Ada satu prinsip yang dipegang Marsya waktu memutuskan terbang ke Australia: lebih baik minta maaf daripada minta izin. Ya, sebab, dulu Marsya memang sempat dilarang untuk merantau dan keluar dari Lombok.
Akan tetapi, buat anak perempuan pertama di keluarga Lombok, kalimat itu adalah satu-satunya cara untuk bisa keluar dari rumah. Pada akhirnya, Marsya mendapatkan restu dari orang tuanya untuk merantau pertama kali. Dan ya, pertama kali merantau langsung ke luar negeri untuk mengajarkan bahasa Indonesia.
Ceritanya begini. Marsya Rouna Billauri, lulusan Pendidikan Bahasa Inggris Universitas Mataram, kala itu sedang mencoba berbagai peruntungan dan mendaftar apapun yang bisa membawanya keluar dari Lombok—lebih jauh lagi, bisa ke luar negeri. Seperti pengakuannya sendiri, "mengetuk semua pintu agar saya bisa keluar dari Lombok."
Yang ada dalam pikirannya saat itu adalah melanjutkan pendidikan S2 dan mendaftar beasiswa.
Di samping mendaftar beasiswa, ia juga coba-coba ikut program Language Assistant Program (LAP), sebuah program dari Balai Bahasa Indonesia Perth (BBIP) yang menempatkan asisten pengajar bahasa Indonesia (BIPA) di sekolah-sekolah di Australia Barat selama 1 tahun.
Pada akhirnya, LAP ini lah yang sukses membawa Marsya berangkat merantau. Tapi, jauh sebelum itu, saat mendapat email bahwa ia diterima program LAP, Marsya mengaku sempat ragu. Sebab, Marsya cukup awam dengan program ini.
Marsya sempat curiga itu modus penipuan. Ia mengecek nomor penelepon lewat sebuah aplikasi, menghubungi dosen yang membagikan info lowongan itu, sampai berusaha melacak alumni program tersebut di internet.
“Awalnya saya pun masih skeptis apakah ini benar atau tidak. Saya mencari-cari info coba approach alumni-alumni yang sekiranya ada di website, karena mereka punya website tapi saat itu informasi tentang LAP ini sangat jarang apalagi untuk urusan mengajar bahasa Indonesia,” katanya saat wawancara langsung dengan GNFI.
Maklum, waktu itu—sekitar 2022—informasi soal pengajaran Bahasa Indonesia di luar negeri masih sangat minim.
"Saya pikir mengajar bahasa Indonesia di luar negeri selain Fulbright yang kita tahu benar-benar legit, untuk negara-negara lain itu baru lumayan terdengar 2 atau 3 tahun belakangan ini," katanya.
Modal Nekat Anak Pesisir
Untuk memahami kenapa Marsya sebegitu ngototnya mencari jalan keluar, kita perlu mundur sedikit. Di keluarganya, sebagai anak perempuan pertama, ia tumbuh dengan ekspektasi standar bahwa tugas perempuan adalah mengurus rumah, menjaga keluarga, tidak banyak merantau. Bahkan setelah lulus SMA, ia tidak mendapat izin untuk pergi jauh dari Lombok.
Tidak ada satu pun anggota keluarganya yang berkecimpung di dunia pendidikan, apalagi yang pernah kuliah S2 di luar negeri. Jadi, ketika Marsya mulai serius mencari beasiswa dan program ke luar negeri, ia benar-benar jalan sendirian—menyusun esai motivasi, mengurus dokumen, melakukan riset—tanpa ada yang bisa ia ajak diskusi di rumah.
"Mungkin saya sendiri bisa berpikir kalau saya selesai, untuk punya privilege kuliah saja itu suatu privilege yang mahal," ujarnya, mengenang betapa besar usaha yang sudah dikeluarkan keluarganya hanya supaya ia bisa menyelesaikan S1.
Berbekal Bahasa Inggris, Malah Jadi Guru Bahasa Indonesia
Sebagaimana yang sudah disinggung sebelumnya, program yang membawanya keluar dari Lombok itu adalah Language Assistant Program (LAP) untuk mengajar Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing alias BIPA di sekolah-sekolah Australia Barat. Marsya kebagian Geraldton, kota kecil di pesisir barat Australia dan mengajar tiga sekolah, yakni Waggrakine Primary School, Wandina Primary School, dan Champion Bay Senior High School selama satu tahun penuh, mulai 2023.
Yang menarik, dia masuk program ini dengan modal nol soal BIPA. Di Lombok sendiri, menurut ceritanya, pengajaran BIPA—kalaupun ada, biasanya di kawasan turistik seperti Kuta—sifatnya hanya kontekstual untuk percakapan sehari-hari turis, bukan pengajaran terstruktur.
Ternyata, latar belakang Pendidikan Bahasa Inggris yang Marsya punya justru jadi modal kuat. Alasannya sederhana, pendekatan mengajar bahasa pada dasarnya mirip lintas bahasa, dan karena mayoritas pelajar BIPA berbahasa ibu Inggris, pengajar yang juga menguasai Bahasa Inggris bisa menjembatani gap pemahaman jauh lebih efektif.
Di LAP sendiri, dari tiga lead teacher, dua di antaranya bukan penutur asli Bahasa Indonesia—mereka cuma hafal frasa-frasa dari buku ajar macam "selamat pagi" dan "selamat siang". Marsya-lah yang memberi konteks hidup di balik kata-kata itu.
Salah satu cara Marsya mengenalkan budaya adalah lewat Tari Rudat, tarian penyambutan tamu khas Lombok yang punya nuansa Islami. Wajar, karena Lombok dikenal sebagai "Pulau Seribu Masjid". Lewat syair tariannya yang berisi sapaan seperti "Assalamualaikum" dan "salam kenal", murid-murid Australia jadi lebih paham makna kata-kata yang sebelumnya cuma teks di buku paduan.
Lebaran 12 Jam dari Rumah
Setahun di Australia ternyata jadi pintu ke kesempatan berikutnya. Lewat jejaring sesama alumni LAP, Marsya kenal dua orang yang lolos program Foreign Language Teaching Assistant (FLTA)—program yang disponsori Fulbright untuk mengajar bahasa di Amerika Serikat.
Ia pun mendaftar, menunggu hampir setahun sejak Februari sampai akhirnya dinyatakan sebagai kandidat utama sekitar Agustus, dan terbang ke Amerika Serikat pada Agustus 2025.
Di sinilah ia mengajar Bahasa Indonesia di University of Wisconsin–Madison selama sembilan bulan. Kali ini untuk mahasiswa, bukan anak sekolah. Mengajar di strata berbeda, membuat Marsya juga menerapkan strategi pengajaran berbeda.
Di University of Wisconsin–Madiso, setiap minggu ia mengadakan Indonesian Language Table, semacam sesi ngobrol santai berbahasa Indonesia. Marsya mengungkapkan, di sana lah kesempatan dia untuk mengenalkan budaya ala anak muda yang sedang tren di Indonesia.
Salah satunya adalah konsep "nongkrong"—yang ia jelaskan sebagai aktivitas kumpul tanpa agenda jelas. Ia membahas konsep itu lengkap dengan Indomie sebagai properti, dan perbandingan budaya nongkrong di warung kopi Indonesia versus budaya makan cepat ala McDonald's Amerika. Ia bahkan memperkenalkan genre musik hip-dut—perpaduan hip-hop dan dangdut yang sedang digandrungi Gen Z—ke mahasiswa-mahasiswa Wisconsin.
Kelas Gratisan yang Mengubah Arah Hidupnya
Status Fulbright FLTA tak cuma soal mengajar. Marsya juga memanfaatkan kesempatan yang diperolehnya untuk terus belajar. Ia mengambil sejumlah kelas akademik dan memperluas jejaring internasional yang mendukung rencana studinya di bidang pendidikan
Ia berhak mengikuti kelas audit secara gratis. Marsya memanfaatkannya untuk mengambil mata kuliah Career Education, yang menurutnya jadi "guidebook" yang selama ini tak pernah ia dapat dari keluarga: cara menulis cover letter, riset jalur karier, sampai layanan career advising yang menurutnya sangat dibutuhkan fresh graduate Indonesia yang sering bingung mau ke mana setelah lulus.
Kelas audit lain yang ia ambil, African American Studies: Social Justice and Multicultural, justru hanya diisi tiga mahasiswa—imbas situasi politik Amerika yang menurut Marsya membuat banyak orang ragu mengambil mata kuliah bermuatan kritis semacam itu. Tapi justru di kelas sepi inilah titik balik kariernya terjadi.
Sang profesor menawarkan diri menjadi pemberi rekomendasi untuk pendaftaran S2-nya, menghubungkannya dengan koordinator program pascasarjana, dan mendorongnya mendaftar—hanya empat hari sebelum tenggat waktu.
"Tunggu sementara, this is going to be a very life changing experience for Marsya," ujar sang profesor saat itu, di tengah sesi kelas, sambil meminta Marsya menuliskan nomor kontaknya.
Hasilnya, Marsya diterima di program Master of Research, School of Education, University of Wisconsin–Madison—kampus yang sama tempat ia mengajar. Sekarang ia sedang mengusahakan beasiswa LPDP atau posisi teaching assistant yang memberi keringanan biaya kuliah, sambil berharap bisa berangkat lagi September mendatang.
Pulang untuk Membangun Sekolah
Semua perjalanan ini, kata Marsya, bukan untuk menetap di luar negeri selamanya. Cita-citanya justru pulang, membangun sekolah sendiri di Nusa Tenggara Barat, dengan visi pendidikan yang memaksimalkan potensi anak—bukan mendiktekan apa yang harus mereka pelajari.
Ia juga sudah mulai bergerak lewat platform bernama Sama Kita Education, yang awalnya adalah kelas Bahasa Inggris nonformal untuk anak-anak pesisir Ampenan yang tidak mendapat pelajaran Bahasa Inggris formal di sekolah dasar mereka.
Setelah sempat vakum dan bertransformasi jadi kelas online IELTS dan TOEFL, kini platform itu ia hidupkan kembali sebagai ruang berbagi bagi pengajar-pengajar muda Indonesia—lewat formulir pendaftaran, grup WhatsApp, hingga sesi coaching via Zoom.
Bagi Marsya, kemampuan Bahasa Inggris yang dulu ia anggap sekadar bekal untuk jadi guru, ternyata membuka jalan yang jauh lebih luas dari bayangannya.
"There's like plenty of chances, plenty of opportunities yang mungkin bisa ada dari modal kita bisa Bahasa Inggris," katanya—pesan yang kini ia coba tularkan ke lulusan-lulusan pendidikan bahasa lain yang, seperti dirinya dulu, mungkin hanya membayangkan satu jalan: jadi guru, lalu selesai.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


