“Dulu di awal-awal memang banyak yang mencibir, sekolah tinggi-tinggi tapi kerjaannya hanya gunting-gunting dan tempel koran. Berbagai penghargaan ini membuka mata mereka bahwa apa yang saya lakukan selama ini tidak sia-sia,” kata Jamaluddin.
Tahun ini, Jamaluddin Daeng Abu dinobatkan sebagai penerima Kalpataru 2026. Jelas, ia mengaku sempat tidak percaya. Apalagi, apa yang ia usahakan selama ini kerap diremehkan.
Upayanya membangun budaya literasi di kampungnya, Desa Kanreapia, Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan hanya bermula dari sebuah kandang bebek tua berukuran sekitar 4x5 meter yang ditempeli koran bekas.
Kini, perjuangan yang ia bangun selama lebih dari satu dekade mengantarkannya meraih Kalpataru Adya 2026 kategori Perintis Lingkungan.
"Pertama tidak percaya apa yang kita lakukan selama ini bisa sampai tahap Kalpataru. Ini penghargaan tertinggi dari negara di bidang lingkungan hidup, jadi tentu kami sangat bangga dan bersyukur," ujar Jamaluddin.
Penghargaan tersebut diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Badan Pengendalian Lingkungan Hidup RI pada 11 Juni 2026. Jamaluddin dinilai konsisten melakukan rehabilitasi lahan kritis melalui penanaman pohon dan konservasi tanah secara berkelanjutan di wilayahnya.
Apa yang dilakukan Jamaluddin sebenarnya lebih dari tanam-menanam. Yang ia kembangkan adalah tentang bagaimana cara ia mampu memadukan antara literasi, pendidikan, pertanian, dan lingkungan agar bisa saling terhubung.
Pulang Kampung Setelah S2, Lalu Dicibir Warga
Desa Kanreapia berada di kaki Gunung Bawakaraeng. Wilayah dataran tinggi ini dikenal sebagai salah satu sentra sayuran terbesar di Sulawesi Selatan. Di sana lah Jamaluddin lahir dan tumbuh.
Secara ekonomi, banyak keluarga petani di kawasan itu yang dinilai memiliki taraf hidup cukup baik. Sayur-mayur dari kawasan ini memasok berbagai pasar di Sulawesi Selatan. Produksi kawasan dataran tinggi Gowa bahkan diperkirakan mencapai 20 hingga 30 ton sayuran per hari menurut keterangan Jamaluddin kepada Mongabay 2020 lalu.
Akan tetapi, di balik kesuburan tanahnya, masih banyak warga yang putus sekolah. Sebagian orang tua menganggap pendidikan tidak terlalu penting karena bertani sudah mampu menghasilkan uang. Pernikahan dini juga masih menjadi persoalan.
Jamaluddin memahami masalah itu karena pernah merasakannya sendiri. Ia pernah mengalami putus sekolah sebelum akhirnya berhasil melanjutkan pendidikan hingga meraih gelar sarjana di Universitas Bosowa dan magister di Universitas Muslim Indonesia.
Setelah lulus S2 pada 2014, ia mengambil keputusan yang dianggap aneh oleh sebagian orang. Bukannya mencari pekerjaan yang prestisius di kota, ia malah pulang ke kampung.
"Saat saya pulang ke Desa Kanreapia banyak yang mengatakan untuk apa seorang kuliah sampai magister tapi pulang ke kampung halaman," kenangnya, sebagaimana dikutip dari RRI.
Kandang Bebek yang Menjadi Sekolah Kehidupan
Sesampainya di kampung, Jamaluddin langsung menyulap kandang bebek milik keluarganya menjadi rumah baca sederhana. Meski rumah baca, tidak ada buku di sana. Jamaluddin menggerakkan kegiatan membaca dengan menempel potongan koran di dinding-dindingnya.
Menurut Jamaluddin, banyak warga merasa buku terlalu berat untuk dibaca. Sebaliknya, koran yang berisi berita singkat dan gambar lebih mudah menarik perhatian.
Strateginya terbukti. Banyak warga yang awalnya hanya melihat-lihat tempelan koran. Lama-kelamaan mereka mulai membaca. Dari situlah lahir "Rumah Koran". Rumah sederhana tersebut berkembang menjadi pusat pembelajaran bagi anak-anak, pemuda, hingga petani dewasa.
Mereka belajar membaca, berhitung, berdiskusi, mengenal informasi pertanian terbaru, belajar Bahasa Inggris, Bahasa Arab, hingga memahami pentingnya pendidikan. Jamaluddin menyebut gerakan ini sebagai Gerakan Cerdas Anak Petani.
Menariknya, peserta didiknya tidak hanya anak-anak. Ia sengaja melibatkan orang tua dan pemuda karena perubahan pola pikir harus terjadi di seluruh lapisan masyarakat.
"Kalau cuma anak petani yang kami dampingi, bisa saja terhambat dari orang tuanya. Kita memberikan penyadaran kepada orang tua pentingnya pendidikan," ujarnya kepada Mongabay.
Mengajari Petani Membaca Dosis Pestisida
Nah, apa yang disampaikan Jamaluddin kepada anak dan orang tua jelas ada bedanya. Kepada para orang tua yang notabene petani, Jamaluddin memberikan pengetahuan tentang penggunaan pestisida.
Menurut Jamaluddin, petani yang tidak mampu membaca dengan baik berisiko salah memahami petunjuk penggunaan pupuk maupun pestisida. Akibatnya, penggunaan bahan kimia sering berlebihan.
Masalah ini tidak hanya merugikan petani secara ekonomi, tetapi juga berdampak pada kesehatan tanah dan lingkungan.
Jamaluddin mulai mengajak petani beralih menuju praktik pertanian yang lebih ramah lingkungan, termasuk penggunaan pupuk organik dan pengurangan ketergantungan terhadap bahan kimia sintetis.
Pendekatan ini membantu menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang sekaligus mengurangi pencemaran lingkungan.
Dari Literasi Menjadi Gerakan Konservasi
Perubahan pola pikir yang dibangun melalui Rumah Koran perlahan melahirkan gerakan yang lebih luas. Jamaluddin bersama masyarakat mulai melakukan rehabilitasi lahan, menjaga sumber air, menanam pohon, dan mengembangkan pertanian berkelanjutan.
Saat banyak daerah menghadapi ancaman kekeringan akibat perubahan iklim, masyarakat Kanreapia membangun sekitar 100 embung pertanian.
Embung adalah kolam atau tampungan air yang berfungsi menyimpan air hujan maupun mata air untuk digunakan saat musim kemarau. Keberadaan embung membuat aktivitas pertanian tetap berjalan ketika pasokan air menurun.
Bahkan, pada masa pandemi Covid-19, hasil panen yang tetap melimpah memungkinkan masyarakat menjalankan program sedekah sayur.
Menurut berbagai laporan kegiatan Kampung Berseri Astra Kanreapia, ratusan ton sayuran didistribusikan kepada panti asuhan, pesantren, dan masyarakat yang membutuhkan. Program tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan dan kepedulian sosial dapat berjalan beriringan.
Dari SATU Indonesia Awards hingga COP28 Dubai
Perjalanan Jamaluddin mendapat pengakuan nasional lebih dulu sebelum meraih Kalpataru.
Pada 2017, ia menerima penghargaan Semangat Astra Terpadu Untuk (SATU) Indonesia Awards kategori pendidikan berkat gerakan Rumah Koran.
Penghargaan itu menjadi titik balik. Masyarakat yang sebelumnya mencibir mulai melihat dampak nyata dari gerakan tersebut. Desa Kanreapia kemudian berkembang menjadi Kampung Berseri Astra (KBA) dan memperoleh berbagai penghargaan lingkungan, termasuk Program Kampung Iklim (ProKlim).
Nama Jamaluddin bahkan menembus forum internasional.
Pada 2023, ia menjadi salah satu perwakilan Indonesia dalam Konferensi Perubahan Iklim PBB COP28 di Dubai, Uni Emirat Arab.
Di hadapan peserta dari berbagai negara, ia memaparkan pengalaman masyarakat Kanreapia dalam meningkatkan literasi lingkungan, adaptasi perubahan iklim, dan pemberdayaan petani.
Kini, Jamaluddin tidak berpuas diri. Ia masih terus mengembangkan Rumah Koran dan berbagai program lingkungan di Kanreapia.
Jamaluddin Kini Bergelar Doktor
Perjalanan Jamaluddin tidak berhenti di Rumah Koran. Pada 19 Januari 2026, ia resmi meraih gelar doktor dari Pascasarjana UIN Alauddin Makassar. Ia mempertahankan disertasi berjudul Praktik "Attesang" dalam Membangun Ekonomi Petani dan Pemilik Modal Berbasis Al-Adl di Kabupaten Gowa dan lulus dengan predikat cumlaude.
Dalam penelitiannya, Jamaluddin mengkaji praktik "Attesang", tradisi kerja sama antara petani penggarap dan pemilik modal yang telah berlangsung turun-temurun di Gowa. Ia menemukan bahwa posisi petani sering kali belum sepenuhnya setara karena keputusan pemasaran hasil panen masih didominasi pemilik modal.
Karena itu, Jamaluddin menawarkan penguatan prinsip Al-Adl atau keadilan dalam pelaksanaan Attesang. Prinsip ini menekankan kesetaraan hak, keterbukaan informasi, transparansi pengambilan keputusan, dan pembagian hasil yang lebih adil bagi semua pihak.
Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa ketika prinsip-prinsip tersebut diterapkan, kerja sama pertanian tidak hanya meningkatkan pendapatan petani dan pemilik modal, tetapi juga mampu menciptakan lapangan kerja baru di sektor pertanian.
Dengan semakin banyaknya kemitraan yang sehat, peluang kerja bagi masyarakat pedesaan ikut bertambah sehingga berpotensi menekan angka pengangguran.
Jamaluddin berhasil menyelesaikan studi doktoralnya dalam waktu 2 tahun 10 bulan 18 hari dengan nilai ujian promosi 4,0 dan predikat cumlaude.
Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News


