Sangihe Bersih Berkelanjutan menjadi program inspiratif strategis, hasil kolaborasiย dari Trash Ranger, PT SMI, Yayasan Potensi Indonesia Jaya, dan PT LTI di Gedung Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Sulawesi Utara, Manado.
Program ini diharapkan bisa menjadi titik balik bagi masa depan pengelolaan sampah di Sangihe.
Kepulauan Sangihe, yang terdiri dari 26 pulau yang dihuni, menyimpan keindahan alam yang sangat menakjubkan. Namun, di balik keindahannya, ada tantangan logistik yang cukup berat.
Setiap hari, penduduk menghasilkan sekitar 50 ton sampah. Sementara itu, transportasi yang ada belum mampu mencakup seluruh wilayah, terutama daerah yang tidak berada di kota. Akibatnya, tumpukan limbah sering ditemui, dan cara membakar sampah menjadi cara yang sering dipilih.
Inisiatif ini fokus pada 6 unit kendaraan sampah roda tiga. Bagi beberapa orang, kendaraan ini mungkin terlihat biasa saja. Namun, bagi warga Sangihe, keenam unit ini adalah โpahlawan baruโ yang akan melewati jalan-jalan sempit dan masuk ke daerah terpencil desa.
Enam kendaraan ini tidak ditempatkan sembarangan. Pemerintah dan mitra telah menentukan area yang paling membutuhkan. Tiga kecamatan, yaitu Tahuna Timur, Tahuna Induk, dan Tahuna Barat bersama enam desa atau kelurahan, akan melihat bagaimana roda tiga ini bekerja setiap hari.
Kehadiran mereka diharapkan mampu meningkatkan frekuensi pengangkutan sampah, menjangkau area yang sebelumnya terabaikan, dan yang paling penting, mengedukasi masyarakat untuk berhenti membakar sampah.
Weldie Ruddy Poli, Kepala Dinas Lingkungan Hidup Daerah Provinsi Sulawesi Utara mengapresiasi kolaborasi luar biasa dari PT SMI, PT LTI, dan Trash Ranger Indonesia.
Bantuan ini bukan sekadar barang fisik, tetapi merupakan pondasi bagi sistem pengelolaan sampah yang terjadwal.
Kalimat "bukan sekadar barang fisik" dengan 6 armada roda tiga ini adalah simbol dari sebuah sistem yang sedang dibangun. Mereka adalah ujung tombak dari rantai pasok kebersihan yang selama ini terputus.
Membangun Sistem, Bukan Sekadar Membagi Barang
Di balik layar, ada sosok Putri Melta Sari, Project Leader Trash Ranger Indonesia, yang menekankan pentingnya pendekatan kolaboratif. "Semangat 'Bersama Bergerak' adalah kunci dari inisiatif ini. Kita tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga meningkatkan kapasitas pengelola lokal dan kesadaran masyarakat," tegasnya.
Trash Ranger Indonesia, bersama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau PT SMI, dan PT Len Telekomunikasi Indonesia (PT LTI), serta Yayasan Potensi Indonesia Jaya, tidak ingin program ini berhenti setelah kunci kendaraan diserahkan akan ada pelatihan teknis bagi pengelola lokal di Sangihe pada 30 Oktober 2026.
Pelatihan ini menjadi krusial untuk mengoperasikan armada di wilayah kepulauan bukanlah perkara mudah.
Medan yang menanjak, cuaca yang tak menentu, dan kebiasaan masyarakat yang masih perlu diubah, menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan pendampingan yang tepat, armada ini diharapkan bisa beroperasi secara optimal dan mandiri.
Menjembatani Program Sangihe Bersih Berkelanjutan
Peluncuran program ini juga menyoroti aspek kesenjangan digital. Data menunjukkan pengguna internet di Sangihe baru mencapai 36,36%. Untuk itu, dalam kesempatan yang sama, adanya penyaluran perangkat internet desa yang berlokasi di Desa Moade, Kecamatan Tabukan Utara.
Langkah ini seperti analogi dua sisi koin yang saling melengkapi. Di satu sisi, 6 armada roda tiga hadir untuk membersihkan lingkungan fisik.
Di sisi lain, internet desa hadir untuk membuka wawasan dan menggerakkan ekonomi digital. Keduanya bermuara pada satu tujuan supaya kesejahteraan masyarakat Sangihe meningkat.
Bagi warga di Tahuna Timur, misalnya, kehadiran armada sampah ini mungkin akan sedikit mengubah rutinitas pagi mereka. Dulu, mungkin mereka terbiasa menimbun sampah di halaman belakang. Kini, ada kendaraan yang siap menjemput dan membawanya ke tempat pengolahan yang lebih layak.
Langkah Awal Menuju Perubahan Besar
Perjalanan menuju Sangihe yang ramah lingkungan dan berkelanjutan masih agak panjang. Pengadaan enam unit roda tiga baru hanyalah langkah pertama. Seperti pepatah, perjalanan seribu mil dimulai dengan satu langkah. Pada hari itu, di Manado, langkah itu sudah dilakukan.
Kerja sama antara pemerintah, BUMN, dan komunitas seperti Trash Ranger Indonesia menunjukkan bahwa perubahan besar butuh kerja bersama. Di masa depan, kita harapkan lebih banyak armada dan program pendukung ikut serta.
Cerita tentang enam armada tri roda ini bukan hanya soal kendaraan. Ini tentang harapan, bagaimana sistem teratur bisa langsung memengaruhi kehidupan masyarakat di pulau-pulau terdepan.
Sangihe yang bersih, sehat, dan berkelanjutan tidak hanya impian di kertas, tapi sudah menjadi kenyataan yang mulai bergerak di atas roda tiga.


