Masa pengenalan lingkungan sekolah sering kali identik dengan kegiatan seremonial dan penyampaian berbagai aturan kepada peserta didik baru. Namun, MTs Negeri Kota Pasuruan menghadirkan pendekatan yang berbeda. Melalui permainan edukatif "Panca Cinta", para siswa diajak mengenal nilai-nilai moderasi beragama dengan cara yang menyenangkan sekaligus bermakna.
Program ini merupakan hasil kolaborasi antara MTsN Kota Pasuruan, Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Agama Kota Pasuruan, dan Ibu-Ibu Modis (Moderator Agama Berintegritas dan Kreatif). Sebanyak 288 siswa baru mengikuti kegiatan yang menjadi bagian dari rangkaian MATAMUDA (Masa Ta'aruf Siswa Madrasah) pada 15–16 Juli 2026.
Di tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk, kemampuan menghargai perbedaan menjadi bekal penting bagi generasi muda. Karena itu, pengenalan nilai-nilai moderasi beragama sejak hari pertama memasuki lingkungan madrasah diharapkan mampu membentuk karakter siswa yang terbuka, menghormati keberagaman, dan siap hidup berdampingan secara damai.

Ibu Modis dan Siswa MTsN Kota Pasuruan
Pada hari pertama pelaksanaan, Rabu (15/7), seluruh peserta mendapatkan pembekalan mengenai konsep dasar moderasi beragama dari Ibu-Ibu Modis MTsN Kota Pasuruan yang berperan sebagai kader sekaligus agen moderasi beragama. Dalam sesi tersebut, siswa diajak memahami bahwa beragama tidak hanya berkaitan dengan menjalankan ibadah, tetapi juga diwujudkan melalui sikap menghargai sesama, menjaga persatuan, serta mencintai tanah air.
Berbeda dari metode ceramah yang cenderung satu arah, penyelenggara kemudian mengajak siswa mempraktikkan nilai-nilai tersebut melalui sebuah permainan edukatif. Pendekatan ini dipilih agar moderasi beragama tidak dipahami sebagai konsep yang rumit atau sekadar materi yang harus dihafalkan.
Melalui Game "Panca Cinta", penyelenggara ingin mengubah cara peserta didik memandang pembelajaran moderasi beragama. Nilai-nilai seperti toleransi, kepedulian, kerja sama, dan penyelesaian konflik secara damai ditanamkan melalui pengalaman bermain bersama. Interaksi antarsiswa, diskusi kelompok, serta berbagai tantangan dalam permainan membuat pesan-pesan tersebut lebih mudah diterima dan diingat.
Dengan cara itu, sikap terbuka dan cinta damai diharapkan tumbuh secara alami. Ketika nantinya mereka mengikuti proses belajar mengajar di kelas, para siswa telah memiliki fondasi karakter yang menghargai perbedaan dan mampu membangun hubungan yang harmonis dengan teman-temannya.
Suasana semakin semarak pada hari kedua, Kamis (16/7). Lapangan MTsN Kota Pasuruan dipenuhi tawa dan sorak sorai para siswa baru yang antusias mengikuti setiap sesi permainan. Alih-alih masih merasa canggung karena baru mengenal lingkungan sekolah, mereka tampak cepat membangun keakraban melalui berbagai aktivitas kelompok yang menuntut komunikasi, kolaborasi, dan saling menghargai.
Dalam pelaksanaannya, para siswa didampingi langsung oleh jajaran pengurus DWP Kementerian Agama Kota Pasuruan bersama Ibu-Ibu Modis MTsN Kota Pasuruan. Pendampingan tersebut memastikan setiap kelompok tidak hanya memahami aturan permainan, tetapi juga menangkap makna di balik setiap tantangan yang diberikan.
Game "Panca Cinta" sendiri mengangkat lima nilai utama yang menjadi fondasi moderasi beragama.
Nilai pertama adalah Cinta Tanah Air, yaitu menumbuhkan rasa nasionalisme dengan menghargai keberagaman bangsa serta memperkuat komitmen menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Nilai kedua, Cinta Sesama, mengajarkan pentingnya menghormati setiap individu tanpa membedakan suku, agama, ras, maupun latar belakang sosial.
Selanjutnya, Cinta Keragaman mengajak siswa untuk terbuka terhadap berbagai perbedaan pendapat dan cara pandang. Sikap ini menjadi bekal penting agar mereka mampu hidup berdampingan di tengah masyarakat yang beragam.
Nilai keempat adalah Cinta Kedamaian, yang menanamkan kebiasaan menyelesaikan kesalahpahaman melalui dialog, musyawarah, dan komunikasi yang baik, bukan dengan kekerasan.

Permainan Panca Cinta
Sementara itu, Cinta Tradisi dan Budaya mengajarkan siswa untuk menghargai budaya lokal yang selaras dengan nilai-nilai keagamaan sebagai bagian dari identitas bangsa yang patut dilestarikan.
Kelima nilai tersebut dikemas dalam aktivitas yang ringan dan menyenangkan sehingga mudah dipahami oleh peserta didik usia madrasah tsanawiyah. Dengan belajar sambil bermain, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan baru, tetapi juga merasakan secara langsung pentingnya kerja sama, empati, dan sikap saling menghormati.
Kolaborasi antara MTsN Kota Pasuruan, DWP Kementerian Agama Kota Pasuruan, dan Ibu-Ibu Modis menunjukkan bahwa pendidikan karakter dapat dilakukan melalui pendekatan yang kreatif dan dekat dengan dunia remaja. Permainan sederhana pun mampu menjadi media pembelajaran yang efektif ketika dirancang dengan tujuan yang jelas dan melibatkan partisipasi aktif siswa.
Lebih dari sekadar menjadi bagian dari kegiatan masa pengenalan sekolah, implementasi Game "Panca Cinta" diharapkan menjadi langkah awal dalam membentuk generasi muda yang inklusif, toleran, serta mampu menjadi agen perdamaian di lingkungan sekolah maupun masyarakat.
Pada akhirnya, pengalaman selama dua hari tersebut menjadi pengingat bahwa pendidikan karakter tidak selalu harus berlangsung di dalam ruang kelas. Melalui tawa, kerja sama, dan interaksi antarteman, nilai-nilai moderasi beragama justru dapat tumbuh secara lebih alami. Bekal inilah yang diharapkan akan terus melekat pada diri para siswa, menemani mereka tidak hanya selama menempuh pendidikan di madrasah, tetapi juga ketika kelak hidup di tengah masyarakat Indonesia yang beragam.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


