Kain Tenun Sumba selama ini dikenal sebagai salah satu karya tekstil tradisional dengan nilai seni tinggi.
Namun, bagi masyarakat adat tertentu di Pulau Sumba, kain tersebut tidak hanya berfungsi sebagai busana atau cendera mata, melainkan juga menjadi bagian penting dalam prosesi kematian.
Dalam tradisi penganut kepercayaan Marapu, jenazah dibungkus menggunakan beberapa lapis kain tenun sebelum dimakamkan. Jumlah kain yang digunakan dapat mencapai puluhan lembar, tergantung dukungan keluarga besar yang melayat.
Setiap kerabat umumnya membawa selembar kain sebagai bentuk penghormatan terakhir kepada orang yang meninggal. Nilai ekonomi dari prosesi tersebut juga tidak sedikit. Harga satu lembar kain tenun berukuran besar dapat berkisar mulai jutaan hingga belasan juta rupiah.
Perbedaan Kain Pembungkus Jenazah Pria dan Wanita Marapu
Pada jenazah laki-laki umumnya diselimuti dengan kain teun jenis selimut (hinggi), sedangkan jenazah perempuan dibungkus menggunakan kain sarung (lau) yang dibawa oleh para kerabat sebagai bentuk penghormatan terakhir.
Kain pembungkus jenazah yang dikenal sebagai yubuhu terbagi menjadi dua jenis, yaitu yubuhu la tana, yakni kain yang dikuburkan bersama jenazah, dan yubuhu la kaheli, yaitu kain yang diberikan kepada keluarga yang ditinggalkan.
Kain-kain tersebut dikenakan saat upacara Pahadangu, ketika jenazah dimasukkan ke dalam keranda dalam posisi duduk dengan lutut ditekuk dan dagu bertumpu pada lutut.
Tradisi ini didasari keyakinan bahwa kehidupan setelah kematian merupakan kelanjutan dari kehidupan di dunia, sehingga arwah perlu dibekali berbagai perlengkapan, termasuk kain tenun, agar dapat menjalani kehidupan di alam leluhur dengan layak.
Makna Spiritual di Balik Kain Tenun Pembungkus Jenazah
Masyarakat Marapu memandang kain tenun sebagai bekal bagi arwah dalam perjalanan menuju alam leluhur. Oleh karena itu, kain yang digunakan bukan sekadar penutup jenazah, tetapi menjadi bagian dari warisan adat yang diwariskan secara turun-temurun.
Keunikan lain dari tradisi ini adalah penggunaan kain tenun yang dibuat dengan pewarna alami. Dalam kepercayaan masyarakat setempat, kain tersebut dipercaya membantu menjaga jenazah agar tidak menimbulkan aroma menyengat selama disemayamkan di rumah adat sebelum proses pemakaman dilaksanakan.
Selain digunakan dalam prosesi pemakaman, kain tenun juga memiliki fungsi simbolis dalam berbagai ritual adat masyarakat Sumba.
Pada kasus kematian akibat kecelakaan atau musibah, misalnya, sehelai kain digunakan sebagai lambang kehadiran arwah dalam upacara Lua papiti hamangu, yaitu profesi penjemputan arwah dari lokasi kejadian sebelum dimakamkan secara adat.
Tidak hanya itu, kain tenun juga berperan dalam ritual kelahiran. Apabila seorang suami tidak dapat mendampingi istri saat persalinan, kehadirannya dapat diwakili oleh kain selimut miliknya dalam tradisi yang disebut rambangu hinggi.
Masyarakat Marapu meyakini simbol tersebut dapat membantu kelancaran proses persalinan, sehingga kain tenun tidak hanya menjadi bagian penting dalam upacara kematian, tetapi juga menyertai berbagai tahapan kehidupan masyarakat Sumba.
Motif Kain Tenun dan Simbol Kehidupan
Tidak semua kain tenun Sumba memiliki motif yang sama. Beberapa motif mengandung simbol status sosial, keberanian, leluhur, hingga hubungan manusia dengan alam.
Misalnya, motif kuda melambangkan kepemimpinan dan kebangsawanan, buaya melambangkan kekuatan, sedangkan udang atau ayam memiliki makna kesuburan dan kesejahteraan. Penggunaan motif tertentu dalam upacara kematian juga dapat mencerminkan identitas dan kedudukan orang yang meninggal.
Proses Pembuatan yang Menambah Nilai Kain Tenun
Nilai kain tenun dalam ritual kematian juga dipengaruhi oleh proses pembuatannya. Kain tenun ikat Sumba dikerjakan secara manual menggunakan teknik ikat yang rumit.
Pewarnaannya banyak memanfaatkan bahan alami seperti akar mengkudu untuk warna merah, tanaman nila untuk warna biru, serta lumpur atau kulit kayu untuk menghasilkan warna gelap.
Proses penyelesaian satu lembar kain berkualitas tinggi dapat memakan waktu beberapa bulan hingga lebih dari satu tahun.
Nilai Sosial dalam Tradisi Pemberian Kain
Selain menjadi perlengkapan pemakaman, pemberian kain tenun oleh kerabat mencerminkan solidaritas keluarga besar.
Semakin banyak anggota keluarga yang membawa kain, semakin besar pula penghormatan kepada almarhum dan dukungan kepada keluarga yang ditinggalkan. Tradisi ini memperlihatkan bahwa duka cita dipikul bersama oleh seluruh komunitas adat.
Bagi masyarakat Sumba, kain tenun bukan sekadar benda pakai, melainkan harta pusaka yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Sebagian kain bahkan dibuat khusus untuk dipakai dalam berbagai siklus kehidupan, mulai dari kelahiran, perkawinan, hingga kematian. Dengan demikian, kain menjadi penanda perjalanan hidup seseorang.
Di tengah perkembangan zaman, fungsi kain tenun Sumba tidak lagi terbatas pada upacara adat. Kain tenun kini juga dimanfaatkan sebagai busana, koleksi seni, hingga komoditas ekonomi kreatif.
Meski demikian, masyarakat adat masih mempertahankan penggunaannya dalam ritual kematian sebagai bagian dari identitas budaya yang tidak dapat digantikan oleh kain modern.
Dalam pandangan masyarakat penganut Marapu, kematian bukanlah akhir kehidupan, melainkan perpindahan menuju alam leluhur. Oleh karena itu, kain tenun yang menyelimuti jenazah menjadi simbol penghormatan terkahir sekaligus bekal bagi arwah dalam perjalanan menuju alam leluhur.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


