Bisa ke luar negeri memang seperti utopia bagi kalangan kelas menengah. Entah untuk melanjutkan pendidikan atau bekerja, ke luar negeri tampak sulit.
Kenny Simorangkir sudah khatam betapa sulitnya mendapatkan beasiswa. Ia tahu betul rasanya ditolak, berkali-kali. Beberapa aplikasi beasiswa yang ia lamar tidak berhasil. Kesempatan menempuh program Music Business di New York University pun akhirnya harus ia lepas karena keterbatasan finansial.
Pintu yang Terbuka Lewat Erasmus+
Melalui Program Erasmus+ Student Mobility, mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Airlangga (Unair) ini akhirnya bisa ke luar negeri. Ia menjalani satu semester pertukaran pelajar di Kraków University of Economics (UEK), Polandia, dari Februari hingga Juni 2026.
Erasmus+ sendiri adalah program beasiswa mobilitas internasional yang didanai oleh Uni Eropa. Program ini memungkinkan mahasiswa dari berbagai negara untuk belajar, magang, atau berkontribusi sebagai relawan di institusi mitra di Eropa.
Bagi mahasiswa Indonesia, program ini bisa diakses melalui universitas yang memiliki perjanjian kerja sama dengan institusi Eropa.
Kenny mengaku pertama kali mengetahui peluang ini saat menjelajahi laman Airlangga Global Engagement. Ia langsung melakukan percobaan yang kesekian kali dan syukurnya kali ini ia lolos.
"Saya selalu antusias untuk mencoba hal-hal baru, bertemu orang-orang baru, dan memulai kehidupan di tempat yang baru. Ketika menemukan peluang terkait Erasmus+, saya sangat bersemangat," ujar Kenny.
Baginya, Erasmus+ bukan sekadar program pertukaran akademik biasa. Ini adalah jembatan menuju mimpi yang lebih besar, termasuk mendekatkan dirinya pada industri musik global.
"Program mobilitas ini memberi saya kesempatan untuk belajar di luar negeri dan membangun koneksi dengan para profesional di industri musik Eropa," tuturnya.
Di Ruang Kelas, Kenny Mendapat Banyak Pandangan Budaya
Di UEK, Kenny mengambil sejumlah mata kuliah, di antaranya Modern Business Management dan International Business. Tapi, selain itu, ada dua mata kuliah lain yang bagi Kenny malahan paling membekas.
Yang pertama, International Market Research & Analysis. Mata kuliah ini membuka matanya tentang bagaimana latar belakang budaya seseorang bisa memengaruhi cara mereka menilai sesuatu, bahkan hal-hal sepele seperti memberi rating restoran.
"Seseorang bisa saja memberikan rating lima dari lima untuk sebuah restoran meskipun sebenarnya tidak sepenuhnya puas, sementara orang lain mungkin memberi nilai empat meskipun mereka menikmati pengalaman tersebut," jelasnya.
Pelajaran itu ternyata jauh lebih luas dari sekadar riset pasar sekaligus menjadi pengingat bahwa setiap orang menafsirkan pengalaman yang sama secara berbeda tergantung dari mana mereka berasal.
Yang kedua, Creativity Techniques in Project Management. Sebagai musisi, Kenny selama ini akrab dengan kreativitas sebagai proses yang mengalir begitu saja. Tapi, mata kuliah ini mengajarkan hal-hal yang lebih teknikal.
"Mata kuliah ini membantu saya menjembatani kreativitas dengan eksekusi yang lebih teknis," katanya.
Sistem perkuliahan di UEK juga terasa berbeda dari yang ia kenal di Indonesia. Di sana, setiap sesi umumnya dibagi menjadi kuliah teori dan sesi workshop, sehingga mahasiswa tidak hanya menerima konsep, tetapi langsung mempraktikkannya. Fleksibilitas ini cocok dengan gaya belajarnya yang mandiri.
Di Negara Nan Jauh, Kenny Merasa Seperti Rumah
Adaptasi sering dianggap sebagai tantangan terbesar dalam program pertukaran pelajar. Apalagi, dilihat dari segi budaya, memang berbeda sama sekali. Tapi Kenny cukup adaptif.
"Pada hari ketiga, saya sudah merasa Kraków seperti rumah sendiri," ujarnya.
Kraków adalah kota kedua terbesar di Polandia, dengan sejarah panjang sebagai pusat budaya dan akademik. Kota ini dikenal ramah bagi pelajar internasional, dengan biaya hidup yang lebih terjangkau dibanding kota-kota besar Eropa Barat seperti Paris atau Amsterdam.
Meski Kenny mudah beradaptasi, bukan berarti semua berjalan tanpa hambatan. Salah satu hal yang paling mencolok bagi Kenny adalah perbedaan gaya sosial antara orang Polandia dan orang Indonesia.
Masyarakat Polandia cenderung lebih pendiam dan tidak mengekspresikan kehangatan secara terbuka, berbeda dari budaya Indonesia yang dikenal ramah dan murah senyum. Bagi sebagian orang, ini bisa terasa dingin atau bahkan menyinggung.
"Saya belajar untuk tidak mengartikan sikap netral sebagai sesuatu yang dingin atau tidak ramah. Itu hanyalah bentuk ekspresi sosial yang berbeda," ujarnya.
Jauh-Jauh ke Negara Orang, Kenny Lebih Partisipatif daripada Hanya Belajar di Kelas
Selama satu semester, Kenny tidak hanya menghabiskan waktunya di kampus. Ia juga mengunjungi enam negara di Eropa, memperluas wawasan jauh melampaui batas akademik.
Salah satu pengalaman paling berkesan membawanya ke Aarhus, Denmark, tempat ia menjadi relawan dalam sebuah konferensi musik internasional. Di sana, ia melihat langsung bagaimana industri musik Eropa bekerja di balik layar.
"Yang paling berkesan bagi saya adalah betapa kolaboratif dan terbukanya lingkungan tersebut, meskipun semua orang berasal dari negara dan latar belakang profesional yang berbeda," ujarnya.
Di sebuah acara Erasmus, Kenny bahkan tampil membawakan lagu ciptaannya sendiri, sebuah momen yang mungkin kecil dalam ukuran panggung, tapi besar dalam keberanian.
Pelajaran yang Tidak Ada di Silabus
Bertemu orang-orang dari berbagai negara dan budaya mengajarkan Kenny sesuatu yang tidak tertulis di buku teks mana pun, bahwa cara kita berkomunikasi, bekerja dalam tim, dan menyelesaikan masalah sangat dipengaruhi oleh dari mana kita berasal.
"Pengalaman ini membuat saya sadar bahwa apa yang selama ini kita anggap 'normal' sebenarnya sering kali merupakan konstruksi budaya, bukan sesuatu yang universal," refleksinya.
Bagi Kenny yang tumbuh sebagai mahasiswa Batak di lingkungan Jawa, sensitivitas lintas budaya bukan hal yang benar-benar asing. Tapi pengalaman di Eropa membawanya ke level pemahaman yang lebih dalam.
"Program mobilitas ini membantu saya menghadapi berbagai perbedaan tersebut dengan kesadaran dan kemampuan adaptasi yang lebih baik," tuturnya.
Secara akademik, semester ini juga menumbuhkan minat barunya pada pemasaran internasional dan strategi budaya, khususnya dalam industri kreatif seperti musik dan penyelenggaraan acara.
"Pengalaman ini semakin menguatkan minat saya untuk bekerja di lingkungan global, tempat saya dapat menghubungkan berbagai audiens melalui storytelling dan strategi pemasaran," katanya.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


