pernah nyaris do alumnus ub ini kini jadi wakil perdana menteri timor leste - News | Good News From Indonesia 2026

Pernah Nyaris DO, Alumnus UB Ini Kini Jadi Wakil Perdana Menteri Timor Leste

Pernah Nyaris DO, Alumnus UB Ini Kini Jadi Wakil Perdana Menteri Timor Leste
images info

Mariano Assanami Sabino Lopes | UB


Tahukah Kawan GNFI jika ada salah seorang politisi asal Timor Leste yang ternyata merupakan jebolan salah satu universitas top Indonesia?

Adalah Mariano Assanami Sabino Lopes, alumnus Program Studi S1 Hama dan Penyakit Tumbuhan angkatan 1991 di Universitas Brawijaya UB). Mariano dipercaya untuk mengemban amanah sebagai Wakil Perdana Menteri Timor Leste.

Bagi Mariano, UB bukan sekadar tempat berburu gelar akademik. Kampus negeri di Kota Malang ini menjadi tempat di mana ia belajar membentuk karakter, kedisiplinan, daya tahan mental, serta ketajaman berpikir kritis.

“Universitas ini tidak hanya tempat menimba ilmu pengetahuan, tetapi juga membentuk manusia yang ulet, serius, disiplin, dan mampu mengimplementasikan ilmunya. Bekal yang saya peroleh di Brawijaya masih sangat relevan untuk membangun Timor Leste hingga hari ini,” ungkap Mariano dilansir dari situs resmi UB di prasetya.ub.ac.id.

Dilema Kuliah Laboratorium dan Perjuangan Politik

Saat masih berstatus sebagai mahasiswa Pertanian, Mariano akrab dengan laboratorium dan riset tanaman. Di sisi lain, ia juga bertanggung jawab sebagai motor pergerakan mahasiswa Timor Leste di Indonesia yang tengah memperjuangkan kemerdekaan tanah airnya.

Hampir 80 persen waktunya tersedot untuk konsolidasi organisasi dan aktivitas politik. Akibatnya, Mariano harus bekerja ekstra untuk menyeimbangkan urusan kuliah dan perjuangan.

Walhasil, jalan akademik Mariano tidak mulus. Ia mengaku sempat terseok-seok mengikuti mata kuliah praktikum di laboratorium seperti bakteriologi, virologi, hingga nematologi.

Bahkan, riset skripsinya mengenai pengendalian penyakit akar gada sempat gagal total di lapangan. Fase ini hampir membuatnya menyerah.

“IP saya pas-pasan. Saya hampir memutuskan untuk drop out karena gerakan yang saya jalani sangat berat dan waktu untuk kuliah tidak cukup. Namun saya berpikir bahwa gelar tetap penting dan harus saya selesaikan,” kenangnya.

baca juga

Sisi Humanis Dosen UB

Di tengah situasi pelik tersebut, Mariano beruntung dikelilingi oleh para pengajar di Fakultas Pertanian UB yang penuh empati. Ia mengenang mendiang Pak Kolil, Prof. Rasmina, dan Prof. Abdul Latief Abadi sebagai sosok-sosok mentor yang merangkul dan memahami dinamika hidup mahasiswanya.

Ia menceritakan bagaimana Pak Kholil dengan sigap memindahkan riset lapangan Mariano yang terkendala ke dalam laboratorium agar skripsinya bisa selesai lebih cepat. Sementara itu, Prof. Rasmina banyak memberikan nasihat agar ia tidak melepas tanggung jawab akademiknya di tengah kesibukan politik eksternal.

“Pak Kolil memahami persoalan yang saya hadapi dan selalu membantu mencarikan solusi. Prof. Rasmina juga banyak memberikan nasihat kepada saya. Mereka tidak menghakimi aktivitas saya, tetapi memahami situasi yang saya alami dan tetap mendorong saya untuk lulus,” tuturnya.

Kehangatan kota Malang juga membekas kuat di ingatannya. Menjadi satu-satunya mahasiswa asal Timor Leste di angkatannya sempat membuat Mariano canggung.

Namun, ia berterima kasih atas solidaritas rekan-rekan kuliahnya yang selalu membantunya di kala sulit. Tak hanya itu, ibu kosnya dulu juga menganggapnya seperti anak sendiri yang membuat pengalaman hidup di Kota Malang menjadi berarti untuknya.

Modal Menghadapi Tantangan Global

Pengalaman menghadapi beratnya tuntutan akademik dan padatnya praktikum di UB melatih ketangguhan mental Mariano dalam memecahkan masalah. Modal cara berpikir taktis inilah yang ia bawa ketika dipercaya menjabat sebagai Menteri Pertanian Timor Leste selama 7,5 tahun.

Tak berhenti di sana, ia kemudian melanjutkan kiprahnya menjadi anggota parlemen. Kini, Mariano menduduki posisi krusial di negaranya sebagai Wakil Perdana Menteri.

“Brawijaya membekali kami untuk menghadapi masalah dengan berbagai alternatif solusi. Ketika solusi pertama tidak berhasil, kita belajar mencari solusi berikutnya. Cara berpikir seperti itu sangat berguna dalam kehidupan, organisasi, maupun pemerintahan,” ujarnya.

Melihat visual kampus UB yang kini kian modern, Mariano berpesan agar mahasiswa saat ini tidak terlena oleh kecanggihan teknologi. Ia menegaskan jika pendidikan pada dasarnya bertujuan untuk mempertajam cara berpikir dan membentuk karakter.

“Terimalah ilmu sebanyak-banyaknya, aktiflah berorganisasi, dan jadilah pejuang. Tantangan yang kalian hadapi selama kuliah akan menjadi bekal berharga ketika memimpin masyarakat di masa depan,” pungkasnya.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firda Aulia Rachmasari lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firda Aulia Rachmasari.

FA
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.