profesor ipb ucapkan terima kasih ke tiga kucingnya di sidang guru besar sains jelaskan mengapa hewan peliharaan bisa dianggap keluarga - News | Good News From Indonesia 2026

Profesor IPB Ucapkan Terima Kasih ke Tiga Kucingnya di Sidang Guru Besar, Sains Jelaskan Mengapa Hewan Peliharaan Bisa Dianggap Keluarga

Profesor IPB Ucapkan Terima Kasih ke Tiga Kucingnya di Sidang Guru Besar, Sains Jelaskan Mengapa Hewan Peliharaan Bisa Dianggap Keluarga
images info

Ucapan terima kasih Prof. Epi kepada kucing-kucingnya


Bagi para mahasiswa, tak perlu malu mencantumkan siapa pun atau apa pun yang ingin disyukuri di lembar ucapan terima kasih tugas akhir. Toh, seorang profesor dari IPB University bahkan menyebut tiga kucing peliharaannya saat orasi ilmiah.

Ya, di salah satu slide Sidang Terbuka Orasi Ilmiah Guru Besar IPB University pada 24 Mei 2025 lalu, tercantum nama tiga ekor kucing: Gundut, Bombom, dan Ginger.

Slide itu sontak menarik perhatian warganet dan membuat nama Prof. Dr. Epi Taufik, S.Pt., M.V.P.H., M.Si., Guru Besar Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan IPB University, ramai diperbincangkan.

“Khusus untuk Ginger, Gendut, dan Bombom. Tiga kucing yang pernah dan menemani kami di rumah. Terima kasih kalian sering menjadi salah satu sarana saya melepas kepenatan,” katanya.

baca juga

Kenapa Momen Ini Begitu Relate?

Reaksi warganet menarik untuk dicermati. Perasaan yang diungkapkan oleh Epi rupanya juga dialami oleh banyak orang. Sebab, bagi sebagian orang, hewan peliharaan, terkhusus kucing atau anjing telah dianggap sebagai bagian dari keluarga.

Presiden Prabowo Subianto misalnya, beberapa kali memperlihatkan kedekatannya dengan kucing peliharaan bernama Bobby Kertanegara. Kucing yang diadopsinya sejak masih kecil itu bahkan telah memiliki jutaan pengikut di media sosial dan kerap mencuri perhatian dalam berbagai kesempatan resmi maupun santai.

Popularitas Bobby menunjukkan bahwa ikatan emosional antara manusia dan hewan peliharaan bukan sesuatu yang asing di mata masyarakat.

Pandangan tersebut ternyata bukan sekadar perasaan subjektif. Dalam dunia psikologi dan kedokteran hewan, hubungan emosional antara manusia dan hewan dikenal sebagai human-animal bond.

Konsep yang telah diteliti selama puluhan tahun ini menjelaskan bagaimana interaksi dengan hewan dapat memberi rasa nyaman, membantu meredakan stres, serta mendukung kesehatan mental pemiliknya.

Karena itu, bagi banyak orang, menyebut nama hewan peliharaan dalam ucapan terima kasih bukanlah sesuatu yang berlebihan. Sama seperti keluarga atau sahabat, mereka pun dianggap ikut menemani perjalanan panjang, meski tanpa pernah mengucapkan sepatah kata pun.

baca juga

Apa Itu Human-Animal Bond?

Menurut definisi American Veterinary Medical Association (AVMA) yang dikutip dalam jurnal Comprehensive Psychoneuroendocrinology (2021), human-animal bond adalah hubungan yang saling menguntungkan dan dinamis antara manusia dan hewan, dipengaruhi oleh perilaku yang penting bagi kesehatan dan kesejahteraan keduanya.

Sederhananya, ikatan ini dua arah. Bukan cuma manusia yang diuntungkan karena dapat teman dan hiburan, hewan peliharaan juga mendapat manfaat berupa rasa aman, perawatan, dan kasih sayang.

Riset yang ditulis Jennifer W. Applebaum dari University of Florida bersama timnya ini juga mencatat data menarik. Di Amerika Serikat, sekitar 60% orang tinggal bersama hewan peliharaan, dan mayoritas dari mereka menganggap peliharaannya sebagai anggota keluarga. Anjing dan kucing jadi hewan paling umum dipelihara, masing-masing ditemukan di sekitar 46% dan 25% rumah tangga di AS.

Sementara itu, hasil dari survei Rakuten Insight Global Pet Ownership Survey 2024–2026 menunjukkan sekitar 47% rumah tangga di Indonesia memelihara kucing. Angka itu menempatkan Indonesia di posisi ketiga dunia sebagai negara dengan pemilik kucing terbanyak di dunia, di bawah Rusia dan Rumania.

Dalam satu dekade terakhir, hubungan masyarakat Indonesia dengan anabul memang mengalami perubahan. Kucing tidak lagi dipelihara sekadar untuk menangkap tikus atau menjaga rumah, melainkan semakin diperlakukan sebagai bagian dari keluarga. Fenomena yang dikenal sebagai pet humanization ini ikut didorong oleh pertumbuhan kelas menengah, menjamurnya komunitas pecinta kucing, hingga konten-konten kucing yang viral di media sosial.

Studi dalam jurnal Comprehensive Psychoneuroendocrinology menyebut bahwa hubungan emosional orang dewasa dengan peliharaannya sering kali menyerupai hubungan orang tua dengan anak. Sementara bagi anak-anak, hewan peliharaan kerap berperan layaknya saudara kandung.

baca juga

Lebih dari Sekadar Penghuni Rumah: Kenalan dengan Konsep Modal Hewan

Ada satu konsep lain yang relevan untuk memahami fenomena ini, yaitu animal capital atau modal hewan. Konsep ini diperkenalkan Cédric Sueur, Éric Fourneret, dan Romain Espinosa dalam jurnal npj Sustainable Agriculture (2024).

Mereka membagi kontribusi hewan bagi manusia ke dalam empat dimensi: material, alam, sosial, dan budaya. Yang paling relevan dengan kisah Gundut, Bombom, dan Ginger adalah dimensi sosial.

Jurnal tersebut menjelaskan, hewan peliharaan meningkatkan interaksi manusia dengan mendorong aktivitas fisik, memperluas jaringan sosial, dan menambah kesejahteraan emosional. Bahkan disebutkan, kehadiran hewan peliharaan berpotensi mengurangi ketergantungan pada obat-obatan dan menekan dampak buruk terhadap lingkungan.

Studi ini juga menegaskan bahwa memberi tempat tinggal, makanan, dan perawatan kesehatan bagi hewan peliharaan menciptakan hubungan saling menguntungkan, di mana manusia dan hewan sama-sama mendapat manfaat fisik dan emosional dari ikatan sosial tersebut.

Artinya, ucapan terima kasih Prof. Epi bukan cuma soal sentimentalitas. Itu pengakuan terhadap kontribusi nyata yang selama ini dipelajari serius oleh ilmu pengetahuan.

baca juga

Dari Peliharaan Jadi Keluarga

Dalam kajian sosiologi keluarga, ada istilah more-than-human family alias keluarga yang melampaui batas spesies manusia. Konsep ini menjelaskan pergeseran cara pandang masyarakat modern, dari menganggap hewan sebagai aset atau properti, menjadi anggota keluarga yang punya peran emosional nyata.

Riset Applebaum dan tim turut menyoroti bahwa ikatan dengan hewan peliharaan bisa menjadi sumber dukungan saat seseorang menghadapi tekanan hidup, termasuk stres kronis. Kehadiran hewan peliharaan dipercaya membantu seseorang menilai ulang situasi yang menekan menjadi terasa lebih ringan, sehingga membantu meredam respons stres tubuh.

Ini sejalan dengan apa yang mungkin dialami banyak akademisi. Jalan menuju gelar guru besar bukan jalan singkat. Kehadiran hewan peliharaan di rumah bisa jadi titik tenang yang konsisten, di samping peran dari sosok keluarga.

baca juga

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.