museum transmigrasi lampung jejak 155 keluarga dari kedu yang mewarnai wajah sumatra - News | Good News From Indonesia 2026

Museum Transmigrasi Lampung, Jejak 155 Keluarga dari Kedu yang Mewarnai Wajah Sumatra

Museum Transmigrasi Lampung, Jejak 155 Keluarga dari Kedu yang Mewarnai Wajah Sumatra
images info

Dok. Museum Ketransmigrasian Lampung


Pada 1905, pemerintah Hindia Belanda memindahkan 155 kepala keluarga dari Desa Bagelan, Karesidenan Kedu, Jawa Tengah, ke sebuah kawasan di Lampung yang kemudian diberi nama yang sama dengan kampung asal mereka, yakni Bagelan. Peristiwa itu tercatat sebagai transmigrasi pertama dalam sejarah Indonesia dan kawasan tempat para transmigran itu mendarat kini menjadi lokasi satu-satunya museum ketransmigrasian di Indonesia.

Museum Ketransmigrasian terletak di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, Lampung, sekitar 25 km dari Bandar Lampung. Lokasinya bukan kebetulan. Ini memang tanah yang pertama kali diinjak oleh transmigran-transmigran pioner itu. Museum ini berdiri sebagai bukti bahwa apa yang terjadi di sini pada awal abad ke-20 adalah bagian penting dari sejarah perpindahan penduduk di Nusantara.

Jika Kawan pernah bertanya-tanya mengapa begitu banyak nama tempat di Lampung terdengar seperti nama-nama di Jawa, Pringsewu, Kedaton, Sumber Rejo, Gunung Sugih, jawabannya ada di museum ini.

Sekilas Mengenai Museum Ketransmigrasian

Program transmigrasi yang dicanangkan Belanda berangkat dari kekhawatiran tentang kepadatan penduduk di Jawa, sementara lahan di Sumatera masih sangat luas dan potensial untuk perkebunan.

Pengiriman 155 KK dari Kedu ke Lampung pada 1905 menjadi percobaan pertama yang kemudian dianggap berhasil dan terus dikembangkan oleh pemerintah Indonesia pascakemerdekaan.

Program transmigrasi Indonesia dilanjutkan dengan pengiriman 23 KK dari Kedu, 2 KK ke Sukadana Lampung Timur dan 21 KK ke Lubuk Linggau Sumatera Selatan, pada 12 Desember 1950. Tanggal itu kini diperingati sebagai Hari Bhakti Transmigrasi Indonesia.

Nama desa asal para transmigran pertama, Bagelan, sengaja dipertahankan sebagai nama kawasan permukiman baru mereka di Lampung. Keputusan itu bukan hal kecil. Ia mencerminkan kebutuhan manusia untuk membawa sepotong kampung halaman ke tempat yang baru.

Museum ini adalah satu-satunya dalam kategorinya di Indonesia. Fasad gedungnya memadukan siger, mahkota pengantin wanita Lampung, dengan pintu kayu berukiran khas Jawa.

Daya Tarik Utama Museum Ketransmigrasian

Di lantai pertama, pengunjung disambut oleh dua patung kerbau lengkap dengan peralatan pembajak di tengkuknya, penanda langsung tentang profesi para transmigran pertama yang datang untuk membuka hutan dan mengolah lahan.

Di sisi kanannya, seperangkat gamelan Jawa terpajang sebagai representasi budaya yang dibawa serta dalam perjalanan panjang menyeberangi selat.

Koleksi peralatan pertanian cukup lengkap, mulai dari pacul, parang, dan pisau tradisional yang digunakan para transmigran dalam mengolah lahan baru. Di antara koleksi yang paling menarik perhatian adalah peralatan dapur dan makan dari keramik yang kondisinya masih sangat baik, serta perlengkapan memasak dari tembaga dan tanah liat yang membawa nuansa khas Jawa.

Di lantai dua, sebuah sepeda tua bernama sepeda kumbang terpajang sebagai representasi alat transportasi yang tergolong mewah pada masa itu. Di bagian belakang museum, halaman luas menyimpan sebuah bola besi besar yang dulunya digunakan untuk merubuhkan pohon-pohon dalam proses pembukaan hutan.

Beberapa anjungan daerah juga berdiri di area halaman belakang, biasa digunakan untuk berbagai kegiatan budaya dan festival. Museum ini juga dilengkapi ruang pemutaran film dokumenter tentang sejarah ketransmigrasian dan area camping yang kerap digunakan oleh Gerakan Pramuka untuk kemah akhir pekan.

ย 

Akses Menuju Museum Ketransmigrasian

Museum Ketransmigrasian berlokasi di Desa Bagelen, Kecamatan Gedong Tataan, Kabupaten Pesawaran, sekitar 25 km dari Bandar Lampung ke arah Kota Agung. Dari Bandar Lampung, perjalanan menggunakan kendaraan pribadi membutuhkan waktu sekitar 45 menit hingga satu jam tergantung kondisi lalu lintas.

Rute yang paling umum digunakan adalah melalui Jalan Raya Gedong Tataan. Museum berada di sisi jalan menuju Kota Agung sehingga mudah ditemukan, dan papan penunjuk arah tersedia di titik-titik tertentu menjelang lokasi. Tidak ada angkutan umum yang langsung ke lokasi, sehingga kendaraan pribadi atau sewa adalah pilihan paling praktis.

ย 

Jam Operasional dan Harga Tiket

Museum Ketransmigrasian buka Senin hingga Kamis pukul 08.30 hingga 14.00 WIB, dan Jumat pukul 08.30 hingga 14.30 WIB. Kunjungan di Sabtu dan Minggu perlu melalui perjanjian terlebih dahulu dengan menghubungi museum. Museum tutup pada hari besar nasional.

Tiket masuk sangat terjangkau, Rp1.000 untuk pelajar dan Rp2.000 untuk umum. Fasilitas yang tersedia meliputi area parkir, ruang pamer dua lantai, ruang pemutaran film dokumenter, gedung serbaguna, anjungan daerah, dan area camping.

Museum Ketransmigrasian cocok untuk Kawan GNFI yang ingin memahami bagaimana perpindahan penduduk besar-besaran di abad ke-20 turut membentuk wajah Lampung seperti yang dikenal hari ini.ย Selamat berkunjung!

Jika Anda tertarik untuk membaca tulisan Muhammad Fazer Mileneo lainnya, silakan klik tautan ini arsip artikel Muhammad Fazer Mileneo.

MF
Tim Editorarrow

Terima kasih telah membaca sampai di sini

๐Ÿšซ AdBlock Detected!
Please disable it to support our free content.