bukan sulap limbah nikel dan cangkang sawit bisa disulapjadi serbuk besi bernilai tinggi - News | Good News From Indonesia 2026

Bukan Sulap, Limbah Nikel dan Cangkang Sawit Bisa Disulap Jadi Serbuk Besi Bernilai Tinggi

Bukan Sulap, Limbah Nikel dan Cangkang Sawit Bisa Disulap Jadi Serbuk Besi Bernilai Tinggi
images info

Serbuk Paduan Besi


Setiap kali satu ton bijih nikel diproses melalui jalur hidrometalurgi, industri menghasilkan sekitar 1,5 ton lumpur padat sebagai limbah samping. Material ini selama bertahun-tahun lebih banyak berakhir di tempat penampungan limbah, meski sebenarnya masih menyimpan kandungan besi yang tinggi. 

Di sisi lain, industri kelapa sawit juga menghadapi persoalan serupa. Cangkang sawit yang tersisa setelah proses pengolahan sering kali hanya dimanfaatkan secara terbatas sebagai bahan bakar boiler atau bahkan menjadi limbah biomassa yang menumpuk.

Dua jenis limbah dari sektor yang berbeda itu bisa disatukan lewat teknologi yang dikembangkan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). Melalui pendekatan tersebut, lumpur hasil pengolahan nikel dipadukan dengan arang cangkang sawit untuk menghasilkan serbuk paduan besi yang memiliki nilai ekonomi tinggi. 

Peneliti Pusat Riset Teknologi Mineral BRIN, Nur Ikhwani, mengatakan gagasan tersebut berawal dari audit teknologi yang dilakukan terhadap perusahaan pengolahan nikel pada 2019–2020. Saat itu, tim peneliti menemukan bahwa limbah padat hasil hidrometalurgi ternyata masih menyimpan kandungan besi dalam jumlah besar.

"Kami mencoba mengaudit teknologi proses mereka. Ternyata menghasilkan kebutuhan yang harus mendekati industri ekspansi. Setelah kami lihat, secara umum memiliki kemiripan dengan output SHP dari laterit dengan sebagian besar kandungan besi mencapai 40 persen," jelas Nur dalam diskusi Added Value SHP dan SHPP pada forum BRIN Goes to Industry 5 di Gedung B.J. Habibie, Jakarta, Selasa (28/7).

Menurut Nur, kandungan hematit (Fe₂O₃) di dalam limbah tersebut membuatnya layak dimanfaatkan sebagai sumber bahan baku besi, alih-alih terus menjadi residu yang harus ditimbun.

Menekan Limbah, Menghemat Energi

Penumpukan limbah pengolahan nikel menjadi tantangan tersendiri bagi industri. Lumpur sisa proses hidrometalurgi membutuhkan area penyimpanan yang luas dan pengelolaan yang ketat agar tidak mencemari lingkungan. Jika tidak ditangani dengan baik, material tersebut berpotensi meningkatkan risiko pencemaran tanah maupun badan air akibat kandungan logam yang terbawa bersama limpasan air hujan.

Persoalan serupa juga terjadi pada limbah cangkang sawit. Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia menghasilkan jutaan ton biomassa setiap tahun. Apabila tidak dimanfaatkan, limbah ini hanya akan menambah beban pengelolaan limbah industri. Dalam beberapa kasus, pembakaran terbuka biomassa juga dapat meningkatkan emisi gas rumah kaca dan menurunkan kualitas udara.

Melihat dua persoalan tersebut, BRIN memanfaatkan arang cangkang sawit sebagai bahan pereduksi untuk mengubah hematit dalam limbah nikel menjadi serbuk paduan besi. Hasilnya, ukuran serbuk yang diperoleh mencapai sekitar 50 mikron dan dapat langsung dimanfaatkan sebagai bahan baku industri powder metallurgy, material paduan besi-baja, hingga media shot blasting.

Tak hanya menghasilkan produk bernilai tambah, teknologi ini juga membuat proses produksi menjadi lebih efisien. Penggunaan biomassa sawit mampu menurunkan suhu reduksi dari sekitar 1.380 derajat Celsius menjadi 1.200 derajat Celsius. Penurunan suhu tersebut berarti kebutuhan energi ikut berkurang sehingga biaya produksi menjadi lebih rendah.

"Teknologi ini memanfaatkan lumpur hasil samping hidrometalurgi nikel dan biomassa limbah sawit menjadi produk bernilai tinggi. Selain itu, penggunaan biomassa sebagai reduktor mendukung pengembangan green product dan ekonomi sirkular," ujar Nur.

Membuka Jalan Hilirisasi Material Maju

Berbeda dengan proses konvensional yang umumnya menghasilkan sponge iron atau pig iron, teknologi BRIN menghasilkan serbuk paduan besi secara langsung. Produk tersebut memiliki nilai tambah lebih tinggi karena sesuai dengan kebutuhan industri manufaktur modern yang mengandalkan teknologi berbasis serbuk, termasuk komponen otomotif, peralatan industri, hingga material teknik berpresisi tinggi.

Pengembangan teknologi ini belum berhenti. BRIN kini berupaya menurunkan kadar sulfur pada produk agar spesifikasinya semakin memenuhi standar industri. Proses tersebut akan dilakukan melalui kombinasi metode fisik dan pendekatan berbasis bakteri.

Nur berharap inovasi tersebut segera memasuki tahap komersialisasi melalui kerja sama dengan industri powder metallurgy, shot blasting, dan manufaktur logam. Kolaborasi itu diharapkan mencakup uji aplikasi, validasi performa, hingga penyempurnaan produk sesuai kebutuhan pasar.

"Kolaborasi ini diharapkan dapat mempercepat hilirisasi teknologi dan menciptakan produk material maju berbasis sumber daya sekunder yang berdaya saing tinggi," pungkas Nur.

baca juga

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.