Ribuan layangan dari Kabupaten Malang sedang dipersiapkan untuk sebuah kejuaraan dunia di Prancis.
Bukan layangan berbahan karbon atau produk pabrikan berteknologi tinggi. Layangan itu dibuat secara manual dari bambu dan kertas oleh tangan-tangan pengrajin lokal di Karangploso. Harganya pun hanya sekitar Rp7.000 per buah.
Meskipun harganya ribuan, layangan itulah yang dipercaya para peserta Combat Kite World Championship 2027 sebagai senjata untuk bertarung di langit Eropa.
Lucky Maulana termasuk orang yang menyiapkan pesanan itu. Ia tengah meneruskan usaha keluarga yang berdiri sejak 1960. Telah lama eksis, produk buatannya dipercaya banyak orang hingga mampu menembus panggung internasional.
Layangan Murah yang Diburu Peserta Kejuaraan Dunia
Pesanan dari luar negeri bukan hal baru bagi Lucky. Selama beberapa tahun terakhir, layangan Sukhoi produksi Ahoed DC Malang rutin dikirim ke berbagai negara, terutama Prancis, Belanda, dan Jerman.
"Yang paling sering dari Prancis dan Belanda. Mereka membeli layangan di sini untuk kejuaraan dunia. Awal tahun lalu ada pesanan 1.000 layangan Sukhoi turnamen untuk persiapan kejuaraan dunia berikutnya," kata Lucky, sebagaimana dikutip dari Kompas.com, 16 Juni 2026.
Jauh-jauh pesan ke Indonesia, para pemain layangan ini mencari spek dengan performa terbaik yang akan bertanding di Combat Kite World.
Dalam olahraga combat kite atau layangan tarik, dua atau lebih pemain berusaha memutus benang lawan melalui adu manuver di udara. Karena itu, keseimbangan, kecepatan, dan respons layangan menjadi faktor yang sangat menentukan.
Inilah keunggulan yang dimiliki layangan Sukhoi buatan Lucky.
Rahasia Ada pada Bambu yang Menunggu Berbulan-bulan
Lantas, apa yang membuat layangan Sukhoi milik Lucky berbeda?
Menurut Lucky, kualitas layangan turnamen ditentukan sejak tahap pemilihan bahan baku. Untuk menghasilkan layangan dengan performa unggul, Lucky menggunakan bambu petung dan bambu apus. Bahkan, bambu pun ada kriterianya. Bambu untuk rangka layangan harus melalui proses pengeringan alami selama enam hingga tujuh bulan.
"Kuncinya ada pada rangka. Saya hanya menggunakan bambu petung yang melalui proses pengeringan alami selama 6 sampai 7 bulan. Ini yang membuatnya jauh lebih awet dan kuat dibandingkan layangan biasa," ujar Lucky, sebagaimana yang termuat dalam Beritajatim.com.
Proses pengeringan penting untuk mengurangi kadar air di dalam bambu. Semakin sedikit kandungan air, semakin ringan dan stabil rangka layangan saat diterbangkan.
Untuk kelas turnamen, Lucky bahkan memilih bambu yang lebih tua karena dinilai memiliki kekuatan yang lebih baik. Nantinya, layangan mampu bermanuver cepat tanpa kehilangan keseimbangan saat menghadapi angin kencang.
"Untuk turnamen menggunakan bambu yang lebih tua dan benar-benar kering," kata Lucky.
Inilah yang jadi alasan mengapa banyak penghobi luar negeri memilih layangan dari Indonesia. Lucky menuturkan, negara-negara Eropa tidak memiliki ketersediaan bambu seperti di Indonesia. Kalaupun ada, harganya relatif mahal dan jumlah pengrajinnya tidak banyak. Akibatnya, biaya produksi layangan di sana jauh lebih tinggi.
Oleh karena itu, layangan Sukhoi yang diproduksi Lucky punya nilai tawar tinggi.
Mengapa Disebut Sukhoi?
Sukhoi kerap diasosiasikan dengan pesawat tempur buatan Rusia. Tidak salah. Memang Lucky sengaja menggunakan nama itu.
Menurut Lucky, para pemain layangan sejak lama menyebut model ini sebagai Sukhoi karena gerakannya di udara dianggap mirip pesawat tempur yang lincah dan agresif.
"Dulu orang-orang menyebutnya Sukhoi karena saat diterbangkan larinya seperti pesawat Sukhoi," ujarnya.
Karakter itulah yang membuat model Sukhoi menjadi salah satu favorit dalam kompetisi layangan tarik. Kecepatan saat mengejar lawan dan kemampuan berbelok secara mendadak menjadi nilai lebih yang dicari para peserta turnamen.
Usaha Layangan Berawal dari Hobi Sang Ayah
Jauh sebelum layangan Malang dikenal sampai Eropa, usaha ini bermula dari kegemaran seorang ayah bermain layangan. Ya, hobi yang menjadi inspirasi bisnis. Keluarga Lucky mulai membuat layangan sejak 1960 di Pandaan, Kabupaten Pasuruan. Saat itu, produksi dilakukan secara rumahan dan melayani kebutuhan pasar lokal.
Ketika usaha diwariskan, Lucky memilih melanjutkan sekaligus mengembangkan bisnis keluarga tersebut. Pada 1992, ia memindahkan produksi ke Singosari sebelum akhirnya berkembang di Karangploso.
Ada satu kejadian yang membuat layangan Lucky bisa tembus ke mancanegara. Saat mengikuti turnamen layangan di Bali, Lucky bertemu dengan peserta dari Belanda, Prancis, dan Hong Kong. Pertemuan itu kemudian berlanjut menjadi hubungan bisnis.
"Awalnya ketemu peserta dari Belanda, Prancis, dan Hong Kong saat kejuaraan di Bali. Dari situ komunikasi berlanjut sampai akhirnya mereka memesan layangan secara rutin," kata Lucky.
Sejak saat itu, nama Ahoed DC Malang mulai dikenal di komunitas layangan internasional.
Produksi Ratusan Layangan Setiap Hari
Saat ini Ahoed DC Malang mempekerjakan sembilan pekerja yang menangani berbagai tahapan produksi, mulai dari penyablonan, perakitan rangka hingga pengemasan. Dalam sehari, kapasitas produksinya mencapai sekitar 500 layangan.
Pasarnya juga tidak hanya berada di luar negeri. Permintaan besar datang dari berbagai daerah di Indonesia, terutama Kalimantan, Sulawesi, dan Sumatra. Bahkan, menurut Lucky, pengiriman ke Kalimantan bisa mencapai sekitar 3.000 layangan setiap dua minggu.
Untuk kelas turnamen, nilai transaksi yang diterima jauh lebih besar.
"Kalau untuk kelas turnamen, pembeli justru lebih banyak dari luar Jawa. Pernah ada pemesanan online sampai Rp30 juta sampai Rp50 juta," ujar Lucky.
Ancaman Terbesar Justru Datang dari Daratan
Meski pasar terus berkembang, Lucky melihat tantangan lain yang mulai muncul. Bukan soal persaingan atau penurunan minat masyarakat, melainkan semakin sempitnya ruang terbuka untuk bermain layangan.
Perumahan baru, kawasan industri, dan berbagai pembangunan membuat lahan kosong yang dulu menjadi arena bermain semakin berkurang.
Padahal komunitas layangan di Malang masih sangat aktif. Ribuan pemain tersebar di berbagai wilayah, mulai dari Sawojajar, Gadang, Kepuh hingga Malang Selatan. Turnamen pun masih rutin digelar hampir setiap pekan.
Karena itu, Lucky berharap tersedia area khusus yang dapat digunakan masyarakat untuk bermain layangan dengan aman.
Harapan tersebut bukan semata-mata demi menjaga bisnisnya tetap berjalan. Lebih dari itu, ia ingin tradisi yang telah diwariskan keluarganya selama puluhan tahun tetap hidup.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


