bukan sekadar bermain mengapa motorik halus menentukan kesiapan anak memasuki sekolah - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Sekadar Bermain: Mengapa Motorik Halus Menentukan Kesiapan Anak Memasuki Sekolah

Bukan Sekadar Bermain: Mengapa Motorik Halus Menentukan Kesiapan Anak Memasuki Sekolah
images info

Foto dengan siswa TK Arrahman | Sumber: Dokumentasi Pribadi


Ketika anak memasuki taman kanak-kanak, banyak orang tua lebih memperhatikan apakah mereka sudah mampu mengenal huruf, membaca, atau berhitung. Padahal, sebelum keterampilan akademik berkembang, terdapat kemampuan dasar yang tidak kalah penting, yaitu motorik halus. Kemampuan ini menjadi fondasi bagi berbagai aktivitas sehari-hari, seperti memegang pensil dengan benar, menggambar, mewarnai, menggunting, hingga mengancingkan pakaian.

UNICEF menekankan bahwa perkembangan anak usia dini berlangsung secara menyeluruh dan memerlukan stimulasi yang tepat agar setiap aspek tumbuh optimal, termasuk kemampuan motorik yang menjadi bekal memasuki jenjang pendidikan berikutnya.

Berangkat dari pemahaman tersebut, lahirlah program JEMARI (Jelajah Motorik Anak Hari Ini) di TK Arrahmah, Desa Citalang. Program ini dirancang untuk membantu mengenali perkembangan motorik halus anak sekaligus memberikan rekomendasi pembelajaran yang dapat menjadi acuan bagi guru dan orang tua dalam mendampingi proses tumbuh kembang anak.

baca juga

Mengenali Kemampuan Sebelum Memberikan Pembelajaran

Setiap anak memiliki kecepatan dan cara berkembang yang berbeda. Ada anak yang sudah mampu memegang pensil dengan baik, sementara yang lain masih membutuhkan stimulasi untuk mengembangkan koordinasi tangan dan mata.

Karena itu, pembelajaran yang efektif tidak dapat disamakan untuk semua anak. Sebelum menentukan metode belajar yang tepat, diperlukan asesmen sederhana untuk mengenali kemampuan motorik halus masing-masing peserta didik. Pendekatan inilah yang diterapkan di TK Arrahmah, Desa Citalang, melalui program JEMARI (Jelajah Motorik Anak Hari Ini).

Asesmen tersebut bukan bertujuan mencari anak yang paling pintar atau membandingkan kemampuan antarsiswa, melainkan memahami kebutuhan setiap anak sebagai dasar penyusunan rekomendasi pembelajaran bagi guru dan orang tua. Sejalan dengan itu, UNESCO menekankan bahwa pendidikan yang berkualitas dimulai dari pemahaman terhadap kebutuhan dan karakteristik setiap peserta didik agar proses belajar dapat berlangsung secara inklusif dan optimal. Dengan demikian, pembelajaran yang baik selalu diawali dengan memahami kondisi anak, bukan sekadar mengukur hasil belajarnya.

Belajar Melalui Aktivitas yang Menyenangkan

Di dalam program JEMARI (Jelajah Motorik Anak Hari Ini), proses asesmen tidak dilakukan melalui suasana yang menegangkan, melainkan dikemas dalam berbagai aktivitas yang akrab dengan dunia anak. Mereka diajak menulis huruf, menyusun balok, menggambar, mewarnai, menggunting, meronce, hingga menjahit sederhana sesuai kemampuan usianya. Bagi anak-anak, rangkaian kegiatan tersebut terasa seperti bermain.

Namun, di balik setiap aktivitas, guru memperoleh gambaran mengenai koordinasi mata dan tangan, kekuatan genggaman, ketelitian, serta kemampuan mengendalikan gerakan halus setiap anak. Informasi tersebut menjadi dasar untuk menyusun strategi pembelajaran yang lebih sesuai dengan kebutuhan masing-masing peserta didik.

Pendekatan ini sejalan dengan rekomendasi National Association for the Education of Young Children (NAEYC) yang menekankan bahwa pembelajaran berbasis bermain (play-based learning) merupakan cara yang efektif untuk mendukung perkembangan kognitif, sosial, emosional, maupun motorik anak usia dini. Dengan demikian, bermain tidak hanya menjadi kegiatan yang menyenangkan, tetapi juga menjadi sarana mengenali potensi dan kebutuhan belajar anak.

Hasil Tes Bukan Nilai, Melainkan Arah Pendampingan

Program JEMARI (Jelajah Motorik Anak Hari Ini) tidak dirancang untuk memberi nilai atau menentukan siapa anak yang paling unggul. Hasil asesmen justru digunakan sebagai dasar untuk menyusun rekomendasi pendampingan yang lebih sesuai dengan kebutuhan setiap anak.

Apabila koordinasi tangan dan mata masih perlu ditingkatkan, misalnya, guru dapat memperbanyak kegiatan seperti meronce, menggunting, atau menyusun balok di kelas. Sementara itu, orang tua dapat melanjutkan stimulasi serupa melalui aktivitas sederhana di rumah agar perkembangan anak berlangsung secara konsisten.

Pendekatan ini sejalan dengan prinsip asesmen formatif, yaitu memanfaatkan hasil penilaian untuk memperbaiki proses belajar, bukan sekadar mengukur capaian. OECD menegaskan bahwa asesmen yang baik berfungsi memberikan umpan balik bagi pendidik dan peserta didik sehingga pembelajaran dapat disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing individu. Dengan demikian, hasil tes motorik halus menjadi arah pendampingan, bukan sekadar angka dalam lembar penilaian.

Motorik Halus Menjadi Bekal Memasuki Dunia Sekolah

Motorik halus tidak hanya berkaitan dengan kemampuan anak menggunakan tangan, tetapi juga menjadi bekal penting dalam menghadapi berbagai aktivitas belajar di sekolah. Kemampuan memegang pensil, menulis, menggunting, mewarnai, menyusun benda, hingga melakukan tugas yang memerlukan koordinasi mata dan tangan merupakan bagian dari keterampilan yang berkembang melalui stimulasi motorik halus.

Selain itu, kemampuan ini turut mendukung kemandirian anak dalam melakukan aktivitas sehari-hari serta membantu meningkatkan konsentrasi ketika mengikuti proses pembelajaran. UNICEF menegaskan bahwa perkembangan anak usia dini berlangsung secara menyeluruh, sehingga setiap aspek perkembangan, termasuk motorik, perlu memperoleh stimulasi yang sesuai dengan tahap usianya.

Oleh karena itu, motorik halus bukanlah soal siapa yang berkembang lebih cepat atau lebih lambat, melainkan tentang memastikan setiap anak memperoleh dukungan yang sesuai dengan kesiapan perkembangannya sebelum memasuki dunia sekolah.

Bermain Hari Ini, Bekal untuk Masa Depan

Di tengah pesatnya perkembangan teknologi pendidikan, inovasi tidak selalu harus diwujudkan melalui perangkat digital atau aplikasi terbaru. Dalam banyak situasi, inovasi justru hadir melalui pendekatan yang lebih tepat untuk memahami kebutuhan setiap anak sebelum menentukan cara belajar yang sesuai.

Asesmen motorik halus menjadi salah satu contoh bahwa pendidikan yang berkualitas berawal dari pemahaman terhadap proses tumbuh kembang peserta didik, bukan sekadar berorientasi pada hasil belajar.

Program pengabdian perguruan tinggi dapat menjadi jembatan antara ilmu perkembangan anak dengan praktik pembelajaran di sekolah, sehingga hasil kajian akademik dapat diterapkan secara nyata dalam proses pembelajaran. Pada akhirnya, bermain bukan hanya menjadi bagian dari masa kanak-kanak, melainkan investasi penting untuk membangun kesiapan anak menghadapi pengalaman belajar di masa depan.

baca juga

Setiap Anak Bertumbuh dengan Caranya Sendiri

Program JEMARI (Jelajah Motorik Anak Hari Ini) tidak bertujuan memberi label kepada anak berdasarkan kemampuan yang mereka miliki. Sebaliknya, program ini dirancang untuk membantu guru dan orang tua memahami bagaimana setiap anak belajar, berkembang, dan membutuhkan stimulasi yang sesuai dengan tahapan usianya.

Sejalan dengan pandangan UNICEF, setiap anak memiliki jalur perkembangan yang unik sehingga memerlukan lingkungan belajar yang responsif terhadap kebutuhannya. Pada akhirnya, perkembangan anak tidak dapat diukur hanya dari seberapa cepat mereka mampu membaca atau menulis. Terkadang, langkah kecil seperti menggenggam pensil dengan benar, menyusun balok, atau meronce manik-manik justru menjadi fondasi bagi proses belajar di masa depan.

Karena setiap anak memiliki cara bertumbuhnya sendiri, memahami perkembangan mereka sejak dini merupakan bentuk pendampingan terbaik yang dapat diberikan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

NR
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.