keluarga gerilya pengorbanan di tengah revolusi - News | Good News From Indonesia 2026

Keluarga Gerilya, Pengorbanan di Tengah Revolusi

Keluarga Gerilya, Pengorbanan di Tengah Revolusi
images info

Keluarga Gerilya, Pengorbanan di Tengah Revolusi


Novel Keluarga Gerilya karya Pramoedya Ananta Toer pertama kali diterbitkan pada tahun 1950, tak lama setelah ia dibebaskan dari penjara Bukit Duri. Lima tahun kemudian, pada 1955, novel ini diterbitkan kembali oleh Penerbit Pembangunan Jakarta. Karya ini ditulis Pram pada tahun 1949, saat ia masih mendekam di penjara akibat ditahan oleh Tentara Belanda. Buku ini memiliki tebal 239 halaman dan terbagi ke dalam 13 bab.

Tokoh utama dalam novel ini adalah Amilah, seorang perempuan berusia 41 tahun yang merupakan ibu dari tujuh anak. Ia dikenal di lingkungan sekitarnya dengan julukan “Jahanam Buaya Tangsi” yang diberikan oleh para tetangganya. Amilah dikaruniai tujuh orang anak, yaitu Saaman (Aman), Canimin (Mimin), Kartiman (Maman), Salamah (Amah), Fatimah (Imah), Salami (Mimi), dan Hasan.

Dalam novel ini, diceritakan bahwa Kartiman bergabung sebagai prajurit gerilya, sedangkan Canimin bertugas sebagai kopral gerilya. Sementara itu, Saaman, atau yang akrab disapa Aman, merupakan anak kesayangan Amilah. Berbeda dengan kedua saudaranya, Aman memilih tetap berada di rumah untuk menjaga dan menafkahi keluarganya dengan bekerja sebagai tukang becak. Namun, nasib tragis menimpanya. Ia ditangkap dan dijatuhi hukuman mati oleh Polisi Militer Belanda karena dituduh sebagai pemimpin gerakan bawah tanah.

baca juga

Suami Amilah, Kopral Paidjan, telah pergi meninggalkannya. Namun, Amilah tidak mengetahui bahwa suaminya sebenarnya telah tewas dibunuh oleh tiga anak tertuanya. Mereka terpaksa melakukan hal tersebut demi membela tanah air dan sekaligus menyelamatkan sang ayah dari ancaman pembunuhan dengan bambu runcing akibat memihak Belanda.

Sejak Aman ditangkap, kondisi keluarganya semakin terpuruk. Jika sebelumnya mereka hidup dalam keterbatasan, kini mereka nyaris tak memiliki makanan sama sekali. Aman meninggalkan adik-adiknya yang masih membutuhkan perhatian dan nafkah, kecuali Maman dan Mimin yang telah bergabung dengan pasukan gerilya. Keempat adik lainnya—Amah, Imah, Mimi, dan Hasan—terpaksa berhenti sekolah karena tidak ada lagi yang mampu membiayai pendidikan mereka.

Pram dalam kata pengantarnya menuliskan bahwa kejadian-kejadian di sekitar revolusi nasional yang terserak-serak, dengan benang perangkai dari khayal, itulah yang melahirkan cerita Keluarga Gerilya. Ia mempertanyakan berapa banyak keluarga yang hancur akibat peperangan, baik peperangan apapun maupun peperangan yang disebabkan oleh revolusi nasional.

Ia juga mengungkapkan keprihatinannya tentang ratusan ribu hingga jutaan orang yang mati dan menyeret keluarganya ke dalam kehancuran serta penderitaan. Selain itu, ia menegaskan bahwa begitu banyak keluarga yang hancur, separuh atau seluruhnya, hingga tak terhitung jumlahnya.

“Dan keluarga Amilah atau keluarga Saaman adalah sekelumit dari beratus ribu keluarga-keluarga yang tersesat ke dalam kehancuran dan penderitaan itu. Fragmen-fragmen yang mendahului penerbitan buku ini, yakni: Fajar Merah, Mencari anak Hilang, dengan penerbitan buku ini mendapat beberapa perubahan,” imbuh Pram.

H.B. Jassin dalam bukunya Kesusastraan Indonesia Modern dalam Kritik dan Esei II (1985) menyatakan bahwa novel Keluarga Gerilya dapat dikatakan sebagai salah satu puncak kesusastraan Indonesia di antara hasil-hasil karya sastra yang terbit pada masa itu. Ia mengungkapkan bahwa sampai tahun 1950, dalam dunia sastra Indonesia belum terlihat kelahiran novel revolusi yang memenuhi syarat revolusi baik dalam bentuk maupun isi, meskipun hal tersebut sudah lebih dulu dimulai dalam cerpen dan sajak.

Menurutnya, barulah pada tahun 1950 dan 1951, Pramoedya berhasil menghadirkan dua novel, yakni Perburuan dan Keluarga Gerilya, yang memenuhi syarat seperti yang selama ini hanya dijumpai dalam cerpen, terutama dalam hal penggunaan dan pemilihan kata yang memiliki dunianya sendiri. Jassin juga menambahkan bahwa hal yang tidak ditemukan oleh Idrus (Sastrawan Abdullah Idrus) sebagai perintis prosa Indonesia baru, dapat dijumpai dalam novel revolusi Keluarga Gerilya, yakni makna dan isi revolusi yang ditampilkan tanpa patos yang palsu, melainkan dengan segala kesederhanaannya.

baca juga

Hal senada juga diungkapkan oleh A. Teeuw dalam bukunya Sastra Baru Indonesia (1978). Ia menyatakan bahwa Keluarga Gerilya merupakan karya yang paling mengharukan dan memiliki jangkauan yang luas. Ia menjelaskan bahwa sebenarnya novel tersebut juga dimanfaatkan untuk menumbuhkan semangat patriotik dan humanisme. Teeuw menyebutkan bahwa Keluarga Gerilya dapat dianggap sebagai sekuel dari Perburuan dan cerita itu dituliskan untuk memperingati seorang tentara bernama Wahab yang ditemui Pramoedya pada masa perang revolusi.

Kendari demikian novel ini tidak luput dari kritik. Koh Young Hun dalam bukunya Pramoedya Menggugat: Melacak Jejak Indonesia (2018) menyampaikan bahwa meskipun demikian, sebagian pengamat sastra berpendapat bahwa citra Saaman dalam novel Keluarga Gerilya dianggap terlalu kejam. Ia menjelaskan bahwa tindakan membunuh ayah sendiri sulit diterima sebagai bagian dari hakikat kehidupan masyarakat mana pun. Menurutnya, persoalan utamanya adalah bahwa menafikan ayah dapat diartikan sebagai menafikan asal-usul diri sendiri, terutama dalam masyarakat Timur yang sangat menjunjung tinggi penghargaan dan kesetiaan kepada orang tua.

Koh Young Hun menambahkan bahwa tanggapan yang tidak sesuai dengan hakikat kehidupan manusia seperti itu sulit diterima, terlebih lagi karena dalam novel Keluarga Gerilya, pembunuhan terhadap ayah sendiri seolah-olah dianggap wajar dalam situasi revolusi. Ia juga berpendapat bahwa sikap seperti ini seakan-akan mendorong pandangan dalam masyarakat yang sudah merdeka bahwa jiwa manusia tidak lagi dianggap penting atau berharga.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

MZ
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.