kearifan lokal menjaga hutan indonesia pengetahuan adat yang perlu diwariskan - News | Good News From Indonesia 2026

Kearifan Lokal Menjaga Hutan Indonesia, Pengetahuan Adat yang Perlu Diwariskan

Kearifan Lokal Menjaga Hutan Indonesia, Pengetahuan Adat yang Perlu Diwariskan
images info

Masyarakat Adat


Hutan Indonesia menyimpan kekayaan hayati sekaligus pengetahuan masyarakat yang telah diwariskan lintas generasi. Hutan tidak hanya menyediakan kayu, pangan, dan tumbuhan obat, tetapi juga menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sekitarnya.

Pengetahuan tentang jenis tumbuhan, cara memanfaatkan hasil hutan, hingga aturan adat dalam mengelola sumber daya alam dapat membantu menjaga keseimbangan ekosistem. Di tengah kerusakan hutan dan alih fungsi lahan, kearifan lokal perlu mendapat tempat dalam upaya konservasi bersama ilmu pengetahuan modern.

Kepala Pusat Riset Ekologi Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Asep Hidayat, menekankan pentingnya menghubungkan pengetahuan masyarakat dengan riset ilmiah. Dalam Webinar Professor Talk-5 bertema β€œBerbagi Pengalaman Perjalanan Panjang Pengembangan Etnobiologi dan Cagar Biosfer di Indonesia” pada Jumat (16/10), ia menyampaikan, β€œEtnobiologi harus menjadi jembatan antara pengetahuan lokal dan ilmu pengetahuan modern untuk mendukung konservasi keanekaragaman hayati.”

Pengetahuan Lokal sebagai Bagian dari Konservasi

Kearifan lokal dapat ditemukan dalam berbagai cara masyarakat berinteraksi dengan lingkungan, mulai dari menentukan waktu pemanfaatan sumber daya alam hingga menerapkan aturan adat untuk melindungi kawasan tertentu. Pengetahuan yang terbentuk melalui pengalaman panjang ini membantu masyarakat mengenali karakter lingkungan tempat mereka tinggal. Praktik tersebut juga memperlihatkan bahwa pengelolaan alam berkaitan erat dengan kebutuhan hidup, nilai budaya, dan keberlanjutan sumber daya.

baca juga

Peneliti Ahli Utama Pusat Riset Ekologi BRIN, Prof. Y. Purwanto, menjelaskan bahwa hubungan manusia dengan keanekaragaman hayati dipelajari melalui etnobiologi. Bidang ini mengkaji cara masyarakat mengenali, memanfaatkan, mengelola, dan mewariskan pengetahuan mengenai sumber daya alam dalam konteks sosial serta budaya.

Purwanto mencontohkan penelitiannya di Wamena, Papua, pada 1990, ketika mempelajari sistem pertanian tradisional masyarakat Dani. Praktik budidaya ubi jalar menunjukkan bagaimana pengetahuan lokal berkembang sesuai dengan kondisi lingkungan. Ia menjelaskan, β€œPraktik budidaya ubi jalar menunjukkan bahwa sistem pertanian masyarakat tidak sekadar berkaitan dengan produksi pangan, tetapi juga mencerminkan pengetahuan dan kemampuan beradaptasi dengan lingkungan setempat.”

Meski demikian, pengetahuan lokal menghadapi tantangan akibat perubahan sosial, modernisasi, berkurangnya praktik tradisional, serta hilangnya habitat. Jika tidak diwariskan, pengetahuan yang dikembangkan selama beberapa generasi berisiko terputus. Karena itu, dokumentasi dan penelitian diperlukan dengan tetap menghormati hak masyarakat, sensitivitas budaya, serta memastikan pembagian manfaat yang adil.

Cagar Biosfer Menghubungkan Hutan dan Masyarakat

Salah satu pendekatan yang mengintegrasikan konservasi dengan kehidupan masyarakat adalah cagar biosfer dalam program Man and the Biosphere (MAB) UNESCO. Kawasan ini menghubungkan perlindungan keanekaragaman hayati dengan pembangunan sosial ekonomi berkelanjutan, penelitian, pendidikan, dan pemantauan lingkungan.

baca juga

Indonesia memiliki 21 cagar biosfer yang diakui dalam jaringan dunia UNESCO. Sejumlah kawasan tersebut mencakup Giam Siak Kecil-Bukit Batu, Betung Kerihun-Danau Sentarum-Kapuas Hulu, Tanjung Puting, dan Gunung Leuser. Kawasan-kawasan ini mewakili beragam ekosistem, termasuk hutan hujan tropis, lahan gambut, pegunungan, dan lahan basah.

Menurut Purwanto, β€œCagar biosfer bukan sekadar kawasan konservasi, melainkan model pengelolaan yang menyelaraskan perlindungan keanekaragaman hayati, pembangunan sosial ekonomi berkelanjutan, serta penelitian, pendidikan, dan pemantauan.”

Riset Modern Perlu Melibatkan Masyarakat

BRIN berperan mendukung konservasi melalui penelitian keanekaragaman hayati, dokumentasi pengetahuan lokal, pengembangan sistem pemantauan, dan penyediaan bukti ilmiah bagi kebijakan pengelolaan kawasan. Teknologi digital serta sistem informasi geospasial dapat membantu memantau perubahan lingkungan, tetapi informasi tersebut perlu dilengkapi pengalaman masyarakat yang memahami kondisi wilayahnya.

Purwanto menegaskan bahwa pengembangan ekonomi berbasis sumber daya hayati, pertanian ramah lingkungan, dan wisata edukasi harus memperhatikan daya dukung ekosistem serta hak masyarakat. Upaya konservasi akan lebih berkelanjutan ketika masyarakat tidak hanya menjadi penerima kebijakan, tetapi turut menentukan cara lingkungan dikelola.

baca juga

Pelestarian hutan, dengan demikian, membutuhkan perpaduan pengetahuan lokal dan penelitian ilmiah. Kearifan masyarakat perlu didokumentasikan dan diwariskan, sementara riset modern dapat membantu mengembangkan praktik yang sesuai dengan kondisi ekosistem.Β 

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Firdarainy Nuril Izzah lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Firdarainy Nuril Izzah.

FN
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

🚫 AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.