gara gara susah cari tas kerja yang pas perempuan lulusan skotlandia ini nekat bangun bisnis sendiri - News | Good News From Indonesia 2026

Gara-Gara Susah Cari Tas Kerja yang Pas, Perempuan Lulusan Skotlandia Ini Nekat Bangun Bisnis Sendiri

Gara-Gara Susah Cari Tas Kerja yang Pas, Perempuan Lulusan Skotlandia Ini Nekat Bangun Bisnis Sendiri
images info

Malika Rizky Aninditha pemilik Yourkalle


Waktu itu, Malika mencari tas serba guna yang bisa menampung laptop, tapi juga masih pantas dibawa nongkrong sepulang kerja. Sudah berkali-kali cari, tapi Malika susah menemukan yang pas. Kebanyakan tas laptop di pasaran didesain untuk laki-laki, atau untuk anak kuliahan.

Struggle itu lah yang dulu dialami Malika—dan mungkin juga perempuan lain. Putus asa dengan pencariannya, Malika milih membuat produk tas sesuai keinginannya sendiri. Padahal, Malika lulusan teknik sipil.

Memang, sebelum masuk dunia bisnis, Malika lebih dulu bergelut dengan rumus dan hitungan struktur bangunan. Tapi lama-lama ia sadar, minatnya bukan di sana, tapi dunia usaha, dengan segala ketelitian dan perhitungannya sendiri.

baca juga

Berburu Beasiswa Sebelum Era Medsos

Belum puas dengan riwayat pendidikannya, Malika Rizky Anindithamulai cari-cari beasiswa untuk sekolah bisnis pada tahun 2014. Waktu itu, informasi LPDP belum semudah sekarang sehingga Malika baru dapat info dari cerita para senior yang lebih dulu berangkat kuliah ke luar negeri.

Beruntungnya, ia sukses tembus setelah coba-coba daftar. Tahun 2015, Malika berangkat ke University of Edinburgh, Skotlandia, ambil magister Entrepreneurship and Innovation.

Di sana, Malika benar-benar belajar. Ia merasakan betul metode belajar yang beda total dari dunia teknik sipil. Ia bahkan belajar bahwa bisnis bukan cuma soal jualan produk, tapi juga harus mengerti psikologis manusia. Ilmu itu lah yang jadi bekal Malika buka usaha tas.

“Kalau di UK itu lebih ke critical thinking, banyak esai-esai. Sedangkan saya sebelumnya di teknik sipil benar-benar eksak, menghitung dengan rumus. Kalau bisnis tidak seperti itu. Jadi metode pembelajarannya berbeda,” tutur Malika.

Kampusnya juga memberi bekal langsung ke dunia kerja lewat program magang di perusahaan dan kesempatan jadi konsultan untuk startup yang sedang berkembang di Inggris.

“Programnya (Edinburgh) ada magang langsung di perusahaan dan kita juga bisa menjadi konsultan untuk startup yang masih berkembang di UK. Itu menurut saya program yang sangat menarik,” katanya.

baca juga

Yourkalle: Tas untuk Perempuan yang Tidak Difasilitasi Pasar

Ide bisnis pembuatan tas tercetus setelah Malika pulang ke Indonesia, lebih tepatnya ngobrol santai bareng sahabat sejak SMP. Dari situlah, muncul merek tas lokal bernama Yourkalle.

Kenapa tas? Malika sebenarnya sudah kenal industri ini sejak kuliah—waktu ia jadi reseller tas. Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, Malika mencari tas untuk perempuan pekerja tapi muat laptop, tapi ia tidak kunjung menemukan setelah sekian lama melakukan pencarian. Makanya, ia punya gagasan buat produksi sendiri berbekal pengalamannya menyelami tas di masa lampau.

“Saya melihat ada gap. Tas laptop sudah banyak untuk laki-laki, banyak untuk anak-anak kuliahan, tapi saat itu untuk wanita karier belum ada. Jadi saya melihat ada gap itu, lalu memutuskan untuk membangun Yourkalle,” ujarnya.

Yourkalle punya model tas unik dan jadi andalan. Bentuknya tote bag biasa, rapi dan formal, cocok dibawa ke kantor. Tapi, tas itu juga punya tali punggung yang bisa ditarik keluar. Tote bag pun berubah jadi backpack.

Desain ini dinilai menjadi jawaban atas kebutuhan perempuan yang harus gonta-ganti peran dalam sehari. Misalnya, pagi meeting formal bawa tote bag, sore buru-buru ke stasiun butuh backpack biar tangan bebas pegang HP atau tiket.

Untuk itu, filosofi tas ini cukup unik: Monday to Sunday, Work to Play.

“Kita pengen bikin tas yang memang bisa dipakai dari Senin sampai Minggu. Mulai dari kerja sampai main-main itu masih cukup stylish. Secara look bagus, tapi functional juga.”

baca juga

Blusukan Cari Penjahit di Gang-Gang Bandung

Membuat produk, jelas tidak berhenti hanya pada ide. Malika juga harus mewujudkan desain menjadi produk yang benar-benar layak dijual.

Ia menyadari bahwa kualitas sebuah tas tidak hanya ditentukan oleh desain, tetapi juga tangan-tangan terampil yang menjahitnya. Karena itu, Malika bersama tim rela menyusuri berbagai sudut Kota Bandung demi menemukan penjahit yang mampu menghasilkan produk sesuai standar yang mereka inginkan.

"Kita sampai blusukan ke gang-gang di Bandung. Karena ternyata mencari penjahit yang benar-benar bagus itu cukup sulit," kata Malika.

Pengalaman tersebut menjadi pelajaran penting baginya bahwa membangun sebuah brand bukan sekadar menciptakan produk yang menarik, melainkan juga membangun rantai produksi yang kuat sejak dari hulunya.

Di saat yang sama, ilmu pemasaran yang pernah ia pelajari ketika menjalani magang di Inggris juga langsung ia praktikkan. Alih-alih menjual produk kepada semua orang, Malika memilih memahami lebih dulu siapa calon konsumennya.

Ia melakukan pemetaan target pasar secara rinci, mulai dari karakter, kebutuhan, hingga kebiasaan berbelanja. Pendekatan berbasis data itulah yang kemudian menjadi fondasi strategi pemasaran Yourkalle.

"Cara marketingnya itu dia benar-benar mencari tahu siapa market-nya. Profiling sampai detail. Dan itu yang saya berusaha terapkan di Yourkalle," ujarnya.

Komitmen Yourkalle juga terlihat dari rantai pasok yang hampir seluruhnya melibatkan pelaku usaha lokal. Material utama berasal dari Indonesia, proses produksi dikerjakan oleh penjahit lokal, dustbag dibuat oleh UMKM di Bandung, hingga kemasan produk pun diproduksi di dalam negeri.

Dengan mengandalkan ekosistem lokal tersebut, Yourkalle kini telah berkembang menjadi salah satu merek tas yang dipasarkan melalui berbagai platform e-commerce dan berhasil menjual ribuan produk kepada pelanggan di berbagai daerah.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.