Kementerian Kebudayaan mulai melakukan revitalisasi Benteng Somba Opu di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan. Proyek pemugaran tersebut ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai upaya menjaga salah satu peninggalan bersejarah Kerajaan Gowa.
Revitalisasi ini tidak hanya berfokus pada pemulihan bangunan benteng, tetapi juga diarahkan untuk menghidupkan kembali kawasan tersebut sebagai pusat edukasi, kegiatan kebudayaan, hingga destinasi wisata sejarah.
Benteng Somba Opu memiliki nilai sejarah penting dalam perjalanan bangsa Indonesia, khususnya bagi masyarakat Sulawesi Selatan. Bangunan ini didirikan pada 1525 atas prakarsa Raja Gowa ke-9, Daeng Matanre Karaeng Tumapaโrisiโ Kallonna.
Pada masa kejayaannya, benteng tersebut menjadi pusat pemerintahan, pertahanan, sekaligus perdagangan Kerajaan Gowa. Keberadaannya menjadi bukti perkembangan kekuatan politik dan ekonomi kerajaan tersebut pada masa lampau.
Melalui program revitalisasi, pemerintah ingin memastikan peninggalan bersejarah ini tetap terjaga dan dapat diwariskan kepada generasi berikutnya. Proses pemugaran pun dilakukan dengan memperhatikan keaslian bentuk bangunan, karakteristik material, serta bukti arkeologis yang ditemukan di kawasan tersebut.
Menteri Kebudayaan Fadli Zon mengatakan, pelestarian situs bersejarah harus dipandang sebagai investasi jangka panjang yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Menurutnya, warisan budaya tidak cukup hanya dilindungi, tetapi juga perlu dimanfaatkan secara berkelanjutan.
โRevitalisasi ini merupakan investasi, bukan sekadar cost center. Hal ini sejalan dengan amanat Pasal 32 ayat (1) Undang Undang Dasar 1945, yang menegaskan bahwa negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia. Karena itu, aset budaya bersejarah seperti Benteng Somba Opu harus kita rawat dan manfaatkan dengan sebaik-baiknya,โ ungkap Menbud Fadli dalam sambutannya.
Pemugaran Benteng Somba Opu Libatkan Puluhan Pekerja dan Perajin Tradisional
Dalam pelaksanaannya, revitalisasi Benteng Somba Opu dikerjakan Kementerian Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan. Fokus pekerjaan berada pada dinding selatan benteng dan Bastion Maccini Sombala.
Berdasarkan hasil studi teknis, keseluruhan segmen struktur yang dikaji memiliki panjang sekitar 638,91 meter. Dari jumlah tersebut, pemugaran direncanakan mencakup empat segmen dengan total panjang mencapai 567,24 meter. Pekerjaan akan dilakukan secara bertahap berdasarkan kajian teknis dan prinsip pelestarian cagar budaya.
Khusus pada 2026, pemugaran dinding benteng ditargetkan mencapai panjang 101 meter. Pekerjaan tersebut melibatkan sekitar 50 tenaga kerja dengan kebutuhan kurang lebih 70.000 batu bata.
Sementara itu, penanganan Bastion Maccini Sombala direncanakan melibatkan 30 tenaga kerja dan membutuhkan sekitar 40.000 batu bata.
Menariknya, material yang digunakan tidak sembarangan. Batu bata untuk pemugaran dibuat oleh perajin tradisional dari Kabupaten Takalar agar karakteristiknya sesuai dengan konstruksi asli benteng.
Ukuran batu bata yang digunakan rata-rata memiliki panjang 24 sentimeter, lebar 14 sentimeter, dan ketebalan 4 sentimeter. Pemilihan material tersebut menjadi bagian penting untuk mempertahankan karakter bangunan bersejarah.
Adapun tahapan pekerjaan meliputi pendokumentasian kondisi awal, pembersihan area, penggalian dasar, penguatan struktur, pemasangan batu kosong, pengisian pasir urug, hingga pengecoran lantai kerja.
Selanjutnya, dilakukan pemasangan bata pengikat dan bata khusus pada bagian luar dinding benteng. Seluruh proses melibatkan arkeolog, tenaga ahli pemugaran, konservator, tenaga teknis, tim dokumentasi, serta tenaga pendukung lainnya.
Pemerintah menargetkan seluruh pekerjaan revitalisasi dapat berlangsung hingga Desember 2026.
Fadli Zon Ingin Benteng Somba Opu Jadi Destinasi Wisata Unggulan
Selain mengembalikan kondisi fisik bangunan, pemerintah juga memiliki rencana lebih luas untuk mengembangkan kawasan Benteng Somba Opu. Penataan lingkungan diharapkan dapat membuat kawasan tersebut menjadi ruang publik yang aktif dengan berbagai kegiatan kebudayaan.
Fadli Zon menilai pemulihan benteng harus diarahkan pada pengembalian bentuk dan fungsi aslinya tanpa menghilangkan nilai sejarah yang melekat. Dengan penataan yang tepat, kawasan tersebut dinilai memiliki potensi untuk menjadi salah satu tujuan wisata unggulan di Sulawesi Selatan.
โKita berharap Benteng Somba Opu dapat dipulihkan sesuai dengan bentuk dan fungsi aslinya. Setelah tertata dengan baik, kawasan ini berpotensi menjadi destinasi unggulan yang menghadirkan pengalaman wisata sejarah, wisata budaya, edukasi, hingga kuliner bagi masyarakat dan pengunjung,โ jelas Menbud.
Tidak hanya menjadi tempat wisata, Benteng Somba Opu juga diharapkan dapat berkembang sebagai ruang penyelenggaraan berbagai aktivitas budaya. Mulai dari konser musik, jambore budaya, hingga kegiatan edukasi yang melibatkan masyarakat dan komunitas lokal.
Menurut Fadli, keberhasilan pelestarian warisan budaya membutuhkan keterlibatan banyak pihak. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta berbagai pemangku kepentingan perlu bekerja sama agar pengembangan kawasan dapat berjalan secara berkelanjutan.
โPemajuan kebudayaan membutuhkan kerja sama dan kolaborasi berbagai pihak. Kita berharap kawasan ini tidak hanya terawat, tetapi juga dapat menjadi ruang kegiatan budaya, seperti konser musik hingga jambore budaya, serta membuka peluang ekonomi bagi masyarakat sekitar. Dengan begitu, pelestarian warisan budaya dapat berjalan bersama dengan pemanfaatan yang berkelanjutan,โ tambah Menbud.
Dalam kegiatan tersebut turut hadir Gubernur Sulawesi Selatan Andi Sudirman Sulaiman dan Plt. Bupati Gowa Darmawangsyah Muin beserta jajaran pemerintah daerah.
Sejumlah pejabat Kementerian Kebudayaan juga mendampingi Fadli Zon, di antaranya Direktur Jenderal Pelindungan Kebudayaan dan Tradisi Restu Gunawan, Direktur Jenderal Pengembangan, Pemanfaatan, dan Pembinaan Kebudayaan Ahmad Mahendra, serta Kepala Balai Pelestarian Kebudayaan Sulawesi Selatan Sinatriyo Danuhadiningrat.
Melalui revitalisasi ini, Kementerian Kebudayaan berharap Benteng Somba Opu tidak hanya kembali terawat sebagai situs bersejarah, tetapi juga menjadi kawasan yang hidup dan memberikan manfaat bagi masyarakat.
Upaya tersebut sekaligus menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam memperkuat pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan warisan budaya Indonesia agar tetap lestari serta memiliki nilai ekonomi dan edukasi bagi generasi mendatang.


