ia tidak mewariskan gedung atau kekayaan tetapi tujuh al quran raksasa untuk indonesia - News | Good News From Indonesia 2026

Abdul Karim Tidak Mewariskan Gedung atau Kekayaan, tetapi 7 Al-Qur’an Raksasa untuk Indonesia

Abdul Karim Tidak Mewariskan Gedung atau Kekayaan, tetapi 7 Al-Qur’an Raksasa untuk Indonesia
images info

Ia Tidak Mewariskan Gedung atau Kekayaan, Tetapi Tujuh Al-Qur’an Raksasa untuk Indonesia | Foto: Pexels


Ada orang yang dikenang karena jabatannya. Ada yang diingat karena hartanya. Namun ada pula yang memilih jalan yang lebih sunyi: menulis warisan yang akan terus dibaca bahkan setelah dirinya tiada.

Di sebuah rumah sederhana di Genteng, Banyuwangi, seorang lelaki menghabiskan pagi-paginya dengan sesuatu yang jarang dilakukan orang lain. Ketika sebagian orang memulai hari dengan membuka telepon genggam, ia justru membuka mushaf. Lalu menulis. Satu huruf. Satu ayat. Satu halaman. Begitu berulang selama berbulan-bulan.

Namanya Abdul Karim. Bagi masyarakat Banyuwangi, ia dikenal sebagai penulis Al-Qur'an raksasa yang karya-karyanya tersebar di berbagai tempat ibadah dan lembaga pendidikan.

Namun di balik ukuran mushaf yang luar biasa besar itu, tersimpan kisah tentang ketaatan kepada guru, ketekunan yang nyaris tak masuk akal, dan keinginan sederhana untuk menjadi manusia yang bermanfaat.

Ketika Gus Dur Membuka Jalan Takdir

Salah satu kisah yang paling membekas dalam perjalanan hidup Abdul Karim terjadi pada 1998.

Saat itu, Presiden keempat Republik Indonesia, Gus Dur, menghadiri sebuah acara yang juga dihadiri KH Zarkasyi, guru Abdul Karim. Ketika diminta menandatangani prasasti, Gus Dur mengaku kesulitan membuat tanda tangan berukuran besar karena kondisi penglihatannya yang menurun.

KH Zarkasyi kemudian memanggil muridnya: Abdul Karim. Dengan segera muridnya ini berhadapan dengan Gus Dur. Gus Dur lantas melihat ke arah Abdul Karim.

"Sampean santrine Kyai Zarkasyi?" tanya Gus Dur.

"Enggeh, Yai," jawabnya sambil menundukkan kepala.

Ia lalu diminta menuliskan tanda tangan Gus Dur dalam ukuran besar. Dengan teliti ia mengamati setiap lekukan tanda tangan tersebut hingga berhasil menirunya hampir sempurna.

Peristiwa itu mungkin terlihat sederhana. Namun dari sana terlihat satu hal yang kelak menjadi ciri khas hidup Abdul Karim: kemampuannya menulis dengan presisi sekaligus kesediaannya menjalankan amanah tanpa banyak bertanya.

baca juga

Perintah Guru yang Mengubah Hidup

Beberapa waktu kemudian, KH Zarkasyi menyampaikan sebuah amanah yang tidak biasa, "Rim, kaligrafimu apik. Gaweyo paku bumi ping pitu."

Buatlah tujuh paku bumi. Itu yang menjadi poin penting dari ungkapan gurunya. Apa sebenarnya tujuh paku bumi itu?

Yang dimaksud sang guru bukanlah paku dalam arti sebenarnya, melainkan tujuh mushaf Al-Qur'an yang ditulis tangan. Bagi tradisi pesantren, menulis Al-Qur'an merupakan bentuk tirakat sekaligus ikhtiar menjaga kemurnian Kalamullah. Ada sebuah keistimewaan tersendiri jika mushaf itu ditulis dengan tangan.

Abdul Karim tidak menolak. Sebagaimana santri kepada gurunya, ia menerima amanah itu sebagai jalan hidup.

Bertahun-tahun kemudian, perintah tersebut benar-benar terwujud. Tujuh mushaf Al-Qur'an raksasa berhasil ia selesaikan.

Menulis Al-Qur'an sebagai Jalan Panjang

Bagi Abdul Karim, menulis Al-Qur'an bukan sekadar pekerjaan kaligrafi. Ia menyebut ada tiga alasan utama mengapa terus melakukannya.

Pertama, karena menjalankan amanah guru. Kedua, karena ingin meninggalkan sesuatu yang bermanfaat.

"Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya," kenangnya mengutip hadist yang menjadi pegangan hidupnya.

Ketiga, karena menulis Al-Qur'an adalah hobinya sekaligus obat bagi hati. Setiap selesai menulis satu lembar, ia tidak langsung berpindah ke halaman berikutnya. Ia membaca kembali ayat yang ditulis, memeriksa maknanya, lalu merenungkan pesan yang terkandung di dalamnya.

Mungkin karena itulah setiap mushaf yang lahir dari tangannya terasa lebih dari sekadar karya seni. Ia adalah hasil dialog panjang antara seorang hamba dan kitab sucinya.

baca juga

Tujuh Mushaf, Tujuh Jejak Kehidupan

Mushaf pertama selesai pada 1998 dan ditempatkan di Masjid Jami' Baiturrahman Genteng. Penulisannya memakan waktu 10 bulan. Ukurannya 60 kali 80 cm.

Lalu datang mushaf kedua pada 2003 yang kini berada di Pondok Pesantren Bustanul Makmur 1 Genteng. Kali ini lebih besar dari sebelumnya. Lebarnya 80 cm. Panjangnya 115 cm. Namun, memakan waktu 11 bulan dalam penulisannya.

Tahun 2010 menjadi salah satu momen penting dalam perjalanan Abdul Karim. Ia berhasil menyelesaikan mushaf ketiga yang berukuran sekitar 2 meter x 1,5 meter dan ditempatkan di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi. Prosesnya lebih cepat dari sebelumnya yaitu 9 bulan.

Media nasional seperti ANTARA dan Detik mencatat bahwa Al-Qur'an raksasa tersebut ditulis tangan oleh Abdul Karim dan hingga kini masih digunakan untuk tradisi tadarus setiap Ramadan di Masjid Agung Baiturrahman Banyuwangi. Ukurannya yang mencapai sekitar 142 x 210 sentimeter membuat setiap lembar harus dibalik oleh dua orang petugas.

Mushaf keempat selesai pada 2014 sebagai koleksi pribadi. Mushaf kelima lahir pada 2020 atas permintaan seorang warga Glenmore bernama Mat Hasan. Kedua mushaf ini ukurannya sama yakni 40 x 60 cm. Prosesnya juga sama-sama memakan waktu 8 bulan.

Saat mushaf itu baru mencapai juz ke-22, istri Mat Hasan yang sebelumnya bertahun-tahun belum dikaruniai anak akhirnya hamil. Bagi Abdul Karim, itu tanda sebuah anugerah mukjizat yang nyata.

Perjalanan berlanjut pada 2022 ketika SMAN 1 Genteng—sekolah tempat ia mengajar selama tiga dekade—memintanya membuat mushaf raksasa untuk institusi tersebut. Prosesnya paling cepat dari semua mushaf yang pernah ia tulis yakni 7 bulan. Ukurannya padahal mencapai 80 x 115 cm. Pada 2024, mushaf ketujuh akhirnya selesai. Diletakkan di Mushala Al-Ikhlas, tak jauh dari rumahnya.

Lengkap sudah amanah gurunya. Tujuh paku bumi. Tujuh mushaf. Tujuh jejak pengabdian.

baca juga

Menulis dalam Keadaan Suci

Ada satu hal yang tidak pernah berubah dalam proses menulisnya.

Kesucian. Setiap kali wudunya batal, ia akan berhenti. Berwudhu lagi. Lalu melanjutkan menulis. Begitu terus selama berbulan-bulan.

Menurut laporan Jawa Pos Radar Banyuwangi, Abdul Karim memang dikenal sebagai sosok yang menghabiskan masa pensiunnya untuk dunia kaligrafi dan penulisan mushaf. Ia juga merupakan pensiunan guru Pendidikan Agama Islam di SMAN 1 Genteng yang tetap aktif mengajar dan berkarya setelah pensiun.

Biasanya ia mulai menulis sekitar pukul tiga pagi. Saat kebanyakan orang masih terlelap. Mungkin karena beberapa karya besar memang lahir dari jam-jam yang sunyi.

Pesan untuk Generasi yang Mulai Menjauh dari Al-Qur'an

Ada kegelisahan yang terus dibawa Abdul Karim hingga hari ini.

Ia pernah menemukan murid SMA yang mampu memahami tafsir Al-Qur'an dengan baik. Namun, di sisi lain, ada pula yang bahkan belum lancar membaca Al-Fatihah.

Baginya, ini bukan sekadar persoalan kemampuan membaca. Ini soal hubungan generasi muda dengan sumber utama ajaran Islam.

Karena itu ia selalu menekankan pentingnya belajar Al-Qur'an kepada guru, membiasakan diri membaca, mengamalkan isi kandungannya, menghafal, menulis, dan menghormatinya.

Pesan yang sederhana. Namun, terasa semakin relevan di era ketika perhatian manusia sering kali habis untuk layar yang terus menyala.

Tentang Warisan yang Tak Akan Habis Dibaca

Kita hidup di zaman ketika banyak orang berlomba meninggalkan jejak digital. Mengumpulkan pengikut. Mengejar popularitas. Mengabadikan diri dalam berbagai bentuk. Karim memilih jalan berbeda.

Ia tidak membangun gedung megah. Tidak mendirikan perusahaan besar. Tidak pula menjadi tokoh nasional yang wajahnya sering muncul di televisi.

Ia hanya menulis. Lembar demi lembar. Ayat demi ayat. Tahun demi tahun. Namun justru karena itu namanya akan terus hidup. Setiap kali mushaf-mushaf raksasa itu dibuka. Setiap kali ayat-ayat yang ia tulis dibaca. Dan setiap kali generasi baru bertanya, Siapa yang menulis Al-Qur'an sebesar ini?

Maka kisah tentang seorang guru dari Genteng akan kembali diceritakan. Mungkin benar kata Abdul Karim. Manusia tidak harus hidup selamanya untuk dikenang. Kadang, cukup meninggalkan sesuatu yang terus memberi manfaat bahkan setelah dirinya pulang.

Cek berita, artikel, dan konten yang lain di Google News

Artikel ini dibuat oleh Kawan GNFI dengan mematuhi aturan menulis di GNFI. Isi artikel ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan.

AM
KG
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.