cendrawasih papua di balik lahirnya organisasi konservasi terbesar di dunia - News | Good News From Indonesia 2026

Cendrawasih Papua di Balik Lahirnya Organisasi Konservasi Terbesar di Dunia

Cendrawasih Papua di Balik Lahirnya Organisasi Konservasi Terbesar di Dunia
images info

Burung Cendrawasih | Foto: Tim Laman


Tidak ada yang menduga bahwa obsesi kaum aristokrat Eropa terhadap burung dari hutan-hutan di Papua akan berbalik menjadi kekuatan yang mengubah sejarah konservasi dunia. Namun itulah yang terjadi, ketika kegilaan tren mode terhadap bulu cendrawasih justru melahirkan gerakan perlindungan satwa yang hingga kini masih berdiri kokoh.

Pada paruh kedua abad ke-19, topi berbulu adalah simbol status tertinggi di kalangan perempuan kelas atas London, Paris, dan Amsterdam. Semakin rumit hiasannya, semakin tinggi prestise pemakainya. Dan tidak ada bulu yang lebih bergengsi dari bulu cendrawasih Papua, dengan gradasi warna keemasan dan lekukan plum yang tidak tertandingi oleh satwa manapun di bumi.

Permintaan yang terus membesar mendorong perdagangan lintas benua yang masif. Antara tahun 1905 hingga 1920, diperkirakan 30.000 hingga 80.000 kulit burung cendrawasih diekspor setiap tahun dari New Guinea menuju lelang bulu di London, Paris, dan Amsterdam. Satu dealer bulu di London pernah memasukkan pesanan tunggal sebanyak 6.000 kulit cendrawasih dalam sekali transaksi. Burung-burung itu diburu terutama saat musim kawin, ketika bulu jantan berada di puncak keindahannya.

Topi yang menggunakan burung sebagai aksesorisnya | Gambar Museum Victoria
info gambar

Topi yang menggunakan burung sebagai aksesorisnya | Gambar Museum Victoria


Papua, dengan hutan hujannya yang luas dan keanekaragaman hayati yang tidak tertandingi, menjadi sasaran utama perburuan. Dari pulau inilah, keindahan alam yang selama jutaan tahun berkembang dalam isolasi tiba-tiba harus berhadapan dengan hasrat konsumsi dunia modern.

Kemarahan yang Melahirkan Gerakan

Di Manchester, Inggris, seorang perempuan bernama Emily Williamson tidak bisa lagi diam menyaksikan apa yang terjadi. Pada tahun 1889, ia mengundang sekelompok perempuan ke rumahnya di Didsbury untuk menandatangani satu janji sederhana: "Wear No Feathers." Dari pertemuan itu lahirlah Society for the Protection of Birds, sebuah organisasi yang kelak mendapat gelar Royal dari mahkota Inggris dan menjadi RSPB, atau Royal Society for the Protection of Birds.

GambarL Museum Victoria
info gambar

GambarL Museum Victoria


Williamson marah bukan hanya karena burung-burung itu mati. Ia marah karena tidak ada satu pun lembaga ilmiah yang bergerak. British Ornithologists Union, organisasi ornitologi terkemuka saat itu, hanya menerima anggota laki-laki dan memilih bungkam. Maka para perempuan itu bertindak sendiri.

Kelompok Williamson kemudian bergabung dengan gerakan serupa yang diinisiasi Eliza Phillips dari Croydon. Bersama Etta Lemon, yang dikenal sebagai "The Dragon" karena kegigihan kampanyenya, mereka membangun gerakan yang terus membesar. Pada 1904 organisasi ini mendapat Royal Charter. Pada 1921, perjuangan mereka membuahkan hasil pertama yang nyata: Importation of Plumage (Prohibition) Act disahkan, melarang impor bulu burung ke Inggris untuk keperluan fashion.

Warisan yang Melampaui Zaman

Yang membuat kisah ini luar biasa bukan hanya keberhasilannya, melainkan asal-usulnya. RSPB kini adalah organisasi konservasi alam terbesar di Eropa, dengan lebih dari satu juta anggota. Organisasi ini lahir bukan dari kepentingan ilmiah, bukan dari kebijakan pemerintah, melainkan dari kemarahan sekelompok perempuan Victorian terhadap industri mode yang memangsa keindahan alam Papua.

RSPB
info gambar

RSPB


Burung cendrawasih sendiri, yang hampir punah akibat perburuan massal itu, kini menjadi simbol nasional Papua Nugini. Spesies Raggiana bird of paradise menghiasi bendera negara tersebut, sebuah pembalikan nasib yang dramatis dari komoditas fashion menjadi lambang identitas bangsa.

Di sisi Indonesia, burung cendrawasih dilindungi penuh sejak 1990. Namun tekanan terhadap habitatnya terus berlanjut, kali ini bukan dari perburuan bulu, melainkan dari deforestasi dan alih fungsi lahan.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Akhyari Hananto lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Akhyari Hananto.

AH
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.