Banyak pelaku usaha mikro merasa usahanya terus berjalan dengan baik. Dagangan tetap laku, pelanggan datang silih berganti, dan uang terus berputar setiap hari. Namun, ketika ditanya berapa keuntungan yang sebenarnya diperoleh dalam sebulan, tidak sedikit yang kesulitan menjawab.
Kebiasaan mencatat keuangan yang masih minim menjadi salah satu penyebabnya. Padahal, pencatatan sederhana dapat membantu pelaku usaha mengetahui kondisi usahanya sekaligus menjadi dasar dalam mengambil keputusan bisnis.
Kondisi serupa juga ditemukan oleh mahasiswa IPB University yang tergabung dalam KKN Tematik Inovasi IPB University saat melaksanakan pengabdian masyarakat di Kelurahan Tegalmunjul, Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta pada Juli 2026.
Berdasarkan hasil observasi lapangan dan diskusi bersama Pendamping Program Keluarga Harapan (PKH), sebagian besar Kelompok Penerima Manfaat (KPM) Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi (PPSE) telah memiliki usaha produktif, tetapi belum konsisten melakukan pencatatan keuangan.
"Sasaran yang tepat mungkin bisa kepada penerima bantuan PPSE, karena sebagian besar penerima PPSE belum konsisten dalam melakukan pencatatan keuangan usahanya, sekaligus sebagai alat bantu dalam monitoring dan evaluasi penerima PPSE," ujar Desi, Pendamping PKH wilayah Tegalmunjul.

Inisiasi Program PINTAR (PENDIDIKAN LITERASI KEUANGAN RUMAH TANGGA)
Berangkat dari temuan tersebut, tim KKNT Inovasi IPB menginisiasi Program PINTAR (Pendidikan Literasi Keuangan Rumah Tangga). Kegiatan ini bertujuan membekali KPM PPSE dengan kemampuan mengelola keuangan rumah tangga dan usaha, membantu mereka menyusun tujuan keuangan, serta mendorong kemandirian ekonomi melalui pengelolaan usaha yang lebih terencana.
Berbeda dengan pelatihan pada umumnya, Program PINTAR menggunakan pendekatan one-to-one. Tim mahasiswa mendatangi setiap KPM PPSE di kediamannya masing-masing sehingga proses pendampingan dapat berlangsung lebih fokus dan sesuai dengan kondisi usaha peserta. Setiap KPM memperoleh dua kali sesi pendampingan yang disertai praktik langsung menggunakan data keuangan usahanya sendiri.
Materi yang diberikan mencakup empat aspek utama literasi keuangan, yaitu recording (pencatatan keuangan), budgeting (penganggaran), saving and investing (menabung dan perencanaan keuangan), serta financial protection (proteksi keuangan). Dengan pendekatan tersebut, peserta tidak hanya memahami konsep, tetapi juga belajar menerapkannya dalam aktivitas usaha sehari-hari.
Tools yang menjadi Alat Bantu: Inovasi Sederhana dalam Pencatatan Keuangan Usaha
Selain kegiatan pendampingan, tim KKNT Inovasi IPB juga mengembangkan template pencatatan keuangan usaha dalam dua versi, yaitu digital dan konvensional. Template ini dirancang sederhana agar mudah digunakan oleh pelaku usaha mikro dengan latar belakang dan kemampuan yang beragam.
Versi digital dilengkapi perhitungan otomatis sehingga peserta dapat langsung melihat rekap pemasukan, pengeluaran, hingga laba usaha, sedangkan versi konvensional diperuntukkan bagi peserta yang lebih nyaman melakukan pencatatan secara manual.
Inovasi tersebut mendapat respons positif dari para peserta. Salah satunya datang dari Dita, KPM PPSE di RT 02 RW 04 yang menjalankan usaha warung sembako. Saat mencoba template digital, ia mengaku pencatatan keuangan menjadi jauh lebih mudah.
"Oh, ini otomatis ya... jadi lebih simpel dan langsung ketahuan," ungkap Dita.

Bagi tim mahasiswa, tanggapan tersebut menjadi bukti bahwa teknologi sederhana dapat membantu membangun kebiasaan baru dalam mengelola keuangan. Ketika proses pencatatan dibuat lebih praktis, pelaku usaha akan lebih terdorong untuk menerapkannya secara rutin.
Pelaksanaan Program PINTAR juga berlangsung melalui kolaborasi dengan pendamping PKH Kelurahan Tegalmunjul. Sinergi ini membuat proses pendampingan lebih tepat sasaran karena disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing penerima manfaat PPSE.
Selain meningkatkan kemampuan peserta dalam mengelola keuangan, hasil pencatatan usaha juga diharapkan dapat menjadi salah satu pendukung proses monitoring dan evaluasi Program Pemberdayaan Sosial Ekonomi.
Bagi Kawan GNFI, perubahan besar seringkali berawal dari kebiasaan yang sederhana. Mencatat pemasukan dan pengeluaran mungkin terlihat sepele, tetapi dari kebiasaan itulah pelaku usaha dapat memahami kondisi usahanya, menyusun rencana keuangan, hingga mengambil keputusan yang lebih tepat.
Melalui Program PINTAR, tim KKNT Inovasi IPB berharap semangat literasi keuangan yang telah ditanamkan dapat terus tumbuh di tengah masyarakat Tegalmunjul.
Dengan kolaborasi antara perguruan tinggi, pemerintah, dan masyarakat, langkah kecil tersebut diharapkan mampu menjadi fondasi menuju kemandirian ekonomi yang lebih kuat dan berkelanjutan.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


