modal nekat dan sisa tabungan akhmad wafi kini jadi lulusan terbaik dan sarjana pertama di keluarganya - News | Good News From Indonesia 2026

Modal Nekat dan Sisa Tabungan, Akhmad Wafi Kini Jadi Lulusan Terbaik dan Sarjana Pertama di Keluarganya

Modal Nekat dan Sisa Tabungan, Akhmad Wafi Kini Jadi Lulusan Terbaik dan Sarjana Pertama di Keluarganya
images info

Modal Nekat dan Sisa Tabungan, Akhmad Wafi Kini Jadi Lulusan Terbaik dan Sarjana Pertama di Keluarganya


Perjalanannya bisa dibilang tidak mudah. Ia menduduki bangku kuliah hanya dengan modal nekat dan sisa tabungan dari masa nyantri di pesantren. Uang itu ia hitung berulang kali dan hanya mampu membayar Uang Kuliah Tunggal (UKT) selama enam hingga tujuh semester.

UKT adalah sistem biaya kuliah di perguruan tinggi negeri yang dibayarkan per semester. Besarannya disesuaikan dengan kemampuan ekonomi mahasiswa. Artinya, meski ada skema keringanan, biaya hidup tetap jadi persoalan utama.

Dari situlah, Wafi memutuskan untuk menjadi marbot masjid. Bukan sekadar membantu aktivitas ibadah, tetapi juga menjadikannya strategi bertahan hidup.

Akhmad Wafi mengabdi sebagai marbot atau kaum masjid di Markas Detasemen Polisi Militer VI/2 Banjarmasin. Dari sana, ia mendapatkan tempat tinggal dan uang saku bulanan.

baca juga

Memang, bagi mahasiswa perantauan, tempat tinggal adalah hal krusial. Sebagaimana kebutuhan primer manusia, pemenuhan papan dan pangan adalah hal utama. Banyak mahasiswa dari keluarga terbatas harus memutar otak, bukan hanya soal akademik, tapi juga logistik hidup sehari-hari.

Wafi pernah berada ada di posisi itu. Otaknya berkutat pada makan, tempat tidur, dan biaya kuliah yang terus berjalan.

Hingga akhirnya, ia memberanikan diri mengikuti seleksi KIP Kuliah di semester pertama. Program bantuan pendidikan dari pemerintah ini ditujukan bagi mahasiswa berprestasi dari keluarga kurang mampu. KIP Kuliah tidak hanya menanggung biaya kuliah, tetapi juga memberikan bantuan biaya hidup.

 “Poin yang ingin saya sampaikan adalah setiap tekad dan kemauan selalu ada jalannya,” katanya.

“Suatu proses dan usaha, apabila disertai niat yang lurus dan kesungguhan, akan senantiasa menemukan jalan keluar serta berbuah manis,” imbuhnya.

baca juga

Bukan Sekadar Lulus, tapi Unggul

Wafi tidak hanya lulus bertahan ujian hidup saat kuliah, tapi ia juga melesat. Ia akhirnya mengikuti wisuda tahun ini.

Sebagai mahasiswa Program Studi Hukum Keluarga Islam Fakultas Syariah, ia berhasil meraih IPK 3,90 dengan predikat pujian. Ia juga ditetapkan sebagai salah satu dari lima wisudawan terbaik tingkat universitas melalui SK Rektor UIN Antasari Nomor 238 Tahun 2026.

IPK atau Indeks Prestasi Kumulatif adalah ukuran rata-rata nilai mahasiswa selama kuliah. Skala maksimalnya 4,00. Artinya, capaian Wafi hampir sempurna.

Menariknya lagi, Wafi membawa identitas sebagai sarjana pertama di keluarganya.

Capaian ini bukan hanya kebanggaan, tapi juga menjadi harapan menuju perubahan arah hidup generasi berikutnya.

Untuk itu, ia menekankan bahwa ilmu harus digunakan. Bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk keluarga dan masyarakat.

“Gelar di ujung nama kita bukan untuk menjadi media menyombongkan diri, tetapi gelar tersebut adalah tanggung jawab baru yang akan melekat pada diri kita di mana pun berada,” tegasnya.

Sebagai informasi, UIN Antasari Banjarmasin menggelar Wisuda Sarjana ke-89 serta Wisuda Magister dan Doktor ke-59 UIN di Gedung Serbaguna Kampus 2 Banjarbaru pada Sabtu (25/04/2026).

Sebanyak 539 lulusan dikukuhkan, terdiri dari 232 laki-laki dan 307 perempuan, dari jenjang S-1 hingga S-3.

baca juga

 

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Aslamatur Rizqiyah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Aslamatur Rizqiyah.

AR
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.