ย
Di pusat Kota Banyuwangi, di kawasan yang dulunya dirancang sebagai "macapat" atau sistem tata kota tradisional Jawa, berdiri Pendopo Sabha Swagata Blambangan.
Bangunan yang berada di Jalan Sritanjung, Kelurahan Temenggungan, ini sudah ada sejak 1771, berfungsi sebagai kediaman resmi bupati sejak era pemerintahan Mas Alit alias Tumenggung Wiroguno I, penguasa terakhir Kerajaan Blambangan sekaligus bupati pertama Banyuwangi. Usianya sudah melampaui 250 tahun, dan yang istimewa adalah ia terbuka untuk umum, bahkan 24 jam penuh.
Pendopo iniย masih aktif sebagai kantor dan kediaman resmi bupati, sekaligus ruang publik yang digunakan warga untuk berbagai kegiatan masyarakat.ย Keputusan untuk membuka pendopo ini kepada masyarakat umum diambil sejak era Bupati Abdullah Azwar Anas pada 2012, bersamaan dengan revitalisasi kawasan yang mengadopsi konsep green building rancangan arsitek Adi Purnomo.
Dalam kawasan macapat di Taman Sritanjung, pendopo ini menempati posisi utara lapangan sebagai pusat pemerintahan, dengan Masjid Jami di barat, dan Pasar Banyuwangi di selatan, sebuah tata ruang yang sudah ada sejak abad ke-18 dan sebagian besar masih bisa dibaca hingga hari ini.
ย
Sekilas Mengenai Pendopo Sabha Swagata Blambangan
Sejarah bangunan ini dimulai ketika Banyuwangi resmi menjadi sebuah kabupaten pada 1771. Mas Alit, penguasa terakhir Kerajaan Blambangan yang diangkat menjadi bupati pertama oleh pemerintah Hindia Belanda, menjadikan kompleks ini sebagai pusat pemerintahan dan kediamannya.
Nama "Sabha Swagata" berasal dari bahasa Sanskerta: sabha berarti pertemuan atau dewan, dan swagata berarti selamat datang. Nama itu mencerminkan fungsi asli pendopo sebagai ruang pertemuan terbuka, tempat bupati menerima dan berinteraksi langsung dengan rakyatnya.
Bangunan ini telah mengalami beberapa kali renovasi sepanjang sejarahnya. Yang paling signifikan adalah renovasi 2012 yang selesai pada 2013. Renovasi itu sengaja tidak mengubah elemen-elemen asli, yaitu empat tiang sokoguru dari kayu yang menopang atap joglo tetap dipertahankan, lantai ubin abu-abu model lama dikembalikan ke kondisi aslinya setelah sempat diganti granit, dan pagar halaman direndahkan untuk menciptakan kesan terbuka. Konsep green building yang diterapkan juga memaksimalkan pencahayaan dan sirkulasi udara alami.
Di belakang pendopo utama terdapat rumah dinas bupati bergaya art deco, perpaduan kubisme, futurisme, dan konstruktivisme yang populer di Eropa pada 1920-1930-an, namun dengan denah yang menunjukkan pengaruh Indische Empire Style, sebuah campuran yang mengisyaratkan bahwa bangunan ini pernah mengalami perubahan bentuk dari masa aslinya.
ย
Daya Tarik Utama Pendopo Sabha Swagata Blambangan
Sumur Sritanjung di ujung timur halaman belakang adalah titik yang paling banyak dicari pengunjung. Sumur ini terhubung dengan legenda asal-usul nama Banyuwangi, kisah tentang Sritanjung, istri Patih Sidopekso, yang difitnah Raja Sulahkromo. Ketika Sidopekso membunuh istrinya di tepi sumber air, jasad Sritanjung justru mengeluarkan aroma wangi yang membuktikan kesuciannya.
Dari peristiwa itulah lahir nama Banyuwangi, dari kata banyu (air) dan wangi (harum). Air sumur ini dipercaya sebagian orang bisa membuat awet muda, dan konon mengeluarkan aroma wangi pada malam-malam tertentu.
Di sisi lain kompleks, terdapat guest house yang dirancang menyerupai bungker bawah tanah dengan konstruksi tradisional, salah satu elemen paling tidak terduga dalam kawasan ini. Taman luas dengan rumput yang rapi menjadi bagian yang membuat pendopo terasa nyaman untuk dijelajahi santai.
Di dalam pendopo utama, struktur joglo asli dengan empat sokoguru kayu yang tinggi masih berdiri di tengah ruangan terbuka. Koleksi lukisan bersejarah tentang Banyuwangi juga terpajang di beberapa sudut, menjadikan kunjungan ke sini punya nilai informatif yang lebih dari sekadar melihat bangunan tua.
ย
Akses Menuju Pendopo Sabha Swagata Blambangan
Pendopo Sabha Swagata Blambangan terletak di Jalan Sritanjung, Kelurahan Temenggungan, Kota Banyuwangi, tepat di kawasan Taman Sritanjung yang merupakan pusat kota.
Dari Stasiun Tugu Banyuwangi, jaraknya sekitar 15 hingga 20 menit berjalan kaki, atau beberapa menit menggunakan becak atau ojek. Dari Pelabuhan Ketapang yang menjadi pintu masuk dari Bali, waktu tempuh ke pusat kota sekitar 20 menit berkendara.
Lokasinya sangat mudah ditemukan karena berada di kawasan yang sama dengan Taman Sritanjung yang sudah dikenal sebagai pusat kota Banyuwangi. Taksi online beroperasi di Banyuwangi dan bisa digunakan untuk perjalanan langsung ke lokasi.
ย
Jam Operasional dan Harga Tiket
Pendopo Sabha Swagata Blambangan terbuka untuk umum padaSenin-Jumat di jam 08.00 - 15.30. Tidak ada tiket masuk bila ingin berkunjung ke sini.
Waktu terbaik berkunjung adalah pagi hingga sore hari agar bisa menjelajahi seluruh area dengan kondisi cahaya yang baik dan suasana yang lebih hidup. Pengunjung diharapkan bersikap hormat terhadap kegiatan resmi pemerintahan yang mungkin berlangsung di kawasan ini.
Pendopo Sabha Swagata Blambangan cocok untuk Kawan GNFI yang sedang menjelajahi Banyuwangi dan ingin mengenal kota ini dari sisi sejarah dan arsitekturnya. Gabungkan kunjungan ini dengan Taman Sritanjung yang berada tepat di depannya, dan luangkan waktu untuk mencari Sumur Sritanjung di halaman belakang.
Selamat berkunjung ya Kawan!


