk dari lebih dari 300 kelompok etnis dan 730 kelompok bahasa yang tersebar di 17.744 pulau, menghadirkan tantangan unik bagi sistem kesehatan dan upaya mewujudkan layanan kesehatan semesta.
Bayangkan, Kawan, membangun sistem kesehatan yang merata untuk populasi sebesar itu, dengan keragaman bahasa dan budaya yang begitu luas, tersebar di ribuan pulau dengan kondisi geografis yang sangat berbeda-beda.
Tidak ada satu solusi tunggal yang bisa langsung diterapkan secara seragam dari Sabang sampai Merauke.
Lompatan Luar Biasa dalam Empat Dekade
Meski tantangannya sangat besar, data yang dipaparkan dalam kajian ini menunjukkan kemajuan yang sungguh mengagumkan. Dari 1960 hingga 2001, sistem kesehatan tersentralisasi Indonesia mencatat kemajuan luar biasa: infrastruktur layanan medis tumbuh dari nyaris tidak ada pusat kesehatan primer menjadi 20.900 pusat kesehatan yang tersebar di seluruh negeri.
Dampaknya terasa langsung pada kehidupan jutaan rakyat Indonesia. Angka harapan hidup meningkat dari 48 menjadi 69 tahun, angka kematian bayi turun drastis dari 76 kematian per 1.000 kelahiran hidup menjadi 23 per 1.000, dan angka kesuburan total turun dari 5,61 menjadi 2,11.
Mari kita renungkan angka-angka ini sejenak, Kawan. Bayangkan seorang ibu yang lahir pada 1960, hidup dengan harapan hidup rata-rata hanya 48 tahun. Bandingkan dengan anaknya yang lahir empat dekade kemudian, dengan harapan hidup yang meningkat 21 tahun lebih panjang.
Bayangkan pula ribuan bayi yang dulunya tidak selamat melewati tahun pertama kehidupan mereka, kini punya peluang hidup yang jauh lebih besar berkat perbaikan sistem kesehatan yang berjalan konsisten selama puluhan tahun.
JKN: Lompatan Besar Menuju Kesehatan untuk Semua
Babak paling penting dalam perjalanan kesehatan Indonesia adalah lahirnya Jaminan Kesehatan Nasional (JKN), program asuransi kesehatan nasional yang bertujuan memastikan seluruh rakyat Indonesia memiliki akses terhadap layanan kesehatan tanpa harus menanggung beban finansial yang memberatkan.
Dengan memobilisasi dana dari kontribusi wajib peserta, pembiayaan kesehatan di Indonesia diproyeksikan meningkat secara substansial.
Meski cakupan populasi dan pengeluaran melalui sistem asuransi kesehatan nasional ini meningkat pesat, perencanaan dan peluncuran JKN sejak awal didorong oleh penyediaan layanan kuratif dan keinginan untuk menciptakan sistem asuransi kesehatan yang fleksibel. Namun, tetap akuntabel dalam skala besar. Dengan demikian, mampu terhubung secara efisien dengan kondisi dan sumber daya yang sangat beragam di seluruh negeri.
Ini adalah pencapaian yang luar biasa mengingat kompleksitas geografis dan demografis Indonesia. JKN kini menjadi salah satu skema asuransi kesehatan nasional dengan cakupan peserta terbesar di dunia, sebuah eksperimen kebijakan publik yang diperhatikan oleh banyak negara berkembang lain yang menghadapi tantangan serupa.
Kesenjangan yang Masih Harus Ditutup
Kawan, kajian dari The Lancet ini juga jujur mengungkap bahwa kemajuan yang dicapai Indonesia sangat tidak merata di seluruh wilayah. Kesenjangan kesehatannya cukup besar, seperti stagnannya angka kematian ibu di kisaran 300 kematian per 100.000 kelahiran hidup dan minimnya perubahan pada angka kematian neonatal.
Pendekatan tersentralisasi yang seragam untuk semua daerah ternyata tidak mampu menjawab kompleksitas dan keragaman kepadatan serta persebaran penduduk di berbagai pulau, pola makan, penyakit, gaya hidup lokal, kepercayaan tentang kesehatan, dan berbagai faktor sosial lainnya yang sangat bervariasi di seluruh Indonesia.
Data lain yang dipaparkan turut menggambarkan beban kesehatan yang masih tinggi: angka kematian ibu mencapai 359 kematian per 100.000 kelahiran hidup. Stunting pada anak di bawah usia lima tahun mencapai 31 persen. Tuberkulosis mencatat satu juta kasus baru setiap tahunnya. Obesitas melonjak tajam dari 10 persen pada 2007 menjadi 21 persen pada 2016. Selain itu, terjadi peningkatan 63 persen jumlah kasus diabetes sejak 2005.
Pelajaran untuk Perjalanan yang Masih Panjang
Kawan GNFI, kajian dari The Lancet ini memberikan gambaran yang sangat berimbang tentang perjalanan kesehatan Indonesia. Di satu sisi, kita punya alasan kuat untuk bangga. Dari negara dengan infrastruktur kesehatan yang nyaris tidak ada pada awal kemerdekaan, Indonesia berhasil membangun jaringan puluhan ribu pusat kesehatan. Bahkan, punya salah satu sistem asuransi kesehatan nasional terbesar di dunia, sambil terus meningkatkan usia harapan hidup rakyatnya secara signifikan.
Di sisi lain, kajian ini juga mengingatkan kita bahwa perjalanan menuju layanan kesehatan yang benar-benar merata dan berkualitas tinggi bagi seluruh rakyat Indonesia masih panjang.
Kesenjangan antara Jawa dan luar Jawa, antara kota dan desa, antara wilayah barat dan timur Indonesia, masih menjadi pekerjaan rumah besar yang harus terus dikerjakan bersama.
Yang membanggakan, penelitian internasional sekelas The Lancet mengakui dan mendokumentasikan perjalanan Indonesia ini secara serius, Menempatkannya sebagai studi kasus yang relevan bagi negara-negara berkembang lain di dunia yang sedang berjuang membangun sistem kesehatan yang inklusif di tengah tantangan geografis dan demografis yang kompleks.
Kemajuan kesehatan bangsa bukan pekerjaan satu generasi, Kawan, melainkan estafet panjang yang terus berjalan dari satu dekade ke dekade berikutnya. Indonesia telah membuktikan bahwa dengan komitmen yang konsisten, lompatan besar dalam kesehatan rakyat benar-benar mungkin dicapai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


