Rabu dini hari, 22 Juli 2026, di perlintasan sebidang JPL 303A Mengkreng, Kabupaten Kediri, Jawa Timur, penjaga palang pintu diduga tertidur. Saat itu, kereta api hendak melintas, tapi palang tak kunjung turun. Alhasil, sejumlah kendaraan tetap bersiap menyeberang karena tidak ada rambu-rambu.
Padahal, kereta api yang hendak melintas telah membunyikan suara klason panjang.
“Mariki kereta Brantas lewat iki,” kata seseorang dalam video yang diunggah di media sosial.
Dia adalah Aris Susanto (34), seorang pembuat konten asal Bandar Kedungmulyo, Kabupaten Jombang, yang kebetulan berada di lokasi. Aris sadar ada yang tidak beres. Ia pun berteriak keras memancing perhatian warga sekitar agar tidak nekat menyeberang.
“Keturon opo piye iki, Rek,” imbuhnya
Upaya spontannya berhasil. Kereta pun tetap melintas dengan aman. Petugas jaga palang pintu yang lalai kemudian mendapat sanksi dari PT Kereta Api Indonesia (KAI).
Kabar Sang Hero Terdengar hingga Kantor Daop 7 Madiun
Lima hari berselang, aksi Aris terdengar hingga ke kantor KAI. Senin (27/7/2026), ia pun diundang menghadiri Apel Pagi Pembinaan Pegawai di Kantor Daop 7 Madiun. Apel dipimpin oleh Deputy Daop 7 Madiun, Alam Prasetyo, dan diikuti jajaran manajemen serta seluruh pekerja Daop 7 Madiun.
Dalam apel itu, Alam mengingatkan seluruh pekerja KAI agar terus meningkatkan kewaspadaan dan mengedepankan prinsip safety first. Ia juga meminta seluruh insan KAI bekerja sesuai tugas pokok dan fungsi masing-masing demi menjaga keselamatan kerja dan operasional perjalanan kereta api.
Di momen yang sama, Alam Prasetyo memberi apresiasi langsung kepada Aris. Sebagai bentuk penghargaan, KAI Daop 7 Madiun memberikan piagam penghargaan sekaligus uang pembinaan sebesar Rp2,5 juta.
Keselamatan adalah Tanggung Jawab Bersama
Manager Humas KAI Daop 7 Madiun, Tohari, menegaskan bahwa tindakan Aris adalah cerminan nyata dari prinsip keselamatan yang selama ini digaungkan KAI.
"Apa yang dilakukan Aris Susanto merupakan contoh nyata bahwa keselamatan adalah tanggung jawab bersama. Kepedulian dan kesigapannya dalam membantu menghentikan kendaraan di JPL 303A Mengkreng telah berkontribusi mencegah potensi kecelakaan dan menjadi teladan bagi masyarakat maupun insan KAI dalam membangun budaya keselamatan," ujar Tohari.
Aris sendiri mengaku tak menyangka aksi spontannya berbuntut panjang. Kepada Kompas.com, ia menyampaikan rasa syukur sekaligus haru atas apresiasi yang diterimanya.
"Jujur saya enggak sampai berangan sejauh ini dan terima kasih atas apresiasi KAI Daop 7. Mungkin ini sebagai gambaran kalau KAI dicintai masyarakat, dan KAI mencintai masyarakat," kata Aris Susanto.
Palang Pintu Bukan Jaminan Keselamatan
Lewat momentum ini, KAI Daop 7 Madiun kembali mengingatkan bahwa palang pintu bukanlah alat pengaman utama bagi pengendara. Palang pintu adalah alat untuk mengamankan perjalanan kereta api itu sendiri.
Maka dari itu, tanggung jawab keselamatan tetap ada di tangan pengguna jalan. KAI mengajak masyarakat untuk selalu disiplin saat melintasi perlintasan sebidang.
Masyarakat yang hendak melintasi rel kereta wajib mematuhi rambu-rambu, sinyal, dan arahan petugas. Tak hanya itu, para pengendara juga harus membiasakan diri berhenti, menoleh ke kiri dan kanan, serta memastikan tidak ada kereta yang akan melintas sebelum menyeberang.
Bagi KAI Daop 7 Madiun, penghargaan kepada Aris Susanto bukan sekadar seremoni. Ini adalah bagian dari strategi jangka panjang membangun budaya keselamatan bersama masyarakat, bukan hanya mengandalkan sistem dan petugas internal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


