Jakarta menjadi satu-satunya kota di Indonesia yang dipilih Hyrox untuk menggelar ajangnya dengan sekitar 11.500 peserta. Tahun lalu, wilayah APAC mencatatkan 127.000 atlet yang mengikuti berbagai seri Hyrox, dan tahun ini jumlahnya sudah mencapai 112.000 atlet. Bandingkan dengan Sydney yang pada tahun ini saja mencatatkan rekor lebih dari 20.000 peserta dalam satu ajang, atau Melbourne yang digelar selama empat hari berturut-turut dengan total lebih dari 24.000 peserta.
Semua itu tidak terjadi dalam semalam. Meski Hyrox terbilang olahraga yang masih relatif baru, perkembangannya sudah terjadi sejak bertahun-tahun yang lalu. Bermula dari Jerman, Hyrox terus tumbuh hingga akhirnya mencapai Indonesia yang masyarakatnya kini mulai banyaj yang menggandrunginya,
Awal Mula Kemunculan Hyrox
Hyrox lahir di Jerman pada 2017, hasil gagasan Christian Toetzke bersama peraih medali emas Olimpiade sekaligus juara dunia hoki lapangan, Moritz Fürste, dan pakar pemasaran Michael Trautmann. William Petty selaku Hyrox Regional Events Manager Asia Tenggara, menjelaskan bahwa konsep ini awalnya sangat sederhana dan diikuti kurang dari seribu atlet.
"Semua dimulai pada 2017 di Jerman, dengan kurang dari seribu atlet, sebuah konsep kecil tentang bagaimana mengubah aktivitas yang biasa dilakukan di gym menjadi sebuah ajang untuk semua orang," ujarnya.

Dalam kurun waktu sembilan tahun, Hyrox kini mendekati ulang tahun kesepuluhnya dengan pencapaian luar biasa, yakni satu juta atlet yang mengikuti ajang ini secara global hanya dalam satu tahun terakhir. Sejak diluncurkan, pertumbuhan jumlah peserta tercatat eksponensial, dengan lebih dari 90.000 atlet pada musim 2022/2023 saja.
Setelah mencatatkan pertumbuhan pesat di Eropa dan Amerika Serikat, Hyrox mulai melebarkan sayap ke kawasan Asia Pasifik. Petty mengungkapkan bahwa perjalanan Hyrox di APAC dimulai pada 2022 di Hong Kong, juga dengan peserta kurang dari seribu orang, bertepatan dengan masa pandemi COVID-19.
"Kami memulai perjalanan pertama kami di tahun 2022 di Hong Kong, dengan kurang dari seribu atlet, di masa-masa COVID itu," katanya. Sejak itu, jumlah atlet di kawasan ini berlipat ganda setiap tahun. Pertumbuhan ini sejalan dengan ekspansi global Hyrox, diperkirakan akan diikuti lebih dari 650.000 atlet di hampir 100 ajang sepanjang tahun ini, dengan proyeksi internal menyebut angka itu bisa melampaui 1,3 juta peserta pada 2026.
Sebelum hadir di Indonesia, Hyrox telah lebih dulu menggelar ajangnya di berbagai negara Asia, termasuk Hong Kong sebagai titik awal di kawasan APAC. Di Asia Tenggara, Hyrox juga telah menjangkau sejumlah negara tetangga sebelum akhirnya tiba di Indonesia.
Pola ekspansi ini konsisten dengan strategi Hyrox yang lebih dulu menyasar pasar-pasar dengan budaya kebugaran dan komunitas lari yang sudah mapan, sebelum memperluas jangkauan ke pasar baru. Pendekatan serupa terlihat di Australia yang sudah memiliki "bahan baku" yang tepat untuk membuat ajang ini sukses, yakni partisipasi gym yang tinggi serta budaya lari yang kuat.
Berbeda dengan negara lain yang sudah memiliki banyak titik penyelenggaraan, Hyrox di Indonesia memilih untuk hanya berfokus pada Jakarta dan belum melirik kota-kota lain. Petty menjelaskan alasan di balik keputusan ini terkait dengan strategi penyelenggaraan ajang yang memprioritaskan kota-kota utama agar mendukung keterhubungan antar-acara di seluruh kawasan APAC.
"Jika kita mulai meluncurkan kota-kota baru di Indonesia, kita akan memiliki terlalu banyak masalah terhadap memindahkan peralatan serta memastikan kita mempertahankan kualitasnya," ujarnya.
Karena itu, Hyrox memilih mempertahankan fokus pada Jakarta dengan tujuan mengembangkan kapasitas kota tersebut hingga mencapai potensi maksimalnya, alih-alih menyebarkan penyelenggaraan ke berbagai kota yang berisiko mengorbankan kualitas acara.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


