tak semua kerja organisasi dimulai dari meja rapat saat orang asing belajar menjadi satu tim - News | Good News From Indonesia 2026

Tak Semua Kerja Organisasi Dimulai dari Meja Rapat: Saat Orang Asing Belajar Menjadi Satu Tim

Tak Semua Kerja Organisasi Dimulai dari Meja Rapat: Saat Orang Asing Belajar Menjadi Satu Tim
images info

Foto bersama Anggota Baru Ormawa UT Purwokerto (Pribadi)


Di balik rapat, proposal, dan program kerja, ada proses yang sering luput dari perhatian: membangun hubungan antarmanusia. Melalui kegiatan bonding, Ormawa Universitas Terbuka (UT) Purwokerto berupaya menciptakan ruang agar anggota baru yang sebelumnya saling asing dapat mengenal satu sama lain sebelum menjalankan berbagai program organisasi.

Suasana halaman Museum Jenderal Soedirman Purwokerto pada Minggu, 26 Juli 2026 tampak berbeda pada akhir pekan itu. Tawa mahasiswa bersahut-sahutan, beberapa di antaranya sibuk menyusun strategi dalam kelompok, menyusun yel-yel, sementara yang lain berusaha menyelesaikan permainan yang menguji kerja sama. Tidak terlihat meja rapat, presentasi, maupun diskusi serius tentang program kerja. Namun, justru dari ruang yang santai itulah proses penting sebuah organisasi dimulai.

Kegiatan tersebut merupakan bonding anggota baru Ormawa Universitas Terbuka Purwokerto. Alih-alih langsung tenggelam dalam rapat dan persiapan agenda organisasi, para pengurus memilih memberikan ruang bagi anggota baru untuk saling mengenal terlebih dahulu. Sebab, bekerja dalam organisasi tidak hanya membutuhkan pembagian tugas, tetapi juga rasa percaya, komunikasi, dan kekompakan.

baca juga

Kegiatan Bonding, Ormawa Universitas Terbuka (UT) Purwokerto

Ketua Ormawa UT Purwokerto, Amira, mengatakan kegiatan ini lahir dari kebutuhan yang sederhana. Setelah proses rekrutmen selesai, pengurus menyadari bahwa hubungan antara pengurus dan anggota baru belum benar-benar terbangun. Selama beberapa pekan, interaksi lebih banyak diisi dengan rapat dan pembahasan program kerja yang cukup padat.

Menurut Ketua Ormawa UT Purwokerto, Amira, kegiatan bonding dirancang untuk meningkatkan rasa persaudaraan sekaligus mempererat hubungan antara pengurus dan anggota. Selama ini, organisasi lebih banyak disibukkan dengan pembahasan berbagai program sehingga belum memiliki ruang untuk membangun kedekatan secara personal.

"Jujur, memang belum ada pertemuan yang benar-benar mengakrabkan pengurus dan anggota. Kami ingin mereka merasa nyaman dulu, supaya nanti saat menjalankan program kerja bisa lebih mudah berkolaborasi," ujar Ketua Ormawa UT Purwokerto, Amira.

Selain itu, sebagian anggota juga harus menempuh perjalanan cukup jauh untuk mengikuti kegiatan. Ada peserta yang datang dari Tegal, Brebes, hingga Pemalang hanya untuk mengikuti bonding selama satu hari. Upaya tersebut menunjukkan bahwa para anggota memiliki komitmen untuk menjadi bagian dari organisasi.

Keputusan untuk mengadakan bonding bahkan tidak dipersiapkan dalam waktu yang lama. Persiapan dilakukan hanya dalam hitungan beberapa hari di sela-sela kesibukan pengurus menyusun agenda organisasi berikutnya. Meski sederhana dan serba mendadak, semangat untuk menghadirkan suasana yang lebih hangat justru menjadi alasan utama kegiatan tersebut terlaksana.

Hal serupa disampaikan panitia dari Divisi Keilmuan, Tari. Menurutnya, ide kegiatan muncul ketika pengurus merasa hubungan dengan anggota baru masih terasa kaku. Mereka khawatir suasana tersebut akan memengaruhi komunikasi saat menjalankan program organisasi yang lebih besar.

"Kita ini orang asing yang tiba-tiba menjadi satu kelompok. Jadi memang perlu pendekatan dulu supaya nanti lebih akrab," ujar Tari.

Baginya, permainan yang disiapkan bukan sekadar hiburan. Berbagai aktivitas kelompok menjadi media untuk mencairkan suasana sekaligus membangun komunikasi. Setelah beberapa sesi permainan berlangsung, peserta yang sebelumnya hanya saling menyapa mulai terlihat lebih banyak berdiskusi dan bercanda bersama.

Pengurus lain, Hasan, menambahkan bahwa konsep kegiatan memang dibuat sederhana. Peserta dibagi ke dalam beberapa kelompok untuk mengikuti berbagai permainan yang menuntut kerja sama, seperti estafet sambung kata, permainan zig-zag dengan mata tertutup, hingga permainan strategi lainnya.

Menurut Hasan, permainan tersebut tidak dipilih karena rumit atau kompetitif, melainkan karena mampu mendorong peserta saling berkomunikasi dan mengenal karakter satu sama lain. Tantangan terbesar justru bukan menyusun permainan, melainkan menyatukan mahasiswa yang datang dari latar belakang, program studi, hingga daerah yang berbeda.

Suasana yang awalnya dipenuhi rasa canggung perlahan berubah menjadi lebih hangat. Perubahan itu turut dirasakan oleh Chia, salah satu anggota baru dari Departemen PSDM.

Menurut Chia, pada awal kegiatan sebagian peserta masih tampak malu untuk memulai percakapan. Namun, berbagai permainan yang dilakukan bersama membuat suasana menjadi lebih cair sehingga setiap anggota memiliki kesempatan untuk saling mengenal.

"Yang jelas, seru dan menyenangkan. Awalnya masih canggung, tetapi setelah mengikuti rangkaian kegiatan, suasananya jadi lebih cair dan kita bisa lebih dekat satu sama lain," ujar Chia.

Bagi Chia, manfaat terbesar dari kegiatan tersebut bukan hanya memperoleh teman baru, tetapi juga memahami bahwa organisasi membutuhkan kekompakan dan komunikasi yang baik. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan dengan lebih banyak aktivitas yang melibatkan seluruh anggota secara bersamaan sehingga interaksi antarpeserta semakin terasa.

Cerita serupa datang dari Jessie, anggota baru dari Program Studi Ilmu Komunikasi. Ia mengaku mengikuti bonding karena ingin mengenal lebih banyak teman di lingkungan Ormawa. Setelah mengikuti seluruh rangkaian kegiatan, ia merasa lebih percaya diri untuk berinteraksi dengan anggota lain.

Menurut Jessie, permainan estafet sambung kata menjadi sesi yang paling berkesan karena menuntut peserta untuk tetap fokus sekaligus bekerja sama dengan anggota kelompoknya. Selain menyenangkan, permainan tersebut juga melatih konsentrasi dan komunikasi.

"Aku jadi lebih percaya diri. Selain dapat teman baru, aku juga belajar lebih berani berbicara dan lebih akrab dengan anggota yang sebelumnya belum kenal," ujar Jessie.

Ia berharap kegiatan serupa terus dikembangkan dengan variasi permainan yang lebih beragam agar suasana semakin hidup. Menurutnya, pengalaman seperti ini menjadi salah satu alasan mengapa ia semakin tertarik mengikuti berbagai kegiatan Ormawa di masa mendatang.

Di balik berbagai permainan dan gelak tawa, kegiatan bonding tersebut sesungguhnya menyimpan makna yang lebih besar. Organisasi bukan sekadar tempat menyusun program kerja, melainkan ruang belajar bagi mahasiswa untuk membangun komunikasi, menyelesaikan perbedaan, dan bekerja sama dengan orang-orang yang sebelumnya tidak mereka kenal.

Bagi mahasiswa Universitas Terbuka yang sebagian besar memiliki kesibukan bekerja dan tinggal di daerah yang berbeda, kesempatan bertemu secara langsung menjadi momen yang tidak selalu mudah diwujudkan. Karena itu, ruang-ruang informal seperti kegiatan bonding menjadi penting untuk membangun kedekatan sebelum menjalankan tanggung jawab organisasi yang lebih besar.

baca juga

Pada akhirnya, kerja organisasi memang akan dipenuhi rapat, penyusunan program, hingga pelaksanaan berbagai kegiatan. Namun sebelum semua itu berjalan, ada satu fondasi yang perlu dibangun lebih dahulu, yakni hubungan antarmanusia.

Sebab, tim yang solid tidak selalu lahir dari banyaknya rapat atau panjangnya daftar program kerja. Terkadang, semuanya berawal dari sebuah permainan sederhana, tawa yang dibagikan bersama, dan keberanian untuk menyapa seseorang yang beberapa jam sebelumnya masih terasa asing. Dari situlah perjalanan sebuah organisasi sesungguhnya dimulai.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

KA
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.