“Dulu saya sering dibilang, perempuan sekolah tinggi nanti akhirnya ke dapur juga, tapi ayah selalu mengingatkan bahwa sekolah itu penting supaya kita bisa punya banyak pilihan dalam hidup,” kenang Astin, dikutip dari laman ITB.
Tumbuh di desa kecil di Kebumen, Astin Nurdiana tak asing dengan anggapan bahwa perempuan cukup menjalani peran yang dalam budaya Jawa sering disederhanakan sebagai 3M: masak, macak, dan melahirkan. Pandangan itu pun beberapa kali sampai ke telinganya. Tetapi, sang ayah yang mencari nafkah sebagai tukang kayu tidak pernah membatasi cita-cita putrinya. Ia justru meyakini pendidikan adalah jalan untuk membuka masa depan yang lebih luas.
Dari dukungan itu, Astin akhirnya menghabiskan hampir delapan tahun di Jepang, meraih gelar doktor, menjadi asisten profesor, lalu kembali ke Indonesia sebagai dosen Teknik Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB). Di kampus itu, ia kini meneliti berbagai persoalan kebumian, mulai dari interaksi batuan dan air hingga pengembangan energi ramah lingkungan.
Ikut Olimpiade Kebumian, Berawal dari "Pelarian" dari Remidi
Ketertarikan Astin pada ilmu kebumian berawal dari aktivitasnya mengikuti olimpiade ketika di bangku kuliah. Saat SMA, ia mengikuti Olimpiade Sains Nasional (OSN) bidang kebumian. Bukan karena sudah bercita-cita menjadi geolog, tetapi karena ia ingin mencari "pelarian" dari remidi matematika dan fisika.
“Waktu itu saya sebenarnya belum terlalu paham apa itu kebumian, cuma tertarik karena materinya berbeda dari pelajaran sekolah pada umumnya. Dan kebetulan ingin cari pelarian dari remidi matematika dan fisika,” ujarnya.
Di ajang itu, Astin berhasil meraih medali perak OSN Kebumian. Setelahnya, Astin bukannya merasa puas, malahan rasa ingin tahunya makin tumbuh subur.
Menurutnya, geologi bukan hanya ilmu yang membahas tentang batu. Bidang ini juga mempelajari bagaimana bumi bekerja, mulai dari pembentukan gunung, gempa bumi, hingga sumber energi yang tersimpan di bawah permukaan.
“Setelah ikut pembinaan, saya jadi tahu kalau bumi itu menarik sekali. Ada proses-proses yang bisa kita lihat, bisa kita amati, dan itu membuat saya jadi lebih ingin tahu. Dari situ saya mulai suka, bahkan setelah lomba selesai pun masih ingin belajar,” kata Astin.
Dukungan Ayah dan Dapat Beasiswa yang Mengubah Jalan Hidup
Lahir dari keluarga sederhana, Astin menyadari pendidikan tinggi bukan sesuatu yang mudah dijangkau. Bahkan, saat SMA pun ia memperoleh bantuan beasiswa. Pada perjalananan berikutnya, beasiswa pula lah yang membuka jalan Astin lanjut ke jenjang perguruan tinggi. Astin diterima di Teknik Geologi ITB melalui program Bidikmisi.
“Bidikmisi benar-benar mengubah hidup saya. Dari situ saya bisa kuliah di ITB, sesuatu yang dulu rasanya jauh sekali dari jangkauan saya yang berasal dari desa. Jangankan untuk kuliah, untuk SMA pun saya dibantu dengan beasiswa,” ungkapnya.
Selama menjadi mahasiswa, Astin tidak hanya mengejar prestasi akademik. Ia aktif membantu pembinaan Olimpiade Kebumian di berbagai daerah. Bahkan, ia pernah mengajar siswa-siswa di Sumatra Utara. Kegiatan mengajar itu menjadi caranya membalas bantuan yang pernah ia terima.
“Waktu itu saya sempat mengajar sampai ke Sumatra Utara. Rasanya senang sekali bisa berbagi pengalaman dan melihat adik-adik itu semangat belajar. Itu juga cara saya berterima kasih, karena dulu saya pun dibantu banyak orang,” tuturnya.
Delapan Tahun Menimba Ilmu di Jepang
Setelah lulus dari ITB pada 2014, Astin memperoleh beasiswa Monbukagakusho atau MEXT dari Pemerintah Jepang. Ia melanjutkan studi magister dan doktor di Tohoku University, salah satu kampus unggulan ilmu kebumian di Jepang.
“Awalnya saya tidak menyangka bisa sampai ke Jepang. Waktu itu niatnya hanya ingin lanjut kuliah, dan ternyata Allah memberi jalan lewat beasiswa ini. Saya bersyukur sekali bisa belajar di tempat dengan fasilitas dan lingkungan riset yang luar biasa,” ujarnya.
Selama di Jepang, ia mendalami penelitian mengenai interaksi antara batuan dan air pada suhu serta tekanan tinggi. Penelitian ini berkaitan dengan dua bidang penting.
Pertama, energi panas bumi atau geothermal. Energi ini berasal dari panas alami yang tersimpan di dalam bumi dan menjadi salah satu sumber energi bersih.
Kedua, teknologi penyimpanan karbon atau carbon storage. Teknologi ini bertujuan menangkap karbon dioksida hasil aktivitas manusia lalu menyimpannya di bawah tanah agar tidak semakin memperparah perubahan iklim.
Sempat Tumbang Saat Pandemi
Di balik pencapaian akademiknya, Astin juga pernah mengalami masa sulit. Pandemi Covid-19 membuat aktivitas laboratorium berhenti dan penelitiannya tertunda.
“Masa Ph.D. itu salah satu masa paling berat dalam hidup saya. Saya sempat sakit karena stres psikosomatis, susah tidur, dan merasa kewalahan ketika pandemi datang dan semua kegiatan di lab dihentikan,” kenangnya.
Psikosomatis adalah kondisi ketika tekanan psikologis memunculkan keluhan fisik, seperti sakit kepala, sulit tidur, atau kelelahan, meskipun tidak ditemukan gangguan organ tertentu. Pengalaman tersebut mengubah cara pandangnya.
“Dulu saya terlalu fokus pada logika dan hasil, seperti robot. Tapi setelah berinteraksi dengan banyak orang, saya belajar untuk lebih berempati, lebih memahami perasaan orang lain,” ujarnya.
Baginya, pendidikan ternyata tidak hanya membentuk kecerdasan, tetapi juga kepekaan terhadap orang lain.
Memilih Pulang dan Membangun Riset di Indonesia
Setelah menyelesaikan studi doktor dan sempat menjadi asisten profesor di Jepang, Astin memilih pulang pada 2025. Keputusan itu bukan semata karena rindu kampung halaman.
“Saya merasa sudah waktunya pulang. Saya ingin membawa semangat riset yang terstruktur dan efisien agar mahasiswa juga bisa merasakan bagaimana penelitian itu bisa menyenangkan dan bermakna,” katanya.
Kini, ia mengajar Geologi Fisik dan Petrologi di ITB. Petrologi adalah cabang ilmu geologi yang mempelajari asal-usul dan perubahan batuan.
Ia juga meneliti produksi hidrogen alami dari batuan ultramafik Indonesia. Batuan ultramafik merupakan jenis batuan yang kaya magnesium dan besi. Interaksi batuan ini dengan air dapat menghasilkan hidrogen yang berpotensi menjadi sumber energi bersih masa depan.
Penelitian tersebut didanai melalui program Riset Kolaborasi Indonesia (RKI) EQUITY bersama Universitas Hasanuddin dan Universitas Pertamina.
Astin juga ikut mendukung pengembangan Geopark Kebumen yang telah ditetapkan sebagai UNESCO Global Geopark. Keterlibatannya mencakup penguatan edukasi geologi dan pemberdayaan masyarakat lokal.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


