rumah adat papua - News | Good News From Indonesia 2026

Mengenal Rumah Adat Papua dari Honai hingga Kariwari, Cerminan Keragaman Budaya Timur Indonesia

Mengenal Rumah Adat Papua dari Honai hingga Kariwari, Cerminan Keragaman Budaya Timur Indonesia
images info

Mengenal Rumah Adat Papua dari Honai hingga Kariwari, Cerminan Keragaman Budaya Timur Indonesia | Unsplash @heru haryanto


Banyak orang mengira bahwa Honai adalah satu-satunya rumah adat Papua, padahal kenyataannya pulau di ujung timur Indonesia ini menyimpan lebih banyak keanekaragaman bangunan adat, dari rumah Honai yang berdiri di atas tanah hingga Rumah Pohon Korowai yang dibangun di atas pohon tinggi.

Faktanya, rumah adat Papua adalah salah satu peninggalan kebudayaan yang punya ragam jenis nama dan filosofi, menyesuaikan dengan bentang alamnya yang sangat bervariasi. Mulai dari wilayah pegunungan hingga rimbunnya hutan tropis, kondisi geografis inilah yang mendorong munculnya bentuk hunian masa lalu yang berbeda-beda.

Lewat berbagai sumber literatur terpercaya yang berhasil Good News From Indonesia himpun, GNFI akan memandu Kawan menelusuri lebih jauh berbagai jenis rumah adat khas Papua, ciri, fungsi, hingga filosofi di baliknya, karena setiap bangunan tidak hanya sekadar tempat berteduh, melainkan cerminan kehidupan masyarakat yang sangat kompleks. Jadi, simak sampai habis ya, Kawan!

baca juga

Mengapa Papua Memiliki Banyak Rumah Adat?

Papua didiami oleh banyak suku yang masing-masing membawa tradisi, bahasa, dan kearifan lokal yang berbeda. Bentang alam yang luas dan beraneka ragam mulai dari pesisir hingga hutan rimbun yang masih hijau memaksa setiap suku untuk beradaptasi dengan lingkungan sekitar, sehingga berdampak langsung pada bentuk dan material arsitektur hunian mereka.

Pemekaran provinsi modern yang kini membagi wilayah menjadi beberapa kawasan administratif membawa konteks baru dalam pengenalan budaya.

Penting untuk dipahami bahwa kebudayaan masyarakat tidak selalu terpaku pada batas wilayah administratif pemerintahan. Karakteristik hunian seperti rumah adat Papua Barat, model arsitektur di kawasan rumah adat Papua Selatan, hingga struktur bangunan yang dikategorikan sebagai rumah adat Papua Pegunungan, semuanya lahir dari relasi panjang antara manusia dan alam, bukan sebatas peta batas daerah.

Oleh karena itu, kurang bijak rasanya jika kita menyebut satu jenis hunian sebagai representasi tunggal untuk seluruh wilayah luas tersebut.

Rumah Honai, Ikon Hunian Masyarakat Pegunungan Tengah

Gambar Rumah Honai, Rumah Adat Papua yang Ternyata Tidak Hanya Dihuni Suku Dani | Wikimedia Commons: Irsam24
info gambar

Gambar Rumah Honai, Rumah Adat Papua yang Ternyata Tidak Hanya Dihuni Suku Dani | Wikimedia Commons: Irsam24


Membicarakan arsitektur khas kawasan tinggi tidak bisa lepas dari ketenaran arsitektur jerami rumah Honai yang ikonik. Asal-usul Honai tak jauh dari kebutuhan adaptasi terhadap suhu udara dingin di kawasan pegunungan, sehingga bentuknya dibuat membulat tanpa jendela besar. Materialnya sepenuhnya menggunakan kekayaan alam sekitar seperti kayu, rotan, dan alang-alang kering.

Buku Rumah Bundar karya Fangnania (n.d.) bercerita lebih banyak mengenai sejarah rumah Honai ini. Dulunya orang-orang suku Dani tinggal di bawah pohon-pohon besar. Sayangnya, saat hujan turun, daun dan dahan besar pohon tidak bisa menghalangi air hujan. Orang-orang berakhir basah dan kedinginan, belum lagi jika ada angin. Tanpa hujan, di malam hari pun mereka sudah kedinginan.

Masyarakat suku Dani kemudian mengamati bagaimana burung tinggal di sarang. Terutama saat akan bertelur, sepasang burung akan mengumpulkan ranting dan rumput kering, menciptakan hunian yang hangat untuk anak mereka yang akan segera lahir.

Terinspirasi dari situ, suku Dani mulai mengembangkan rumah Honai atau onai yang menurut bahasa daerah berarti rumah.

Honai sendiri tidak hanya digunakan oleh suku Dani di Lembah Baliem atau Wamena. Menurut penelitian Maria Fatima Walo, rumah Honai juga digunakan oleh suku Lani dan Yali di pegunungan Toli dan suku-suku lainnya.

Dalam satu kompleks permukiman adat, fungsi sosial dibagi dengan sangat terstruktur melalui tiga bangunan utama. Dihimpun dari laman resmi KPU Papua Pegunungan dan buku Rumah Bundar, terdapat sistem pembagian ruang kehidupan masyarakat yang mencakup rumah adat kaum pria, ruang perempuan, dan area hewan ternak.

Nama RumahPenghuniFungsi
HonaiLaki-laki dewasa dan remajaTempat tinggal, ruang pendidikan adat, penyusunan strategi, dan diskusi komunitas.
EbeiPerempuan, anak perempuan, dan anak laki-laki kecilTempat edukasi keterampilan bagi perempuan, transfer pengetahuan budaya, dan interaksi sosial.
WamaiHewan ternak (khususnya babi)Ruang pemeliharaan ternak yang bernilai ekonomi tinggi serta penting untuk pelaksanaan ritual adat.

Dari buku yang sama juga diceritakan bahwa di dalam kompleks rumah Honai juga terdapat rumah panjang yang difungsikan sebagai dapur.

baca juga

Nama-Nama Rumah Adat Papua beserta Keunikan dan Fungsinya

Ragam Nama Rumah Adat Papua beserta Keunikan dan Fungsinya, dari Honai hingga Rumah Kaki Seribu! | Laman @KPU Papua Pegunungan
info gambar

Ragam Nama Rumah Adat Papua beserta Keunikan dan Fungsinya, dari Honai hingga Rumah Kaki Seribu! | Laman @KPU Papua Pegunungan


Ada beragam karakteristik serta fungsi rumah adat Papua yang tersebar di berbagai daerah dan digunakan oleh banyak kelompok suku. Berikut di antaranya:

1. Rumah Honai atau Honai Pilamo

Rumah Honai adalah bangunan adat Papua yang paling dikenal luas oleh publik, khususnya yang berasal dari Suku Dani di kawasan Lembah Baliem. Desainnya yang bulat melingkar dengan atap kerucut dari jerami tebal dirancang khusus untuk mempertahankan suhu hangat.

Laman resmi KPU Papua Pegunungan menjelaskan bahwa kata Honai tersusun dari dua kata berbeda dalam bahasa suku Dani. "Ho" memiliki makna laki-laki, sementara "Nai" berarti rumah. Jadi, Honai adalah rumah laki-laki.

Struktur ini dikhususkan bagi kaum laki-laki untuk menyusun strategi, berdiskusi, dan menjaga keamanan komunitas setempat.

2. Rumah Ebei atau Ebe'ai (Honai Perempuan)

Gambar Rumah Honai dalam Komplek Hunian Masyarakat Papua | Wikimedia Commons @Irfantraveller
info gambar

Gambar Rumah Honai dalam Komplek Hunian Masyarakat Papua | Wikimedia Commons @Irfantraveller


Bangunan lain dalam kompleks rumah adat masyarakat Papua bernamaRumah Ebei, yang secara khusus menjadi pusat kehidupan perempuan.

Dikutip dari repositori Universitas Brawijaya dalam penelitian Maria Fatima Walo (n.d.), tempat ini diperuntukkan bagi kaum perempuan. Di ruang inilah perempuan saling berbagi ilmu dan mengajarkan keterampilan kriya.

Dalam jurnalnya, Walo menuliskan fakta unik di mana jumlah Ebei atau Ebe'ai yang terdapat dalam satu kompleks hunian menandakan jumlah istri si laki-laki. Hal ini lantaran laki-laki, terutama figur kepala suku di sana, biasanya mempunyai lebih dari satu istri.

3. Rumah Wamai

Kehidupan ekonomi Suku Dani sangat bergantung pada ternak, yang difasilitasi oleh kehadiran Rumah Wamai.

Dikutip dari portal Budaya Indonesia (n.d.), bangunan ini digunakan khusus untuk merawat hewan ternak yang beraneka jenis mulai dari ayam, babi, anjing dan lain-lainnya. Bentuk bangunan rumah Wamai biasanya persegi, tetapi bentuk dan ukurannya bisa beragam tergantung kebutuhan.

Rumah jenis ini biasanya diletakkan jauh dari Honai dan dikelompokkan bersama dengan Wamai lain. Dengan ini dipercaya bahwa rumah masyarakat dan ternak-ternak akan dijaga oleh roh-roh di sekitar mereka.

4. Rumah Kariwari

Bergeser ke kawasan Teluk Youtefa, suku Tobati-Enggros yang bermukim di Teluk Youtefa dan Danau Sentani, Jayapura, memiliki arsitektur megah bernama Rumah Kariwari.

Rumah Kariwari tidak didesain sebagai tempat tinggal keluarga, melainkan berfungsi sebagai tempat pesta-pesta adat, ritus inisiasi anak laki-laki, pentradisian makna dan nilai-nilai hidup suku Tobati, serta sebagai tempat penyimpanan benda-benda pusaka adat.

Arsitektur Rumah Kariwari dirancang menyerupai limas segi delapan dan beratap tinggi sebagai lambang kedekatan dengan Sang Pencipta dan kebijaksanaan.

5. Rumah Rumsram

Serupa dengan kawasan teluk, masyarakat Suku Biak Numfor yang hidup di bagian pesisir utara Papua memiliki Rumah Rumsram. KPU Papua Pegunungan menerangkan bahwa bangunan ini digunakan sebagai pusat pendidikan tradisional khusus laki-laki.

Desain bangunannya menyerupai perahu terbalik, menggambarkan identitas maritim suku tersebut yang sangat kuat.

6. Rumah Jew atau Jeu

Komunitas masyarakat Asmat memiliki Rumah Jew yang berbentuk rumah panjang berukuran 30-60 meter dan terdiri atas satu ruangan yang dipasangi beberapa pintu. Bahan utamanya terdiri dari kayu, daun sagu untuk atapnya, dan pembuatannya tidak memakai paku besi.

Dikutip dari dokumen lingkungan hidup Papua terbitan pemerintah, rumah Jew diperuntukkan bagi para pemuda yang belum menikah dan berfungsi sebagai lokasi pesta-pesta sakral, pertemuan masyarakat, pembahasan masalah perang atau perdamaian, dan tempat untuk menceritakan dongeng para leluhur kepada masyarakat Asmat.

7. Rumah Kaki Seribu atau Mod Aki Aksa

Rumah Kaki Seribu atau Mod Aki Aksa, Salah Satu Rumah Adat Papua Selain Honai | disbudpar.papuabaratprov.go.id
info gambar

Rumah Kaki Seribu atau Mod Aki Aksa, Salah Satu Rumah Adat Papua Selain Honai | disbudpar.papuabaratprov.go.id


Suku Arfak yang bermukim di Papua Barat memiliki rumah unik bernama Rumah Kaki Seribu atau Mod Aki Aksa. Sesuai namanya, bangunan rumah ini disangga oleh banyak tiang penyangga yang berguna untuk melindungi si pemilik rumah dari banjir, hewan liar, hingga kelembapan tanah.

Dikutip dari situs resmi Indonesia Travel, meski tidak memiliki banyak ornamen hiasan, rumah ini masih memiliki nilai filosofis. Di antaranya mencerminkan keamanan dan perlindungan, kesederhanaan, kebersamaan, dan bentuk harmoni masyarakat suku Arfak dengan alam.

8. Rumah Pohon Korowai

Gambar Rumah Pohon Korowai, Salah Satu Rumah Adat Papua di Pedalaman | George Steinmetz
info gambar

Gambar Rumah Pohon Korowai, Salah Satu Rumah Adat Papua di Pedalaman | George Steinmetz


Suku Korowai dan Kombai di Kabupaten Boven Digoel yang menghuni pedalaman Papua menunjukkan bentuk adaptasi tingkat tinggi terhadap kerasnya alam hutan melalui arsitektur Rumah Pohon Korowai.

Tampak dari gambar jepretan George Steinmetz, Rumah Pohon Korowai dibangun di atas percabangan pohon besar dengan ketinggian mencapai belasan hingga puluhan meter dari tanah. Struktur ini melindungi penghuninya dari banjir sungai, serangga, serta potensi ancaman lain di rimbunnya belantara. Desain ini merupakan bukti kecerdasan spasial masyarakat lokal dalam menaklukkan medan berat.

baca juga

Filosofi Rumah Adat Papua

Mengingat ada ragam jenis rumah adat Papua yang dibuat masyarakat, rasanya sangat tidak relevan jika kita menyamaratakan seluruh filosofi rumah adat Papua karena setiap kelompok suku memiliki cara pandang tersendiri terhadap alam dan penciptanya.

Dari beragam literatur di atas dapat disimpulkan bahwa bangunan tradisional ini bukan sekadar benda mati untuk berlindung, melainkan identitas budaya yang bernyawa. Ada harmoni antara alam, roh leluhur, hubungan sosial antarmanusia, hingga ruang pendidikan yang semuanya terangkum dalam desain dan letak tata ruang hunian mereka.

Jika digali lebih spesifik, selain berfungsi untuk griya tinggal, rumah adat Papua terutama Honai menampilkan filosofi kehangatan persaudaraan dan kebersamaan melalui cara pembangunannya yang bergotong royong, serta spiritualitas tampak dari bangunan yang terbagi menjadi atap (dunia roh) dan dasar (dunia manusia).

Rumah Kariwari dan Jew juga mengandung filosofi kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta atau juga roh, sukma, dan jiwa yang menghidupkan kehidupan melalui fungsi bangunannya sendiri.

Pendidikan bisa dilihat dari beberapa bangunan rumah adat Papua yang dibangun sebagai tempat distribusi pendidikan kepada generasi yang lebih muda. Mulai dari Rumah Ebei, Rumsram, hingga Jew.

Desain rumah adat Papua juga membawa makna harmoni dengan alam, yang terwujud dalam cara mereka memanfaatkan bahan-bahan alam untuk membangun rumah tinggal.

Bagaimana Rumah Adat Papua Bertahan di Era Modern?

Arus modernisasi dan perubahan pola permukiman perlahan menggeser eksistensi bangunan berbahan alam menjadi konstruksi bata dan semen yang dianggap lebih tahan lama. Misalnya, konstruksi dinding Honai kini diganti dengan batu bata, sementara atapnya dibiarkan sesuai desain tradisional.

Meski demikian, pelestarian masih terus digalakkan baik oleh masyarakat adat setempat maupun program pemerintah. Beberapa kampung adat di Lembah Baliem dan Pegunungan Arfak tercatat konsisten mempertahankan arsitektur leluhur mereka secara otentik.

Kehadiran pariwisata budaya dan upaya konservasi lingkungan turut membantu menghidupkan kembali kebanggaan masyarakat untuk merawat warisan budaya ini.

Generasi muda terus didorong untuk memahami sejarah tanpa harus merasa tertinggal zaman. Tentu saja hal ini menjadi pembuktian bahwa arsitektur Nusantara di wilayah timur masih berfungsi sebagai ruang hidup interaktif dan benteng budaya, bukan sekadar monumen atau objek wisata yang kehilangan ruhnya.

Sekian artikel "Mengenal Rumah Adat Papua dari Honai hingga Kariwari, Cerminan Keragaman Budaya Timur Indonesia".

Semoga artikel ini membantu Kawan mendalami jenis rumah adat Papua yang beraneka ragam tak terbatas pada Honai saja, jadi Kawan GNFI akan selalu bangga akan kayanya warisan budaya Indonesia!

baca juga

REFERENSI

  • https://papuapegunungan.kpu.go.id/blog/read/1443_rumah-adat-papua-jenis-fungsi-keunikan-dan-filosofi
  • https://repository.ub.ac.id/id/eprint/162556/1/Maria%20Fatima%20Walo.pdf
  • https://www.indonesia.travel/id/id/travel-ideas/heritage/traditional-house-of-mod-aki-aksa
  • https://lingkunganhidup.papua.go.id/gi/fckimage/file/animha1.pdf
  • https://repositori.kemendikdasmen.go.id/11135/1/Rumah%20Bundar-Fangnania-Final_0.pdf
  • https://versilama.budaya-indonesia.org/Wamai-Rumah-bagi-hewan-ternak-DaftarSB19
  • https://papuapegunungan.kpu.go.id/blog/read/1333_honai-sejarah-dan-perkembangan-rumah-adat-khas-papua-yang-sarat-makna-budaya
  • https://disbudpar.papuabaratprov.go.id/gallery/rumah-kaki-seribu-suku-arfak
  • https://ojs.stpk-jayapura.ac.id/index.php/kariwari/issue/view/1 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Allicia Dhea lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Allicia Dhea.

AD
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.