petani padang pariaman akali cuaca ekstrem lewat pola tanam berlapis bagaimana caranya - News | Good News From Indonesia 2026

Petani Padang Pariaman Akali Cuaca Ekstrem Lewat Pola Tanam Berlapis, Bagaimana Caranya?

Petani Padang Pariaman Akali Cuaca Ekstrem Lewat Pola Tanam Berlapis, Bagaimana Caranya?
images info

Ludhita Dwi A / Shutterstock.com


Ancaman perubahan iklim yang memicu rentetan bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di wilayah Sumatera Barat mendorong sektor akademis untuk mencari formula mitigasi yang aplikatif. Salah satu langkah yang ditempuh adalah menggali kembali sistem pertanian tradisional Minangkabau yang dikenal dengan nama parak untuk diselaraskan dengan konsep pertanian cerdas iklim.

Peneliti dari Fakultas Pertanian Universitas Andalas (UNAND), Yulinda, menjelaskan bahwa model tata guna lahan tradisional ini memiliki modalitas besar dalam memperkuat ketahanan lingkungan.

Uji coba penerapan hasil kajian ini dilakukan secara riil melalui pengembangan sistem agroforestri di Hutan Nagari Salibutan, Kecamatan Lubuk Alung, Kabupaten Padang Pariaman.

Kawasan Hutan Nagari Salibutan dipilih karena posisinya yang strategis sebagai daerah tangkapan air sekaligus penyangga lingkungan di sepanjang daerah aliran Sungai Batang Anai yang menopang kehidupan warga di wilayah hilir.

Melalui kerja sama dengan Lembaga Pengelola Hutan Nagari (LPHN) serta Kelompok Usaha Perhutanan Sosial (KUPS), pola budi daya di kawasan tersebut diarahkan pada metode tanam berlapis guna mencegah degradasi lahan akibat perubahan pola curah hujan dan kenaikan suhu.

 

Mekanisme Pola Tanam Berlapis di Lantai Hutan

Dalam implementasi praktis di lapangan, vegetasi hutan diatur sedemikian rupa agar fungsi ekologis dan ekonomisnya berjalan beriringan.

Tanaman pohon keras berumur panjang seperti asam kandis, durian, manggis, petai, dan pinang diposisikan sebagai pelindung utama di lapisan atas yang berfungsi menahan laju erosi tanah sekaligus bertugas sebagai penyerap karbon.

Tepat di bawah naungan pohon-pohon besar tersebut, masyarakat menanam komoditas pertanian lapis kedua berupa tanaman kakao.

Sementara itu, ruang kosong di area lantai hutan tidak dibiarkan menganggur, melainkan dioptimalkan untuk budi daya tanaman rempah yang tangguh di bawah naungan, seperti jahe, kunyit, dan serai.

Kombinasi jenis tanaman ini membuat struktur akar di dalam tanah menjadi lebih rapat dan kuat dalam mengikat air, sementara permukaan tanah tetap terlindungi dari hantaman langsung air hujan deras.

Model berlapis ini secara mekanis menurunkan risiko longsor di kawasan hulu tanpa harus mengusir masyarakat dari area kelola hutan.

 

Peluang Ekonomi Baru Melalui Pasar Karbon Komunitas

Data hasil kajian tim peneliti menunjukkan bahwa pemanfaatan ekosistem parak yang dimodifikasi ini berhasil memenuhi tiga target utama dalam manajemen pertanian berkelanjutan.

Model ini terbukti mampu menaikkan produktivitas lahan, memperkuat proteksi kawasan dari dampak cuaca ekstrem, sekaligus menekan volume pelepasan emisi gas rumah kaca.

Dari sisi finansial, skema diversifikasi tanaman dari strata atas hingga lantai hutan terbukti mampu mengamankan rantai pendapatan petani. Warga tidak lagi bergantung pada satu jenis komoditas musiman yang rawan gagal panen akibat pergeseran musim yang tidak menentu.

Selain hasil panen harian berupa rempah dan buah, lumbung vegetasi yang terdata dengan baik ini juga membuka peluang masuknya insentif finansial baru melalui mekanisme perdagangan karbon berbasis masyarakat.

Pengembangan pasar karbon lokal ini kini mulai dilirik oleh jaringan global sebagai salah satu solusi untuk memberikan kompensasi ekonomi langsung bagi komunitas adat yang konsisten menjaga kelestarian hutan penangkap air.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.