kisah dua mahasiswi uns yang mengubah tantangan menjadi dampak nyata di negara naga biru - News | Good News From Indonesia 2026

Kisah 2 Mahasiswi UNS yang Ubah Tantangan jadi Dampak Nyata di "Negara Naga Biru"

Kisah 2 Mahasiswi UNS yang Ubah Tantangan jadi Dampak Nyata di "Negara Naga Biru"
images info

sumber: AIESEC in UNS


ASEAN merupakan sebuah perhimpunan negara-negara yang terletak di Asia Tenggara. Beberapa negara yang terdaftar dalam asosiasi ini bisa dibilang tergolong ke dalam negara berkembang. Salah satunya adalah negara yang dijuluki sebagai "Negara Naga Biru", yaitu Vietnam. Hal ini disebabkan karena mereka masih berupaya untuk meningkatkan kehidupan sosial dan ekonominya.

Hidup di negara berkembang, tentunya masih terdapat berbagai tantangan yang harus dihadapi oleh masyarakatnya, baik aspek pendidikan maupun aspek ekonomi.

Namun, apakah hanya warga negara Vietnam yang mampu memperbaiki permasalahan tersebut? Jawabannya adalah tidak, sebab warga negara asing pun dapat ikut mengatasinya.

Lalu, kontribusi seperti apa yang dapat diberikan warga asing kepada negara ini? Program Global Volunteer yang diinisiasi oleh AIESEC in UNS merupakan solusinya. Melalui program yang mengedepankan Sustainable Development Goals (SDGs), pemuda di Indonesia khususnya di Surakarta mampu ikut berkontribusi ke negara lain.

baca juga

Ini terbukti dari pengalaman Hanifa Nuraini Azizah dan Nurul Yantika dalam perjalanan hebat mereka ke Vietnam guna mendukung poin nomor 4 (quality education) dan nomor 8 (decent work and economic growth). 

Di mulai dari perjalanan Hanifa yang melakukan kegiatan pengajaran kepada anak-anak berusia 3-6 tahun di Happy Valley Academy, Hanoi. Jika Kawan GNFI mengira mengajar anak kecil adalah perihal mudah, jawabannya adalah salah.

Kondisi yang dihadapi Hanifa sangatlah berbeda, ia terkendala dalam bahasa. Hal ini disebabkan anak-anak di sana belum menerapkan bahasa Inggris dalam kehidupan sehari-hari, sedangkan Hanifa sama sekali tidak bisa bahasa Vietnam. 

Namun, tantangan tersebut tidak membuat Hanifa menyerah. Ia berusaha untuk menggunakan metode pembelajaran yang interaktif dan kontekstual. Materi yang disampaikan pun cenderung ringan karena membahas kosakata dasar bahasa Inggris, seperti seed, sprout, seedling, and plant. Selain itu, juga terdapat pendekatan yang unik, yaitu berupa indoor learning dan outdoor learning. 

Melalui kelas terbuka, anak-anak diajak belajar menanam tanaman, bermain games edukatif, dan mengasah kreativitas.

Hanifa membuktikan bahwa pendidikan berkualitas tetap bisa berjalan dengan baik walau ada perbedaan bahasa. Kuncinya ada pada empati yang kuat serta komunikasi nonverbal, seperti ekspresi wajah, gestur, dan media visual.

Sementara Hanifa fokus di bidang pendidikan di kota Hanoi, rekannya, Nurul Yantika, bergerak di wilayah Đắk Lắk untuk membantu ekonomi warga. Nurul membantu di Cà Phê Ông Giáo, sebuah usaha kopi lokal, dengan ikut serta dalam proses menanam hingga pengolahan pascapanen.

baca juga

Ia juga membagikan strategi pemasaran digital agar kopi lokal tersebut bisa bersaing di pasar yang lebih luas. Uniknya, seluruh proses ini tetap menerapkan konsep pertanian berkelanjutan demi menjaga lingkungan.

Langkah kedua mahasiswi Universitas Sebelas Maret (UNS) ini tidak hanya sekadar menjalankan program kerja, tetapi juga membangun jembatan budaya. Sambil belajar dari warga Vietnam, mereka juga mengenalkan kebudayaan Indonesia.

Hanifa merasa program ini mengajarkan pentingnya kolaborasi lintas budaya demi dampak jangka panjang. Di sisi lain, Nurul mengaku pengalaman ini membuka matanya terhadap tantangan nyata yang dihadapi oleh para pelaku UMKM.

Aksi nyata kedua mahasiswa ini menjadi bukti komitmen UNS dalam mendukung agenda global SDGs di tingkat internasional. Melalui program Global Volunteer dari AIESEC in UNS, mahasiswa terbukti bisa mengasah kepemimpinan sekaligus membawa perubahan positif bagi dunia.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AI
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.